Bersatu Melawan Intoleransi dan Radikalisme

Sabtu, 29/01/2022 - 18:50
ilustrasi
ilustrasi

Oleh : Arif Rahman )*

Intoleransi dan radikalisme adalah 2 hal berbahaya yang bisa merusak Indonesia. Oleh karena itu seluruh elemen masyarakat harus bersatu guna menangkal penyebaran paham tersebut yang dapat menciptakan perpecahan di Indonesia.

Pernahkah Anda mendengar kasus intoleransi? Sedihnya pasca era reformasi dimulai, intoleransi malah meningkat di Indonesia. Padahal kita adalah bangsa yang majemuk dan seharusnya semua orang saling toleran dan menghargai perbedaan. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Keadaan ini makin parah karena radikalisme juga menyebar luas dan bisa berujung terorisme dan pengeboman.

Untuk mencegah intoleransi dan radikalisme maka seluruh rakyat Indonesia harus bersatu dan bergotong-royong. Hal ini dinyatakan oleh anggota DPR RI Evita Nursanty. Wanita yang juga ketua Umum pengurus pusat Keluarga Besar Putra Putri Polri ini meneruskan, gotong royong adalah karakter dan kepribadian rakyat Indonesia. Semangat gotong royong harus dibangun untuk mencapai Indonesia yang damai dan sejahtera.

Dalam artian, memang kita harus bekerja sama dalam melawan intoleransi dan radikalisme karena tidak bisa berjalan sendiri. Jika ada gotong royong maka kedua permasalahan ini bisa diselesaikan dengan baik. Penyebabnya karena jika ada kerja sama maka sebuah masalah akan lekas selesai. Bukankah bersatu kita teguh?

Contohnya ketika ada intoleransi, misalnya jelang hari raya Imlek. Intoleransi bisa dihapus ketika semua memahami bahwa ini adalah hari kebahagiaan bagi masyarakat keturunan Tiongkok, dan semua bekerja sama agar acaranya sukses. Kolaborasi terjadi ketika semua memahami bahwa kita hidup di Indonesia yang masyarakatnya majemuk. Sehingga semuanya saling menghargai, menghormati, dan bertoleransi, tanpa takut akan kehilangan akidah.

Contoh lain adalah ketika ada kasus radikalisme seperti sweeping yang dilakukan oleh kelompok radikal. Masyarakat bisa bekerja sama dengan membantu korban, misalnya saat ada ibu warung yang jadi korban sweeping, maka para tetangga membantu untuk membereskannya. Mereka juga bisa memviralkannya sehingga ada bantuan dari aparat kemananan.

Evita melanjutkan, Keluarga Besar Putra Putri Polri juga kompak dalam bekerja sama untuk mencegah intoleransi dan radikalisme. Dari tingkat bawah sampai atas, semua bergotong royong. Misalnya dengan pelaporan ketika ada tindakan intoleransi dan radikalisme sehingga bisa ditangani oleh pihak berwajib.

Pencegahan memang lebih ampuh daripada pengobatan, dan masyarakat diminta untuk peduli terhadap sekitar. Misalnya ketika ada desas-desus bahwa sebuah kelompok radikal akan melakukan sweeping, maka mereka menyebarkannya sehingga yang lain bisa bersiap agar tak kena sweeping. Selain itu juga bisa melakukan pelaporan sehingga ada aparat yang menjaga.

Pelaporan memang perlu karena kita tidak boleh cuek dalam bermasyarakat. Misalnya ketika ada yang mencurigakan maka bisa diselidiki, apakah ia terkena radikalisme? Jika memang sudah terbukti maka bisa dilaporkan agar diurus oleh aparat.

Tindakan pelaporan ini bukanlah paranoid melainkan sebuah pencegahan. Kita wajib memahami ciri-ciri kelompok radikal. Misal ketika anak mengeluh, mengapa sang guru tidak toleran, keras dalam mengajar, malah menceritakan kehebatan jihad, maka bisa dilaporkan ke aparat karena itu ciri kelompok radikal.

Masyarakat memang wajib bekerja sama karena jumlah anggota Densus 88 Antiteror dan aparat lain terbatas. Mereka bisa sangat membantu dengan cara melapor dan akan sangat dihargai oleh aparat. Ingatlah bahwa hanya dengan gotong royong maka radikalisme dan intoleransi bisa diatasi.

Kerja sama memang wajib dilakukan, tak hanya oleh masyarakat sipil tetapi juga elemen masyarakat yang lain. Misalnya pemuka agama bisa memberi ceramah anti radikalisme. Ketua RT menekankan toleransi dalam bermasyarakat. Jika kita semua bekerja sama maka intoleransi dan radikalisme bisa hilang dari Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institut

Related News