Belajar STEM dari Persoalan di Sekitar, Murid SMA Negeri 2 Surabaya Ciptakan Beragam Solusi

Selasa, 08/09/2026 - 18:18
Belajar STEM dari Persoalan di Sekitar, Murid SMA Negeri 2 Surabaya Ciptakan Beragam Solusi

Belajar STEM dari Persoalan di Sekitar, Murid SMA Negeri 2 Surabaya Ciptakan Beragam Solusi

Klikwarta.com, Surabaya - Pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics) tidak selalu hadir sebagai materi yang kompleks. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong penerapan STEM sebagai pendekatan yang memantik murid untuk peka terhadap persoalan di lingkungan sekitar dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mencari solusi.

Dalam program yang dijalankan Kemendikdasmen, penerapan STEM dalam pembelajaran diarahkan untuk membangun budaya sekolah yang membiasakan murid untuk berani mencoba, kreatif mencipta, menguji dan memperbaiki, serta mencoba kembali. Proses tersebut diharapkan membentuk generasi Indonesia yang unggul dan mampu menghadapi berbagai tantangan masa depan.

Di SMA Negeri 2 Surabaya, STEM diterapkan melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan murid, mulai dari persoalan lingkungan hingga pemanfaatan teknologi. Murid diajak mengamati masalah, mencari solusi, mencoba, mengevaluasi, hingga bereksperimen dan merancang produk.

Guru Fisika SMA Negeri 2 Surabaya, Neny Else Josephine, misalnya, mengembangkan pembelajaran yang menyenangkan dengan memanfaatkan teknologi digital. Dengan memanfaatkan berbagai perangkat sederhana dan kecerdasan artifisial (_Artificial Intelligence_/AI), murid diajak mengembangkan sendiri simulator fisika berbasis permainan untuk menjelaskan konsep-konsep fisika.

“Mereka memanfaatkan _tools_ yang sangat sederhana dan gratis di internet, tetapi hasilnya sangat di luar ekspektasi. Anak-anak meluncur lebih jauh dalam mengeksplorasi konsep fisika yang dikembangkan dalam lab virtual,” ujar Neny.

Melalui proyek tersebut, murid tidak hanya mendalami konsep fisika, tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk menjelaskan dan mempresentasikan hasil karyanya. Salah satu murid kelas XII, Reynaldo, mengembangkan produk berupa laman interaktif.

“Dari laman interaktif inilah kita bisa mendalami ilmu-ilmu fisika yang di beberapa _tools_ internet tidak tersedia. Jadi selain untuk memahami, kita juga menambah alat baru yang terbuka untuk umum dan bisa digunakan bersama,” tutur Reynaldo.

Penerapan STEM juga terlihat dalam proyek yang mengangkat persoalan lingkungan. Guru Matematika SMA Negeri 2 Surabaya, Nimas Izmi Aufa, mengintegrasikan matematika dan fisika melalui proyek perancangan miniatur kota berbasis energi terbarukan. Menurutnya, STEM tidak diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi diterapkan melalui pendekatan kontekstual yang mendorong murid membaca persoalan dan mencari solusi.

“Anak-anak jadi lebih kritis dalam menghadapi atau membaca sesuatu. Kemampuan literasi anak-anak juga semakin meningkat. Karena diberikan permasalahan-permasalahan kontekstual yang benar-benar nyata, jadi mereka mau membaca dan mencari,” jelas Nimas.

Proyek tersebut dikembangkan Ananda Aqila Zahir Diptyo, murid kelas XI, yang berangkat dari persoalan polusi dan keterbatasan lahan di Surabaya.

Ia merancang konsep miniatur pulau reklamasi yang dapat menjadi sumber energi terbarukan sekaligus ruang hutan kota untuk menyerap karbon dioksida. Ketertarikannya terhadap isu lingkungan telah tumbuh sejak SMP melalui keterlibatannya dalam organisasi yang membahas persoalan lingkungan di Surabaya dan Jawa Timur. Melalui proyek ini, ia merasa lebih leluasa menyampaikan ide dan mencari solusi atas persoalan yang dekat dengan kesehariannya.

Persoalan lingkungan lainnya diangkat Khalisha Zahratus Syita melalui proyek “Morico”, sebuah sistem pengelolaan air yang berangkat dari kondisi di desa yang masih memiliki keterbatasan akses dan pengelolaan air. Dalam proyek ini, air hujan ditampung untuk kebutuhan sehari-hari, kemudian dialirkan ke kolam pengendapan dengan memanfaatkan biji kelor sebagai biokoagulan. Setelah melalui proses filtrasi, air dipantau menggunakan sensor pH dan kekeruhan sebelum dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan budi daya ikan lele.

“Karena saya memiliki ketertarikan di bidang _engineering_, saya suka ketika ada isu-isu mengenai lingkungan yang bisa saya selesaikan. Ketika saya menemukan masalah dan saya bisa menemukan solusinya, saya merasa senang,” tutur Khalisha.

Guru Kimia SMA Negeri 2 Surabaya, Bahrul Ulum, mengatakan proyek-proyek tersebut berangkat dari ketertarikan murid terhadap kondisi lingkungan di sekitar mereka, yang kemudian dikaitkan dengan materi kimia hijau, termasuk prinsip pencegahan limbah. Menurutnya, pembelajaran berbasis persoalan nyata membantu murid melihat manfaat pengetahuan yang dipelajari sekaligus menumbuhkan kepedulian dan ketertarikan untuk belajar.

Penerapan STEM di sekolah menunjukkan bahwa pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna ketika pengetahuan dikaitkan dengan kehidupan nyata. Melalui berbagai proyek, murid tidak hanya memahami konsep akademik, tetapi juga belajar mengidentifikasi masalah, mengembangkan gagasan, dan menghasilkan solusi bagi lingkungan di sekitarnya. (**) 

Berita Terkait