ilustrasi.net
Oleh: Ahmad Fahza (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)
Sejak kecil, aku selalu merasa ada yang berbeda dengan cara ayahku menunjukkan kasih sayang. Tidak seperti ibu yang selalu mencium dan memelukku hangat setiap pagi, ayah lebih banyak diam. Tatapan matanya sering terlihat kosong, dan suaranya selalu terdengar datar. Banyak teman-temanku mengatakan bahwa ayahku terkesan cuek, namun hanya aku yang tahu bahwa di balik sikap dinginnya itu, tersembunyi kasih sayang yang mendalam.
Aku ingat suatu malam ketika aku masih kecil, sekitar usia sepuluh tahun. Saat itu, aku mulai diajarkan untuk tidur sendiri tetapi aku merasa belum siap dengan hal itu. Saat aku merasa sudah tidak nyaman di kamarku, aku berjalan ke kamar orang tuaku. Aku melihat ibu sudah terlelap di kamar, tetapi melihat ayah masih duduk di depan rumah, segera menghampiriku. Tanpa banyak bicara, ia menggendongku dan membawaku kembali ke kamar. ia duduk di kursi di sebelah tempat tidurku sambil memainkan gawainya sampai aku tertidur lagi. Ia mungkin tidak mengatakan apa-apa, tapi kehadirannya yang tenang memberiku rasa aman.
Waktu terus berlalu, dan aku mulai menyadari bahwa ayah memiliki cara unik dalam menunjukkan rasa cintanya. Saat aku duduk di bangku SD, setiap kali aku harus mengerjakan proyek sekolah, ayah selalu menjadi orang pertama yang menawarkan bantuan. Bukan dengan kata-kata manis atau pujian berlebihan, melainkan dengan kehadiran dan kesigapannya yang selalu siap membantuku, bahkan hingga larut malam.
Aku masih ingat jelas kejadian ketika aku harus membuat proyek rangkaian listrik lampu pararel untuk sekolah. Ayah yang sepertinya selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor, tiba-tiba menjadi sangat bersemangat membantu. Kami bekerja bersama di ruang tamu, menyusun alat-alat dan menyempurnakan proyek tersebut. Malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat ayah tersenyum bangga ketika proyekku berhasil dengan baik. Senyum yang sederhana, tapi penuh makna. Aku bisa merasakan kebanggaannya meski ia tidak mengucapkannya. Setiap potongan kayu yang dipotong, setiap kabel yang disambung, adalah bentuk kasih sayang yang diam-diam ia tunjukkan.
Waktu kelulusan SD ayah tidak bisa hadir dalam perpisahan karena pada saat itu sedang bekerja dua luar kota, hanya ibu yang hadir. Tetapi ayah tetap menyempatkan waktu untuk video call. Ia mengatakan bangga pada putranya ini karena telah lulus tanpa tinggal kelas dan mendapat nilai yang baik sehingga bisa masuk ke sekolah mengah pertama impianku. Ayah juga menyampaikan permintaan maaf dan menawarkan hadiah apa yang di inginkan untukku, aku meminta sebuah perangkat yang bisa menemaniku di kamar. Pada saat itu aku berharap dibelikan sebuah televisi tetapi aku tidak enak jika memintanya secara langsung, saat ayah kembali ternyata ayah membelikan sebuah radio dengan alasan ayah tahu aku suka mendengar lagu. Dari situ aku tahu ayah sering memperhatikan hal yang aku suka, dari situ aku befikir kalau radio lebih baik untukku daripada televisi.
Ketika SMP hubungan aku dan ayahku masih sama seperti yang lalu, terkadang aku mulai mempertanyakan apakah ayah punya cara lain untuk memberikan perhatiannya. Ada masa-masa dimana aku merasa kesal dengan ayah karena kurangnya ungkapan verbal dan fisik dari kasih sayang. Aku menginginkan pelukan hangat atau kata-kata penyemangat yang manis seperti yang biasa kubaca di buku atau tonton di film. Namun, ayah tetap dengan caranya sendiri. Ia tidak pernah berubah.
Namun, ada satu kejadian yang membuatku benar-benar mengerti bagaimana ayah menunjukkan cintanya. Saat itu aku sedang menghadapi ujian akhir yang sangat menentukan. Malam sebelum ujian, aku begitu cemas dan stres. Ayah, tanpa mengatakan sepatah kata pun, membawaku keluar untuk membeli kebab yang kusuka setelah itu kami pulang dan duduk di bangku kayu yang sudah ada sejak aku kecil. Pada saat itu ia mengobrol banyak denganku tentang banyak hal, ia melakukan itu agar aku tidak terlalu cemas dan stres, ia berkata pelan, “Terkadang, kamu hanya perlu melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Semua akan baik-baik saja. Buatlah cerita hidupmu sendiri, dan jadilah kebanggaan kami.” Itu adalah salah satu dari sedikit momen di mana ia berbicara dengan kalimat yang panjang. Kalimat yang sederhana, tetapi sangat menenangkan.
Tetapi pada saat kelas tiga SMP ayahku sakit dan akhirnya mengehembuskan nafas terakhirnya. Kejadian itu membuatku seperti hampa dan bergerak tanpa tujuan, aku jadi malas sekolah dan mengerjakan tugas. Hal itu membuatku tidak bisa menggapai SMA yang ku inginkan dan malah masuk ke SMK dengan jurusan yang sebenanrnya kurang kuincar dengan alasan teman - teman SMP banyak masuk kesana. Saat SMK aku masih dalam yang sama malas sekolah dan mengerjakan tugas, tetapi aku mulai belajar menyukai jurusan yang kupilih.
Ketika aku lulus SMK aku sebernanya sangat ingin mendiskusikan kemana aku selanjutnya dengan ayah, apakah aku langsung bekerja atau kuliah karena aku merasa tidak bisa memutuskannya sendiri. Karena belum bisa memutuskan jadi yang aku lakukan saat itu adalah melakukan keduanya, mengikuti seleksi ke perguruan tinggi negeri lewat jalur rapot dan selama menunggu hasil seleksi aku bekerja. Kabar baiknya aku diterima di perguruan tinggi negeri dan aku memutuskan untuk kuliah.
Saat ini aku ingin sekali berbicara dengan ayah, membicarakan tentang bagaimana jurusan waktu aku SMK dan kuliah apakah sudah baik, intinya aku ingin mempertanyakan apakah langkah yang ku ambil sudah tepat. Ayahku mungkin tidak pandai menyampaikan kasih sayangnya melalui kata-kata atau pelukan hangat. Namun, melalui tindakan-tindakannya yang sederhana, melalui kehadirannya yang selalu ada, aku belajar arti sebenarnya dari kasih sayang. Kini, aku bisa memahami bahwa cinta tidak selalu perlu diungkapkan dengan cara yang sama oleh setiap orang. Ayah mengajarkanku bahwa cinta sejati adalah tentang selalu ada di saat dibutuhkan, tentang memberikan dukungan tanpa syarat, dan tentang menunjukkan kebanggaan dalam diam. Terima kasih, Ayah, atas cinta dan kasih sayangmu yang tak terucapkan namun selalu terasa.








