Mimpiadalah anugrah dari tuhan yang paling berharga bagiku. Satu-satunya harapan untuk memulai kehidupan lebih baik. Lewat mimpi tidak ada yang perlu ditakutkan. Tak perlu punya uang, jabatan, atau keluarga yang harmonis. Dan mimpi adalah alasan aku bertahan sampai hari ini.
Sejakkecilakumenyadarikehidupanku tidak seberuntung orang lain, tapi juga tidak sesulit orang lainnya. Ketidakharmonisan keluargaku adalah titik awal aku sadar. Ayah yang meninggalkan istri dan 5 orang anaknya tanpa belas kasih. Ibu yang harus berjuang mati-matian hanya untuk bertahan sampai hari esok. Tidak ada yang bisa ku banggakan dalam kondisi itu. Terlalu sulit bagi ibu untuk menanggung semuanya sendiri. Akhirnya kakak pertamaku dirawat oleh saudara tertua ibu. Kakak keduaku harus mengubur mimpinya untuk melanjutkan SMP dan hanya tamat SD.
Abang ketigaku memutuskan mengekos dan mencari uang sendiri sejak SMA. Dia banyak memberontak sejak kepergian ayah. Tak mau diatur. Menyimpan banyak emosi dalam dirinya. Yang tersisa dari keluarga saat itu hanya aku, adik dan ibu. Kemudian ibu memasukanku ke pondok pesantren. Disana lah aku membangun istana mimpiku sendiri.
Masuk pesantren awalnya adalah mimpi buruk bagiku. Ditinggal ibu dan saudara-saudara sendirian. Tempat asing dengan orang-orang dari entah berantah. Itu yang aku pikirkan pertama kali tinggal disana. Bulan pertama aku lebih banyak menangis. Memikirkan betapa jahatnya ibu mengirimku belajar ditempat yang tidak aku sukai. Setelah puas menangis aku biasanya menulis semua perasaanku pada buku kecil. Hal itu berhasil mengurangi emosi kesedihanku.
bersama teman-teman di Pesantren
Suatu ketika ada seorang teman satu kamar menghampiriku. Namanya Aisyah, kepribadiannya sangat ceria dan jenaka. Dia mengajakku pergi keluar asrama untuk jajan. Aku yanglebih banyak diam dan menyendiri tentu saja menolak. Tetapi dia memaksa seolah kita adalah teman dekat. Ku pikir lagi, tak ada salahnya keluar dan mencari udara segar. Melihat anggukan kepala dia langsung menari tanganku.
Sejak saat itu kami jadi teman dekat. Bulan berikutnya aku mulai percaya diri dan berbaur dengan teman-teman satu kamar. Aku merasakan kehidupan di pesantren sangat menyenangkan. Kita melakukan banyak kegiatan bersama. Berangkat mengaji, makan, tidur, bercanda dan bahkan melanggar aturan pesantren bersama. Mengingatnya saja membuatku tertawa.
Pernah suatu ketika, kami tidak menghabiskan jatah makan malam. Alih-alih membuang sisa makanan, malah membiarkan wadah makan tergeletak dikolong kasur. Dan kami tinggalkan untuk mengaji malam itu. Sayangnya, itu adalah hari sidak atau pengecekan kamar-kamar santri. Tak dapat dihindari kami dipanggil untuk mempertanggungjawabkan dan menerima hukuman. Berdiri ditengah lapangan hingga jam 1 dini hari. Disirami air bekas mengepel lantai yang bau dan kotor. Momen hukuman yang paling membekas dalam ingatanku sampai hari ini.
Kami tidak marah atau sedih, justru malah tertawa sambil mengobrol saat dihukum. Itulah kenapa kami sering melalukan kesalahan bersama. Meski sering melanggar aku selalu semangat belajar. Di sekolah aku termasuk dalam kelompok anak-anak berbakat dan aktif. Bisa dibilang lebih condong pada akademik dari pada urusan mengaji. Bahkan ustadz pernah bilang “kalau disekolah kamu jempolan tapi dipesantren kamu nol besar” katanya marah. Itu terjadi karena aku ketiduran sehabis sholat magrib, tidak ikut mengaji yasin dan sholat isya.
Aku menyadari betul bahwa terkadang aku malas untuk mematuhi aturan, tapi itu manusiawi kan? Terlalu aktif disekolah, aku mengikuti hampir seluruh ekstrakulikuler yang ada. Mulai dari Tari Saman, Marching Band, Angklung, Paduan Suara, Pramuka, Paskibra dan Ketua Kelas saat MTS. Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu ku di sekolah hingga sore. Ditambah jadwal mengaji 2 kali setiap hari di asrama. Itu kenapa terkadang badan ku tak sanggup menahan aktifitas padat. Sehingga tak jarang aku membolos mengaji atau sholat di masjid.
Semangat sekolahku muncul tanpa aku sadari karena sering disuguhi film-film inspiratif setiap malam minggu. Ya meski di pesantren, kami diperbolehkan menonton film setiap malam minggu. Tapi itupun tidak setiap minggu dan dibatasi jamnya. Yang palingku ingat adalah film 99 Cahaya Dilangit Eropa, Bulan Terbelah Dilangit Amerika, 5 CM, Habibi Ainun 1 dan 2, dan banyak lainnya. Tak hanya itu ada banyak buku yang ku baca juga tentang proses meraih mimpi dan cita-cita. Terkadang ada kakak-kakak dari universitas yang hadir untuk membawakan kisah nyata inspiratif mereka.
Tanpakusadarisemuaitumelekat dalam diriku. Inspirasi dalam film, buku dan kisah orang lain membuatku berani untuk bermimpi besar. Aku ingat dalam film 5 CM ada sebuah kalimat yang dikatakan oleh pemeran utama “Taruh mimpi-mimpi mu 5 CM di dahi, biarkan dia melayang sehingga kamu akan terus melihatnya kemanapun kamu pergi”. Setelah itu aku mulai menyusun mimpi-mimpiku dikertas kecil dan menempelkannya dilemariku. Aku menuliskan ingin sekolah di luar negeri, ingin keliling dunia, ingin menjadi reporter, penulis dan aktris.
Setiap kali ku buka lemari, aku melihat mimpi-mimpi ku. Menjadikannya berkembang liar dalam alam bawah sadar. Aku juga mulai menyicil belajar bahasa Inggris meski hanya paham kalimat sehari-hari saat itu. Mengikuti pidato, menyanyikan lagu-lagu, hingga menjadi MC menggunakan bahasa Inggris. Berusaha menjadikan bahasa Inggris dekat denganku. Meski masih cenderung pasif.
Banyaknya mimp menjadikanku terus berusaha menjalani hidup. Meski latar belakang keluarga terkadang membuatku berhenti sejenak. Kembali merefleksikan diri apa aku pantas untuk bermimpi dengan segala keterbatasan ini? dan sering kali dalam perjalanan meraih mimpi aku dihadapkan oleh kegagalan pahit.
Kegagalan pertama adalah aku hampir tidak bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi karena faktor ekonomi. Tak hanya itu, ternyata pada tahun pertama kelulusan aku gagal diterima perguruan tinggi negeri favorit. Dan memutuskan untuk bekerja selama satu tahun di toko roti. Sambil mengumpulkan uang untuk membeli kebutuhan perkuliahan. Pada tahun kedua ternyata tuhan masih tak mau memberikan keberhasilan padaku. Gagal lagi masuk PTN favorit. Sepertinya dia ingin aku berusaha lebih keras dan memantaskan diri untuk menjadi mahasiswa.
Ditengah keputusasaan, temanku mengatakan untuk mendaftar di politeknik negeri saja. Walau tidak seperti yang aku harapkan tapi ternyata aku lolos seleksi. Bahagia sekali, tuhan masih mengizinkan aku mengenyam pendidikan tinggi. Aku bisa menyusun strategi selanjutnya untuk meraih mimpi besarku, kuliah di luar negeri.
Terkadang kegagalan mambawa kita lebih dekat pada mimpi. Itu yang aku rasakan saat ini. Berkali-kali ditolak PTN favorit tak menghentikanku. Saat awal masuk kuliah aku sudah mencari- cari informasi mengenai program pertukaran pelajar. Aku mendengar ada program
Kemendibudriste yaitu IISMA. Sebuah program beasiswa yang mengirimkan mahasiswa aktif Indonesia untuk belajar 1 semester diluar negeri. Dengan cepat ku putuskan untuk mengikuti program ini.
Sejak semester 1 aku mulai fokus memperdalam kemampuan bahasa Inggris ku. Mencari kursus online yang masih ramah dikantong pelajar. Beberapa kali mengikuti seminar IISMA dan mempersiapkan persyaratannya sedikit demi sedikit. Sampai pada waktu aku bisa mengikuti program ini. Semangat membara didadaku. Aku tak ingin gagal pada seleksi program ini. Memohon pada tuhan untuk mengabulkan mimpi yang sudah ku taman sejak kecil.
Malam saat pengumunan hasil seleksi aku sedang menghadiri acara Buka Bersama dibulan Ramadhan. Ini acara tahunan teman satu kelas ku di kampus. Dengan perasaan gundah, takut-takut membuka hasil pengumuman. Tapi berusha memberanikan diri. Diam-diam ku buka hasilnya. Terdiam beberapa saat. Memastikan kembali apa yang ku lihat. Sontak menjerit dengan kencang dan menangis. Ini kali pertama keberhasilan terbesar dalam hidupku. Lolos program IISMA dan akan melanjutkan 1 semester belajar di Korea Selatan.
Aku menelpon ibu malam itu. Mengabarkan anak kecil ini lolos beasiswa ke luar negeri. “Mimpiku jadi kenyataan bu” itu yang aku katakan pada ibu. Anak yang sejak kecil hanya sanggup bermimpi. Tak ada ayah dan saudara yang mendampingi proses tumbuh kembangnya. Perlahan bisa membuktikan diri mampu meraih impiannya. Sebagian orang merasa ini biasa saja, bukan pencapaian istimewa. Bagiku ini mungkin satu-satunya kesempatan mengubah masa depan. Aku tak bisa mengubah latar belakang keluargaku. Tapi aku menciptakan sayap harapan bagi diriku, untuk jauh terbang tinggi membawa mimpi-mimpi yang lain.
Situs berita online Klikwarta.com aktif online sejak Januari 2017, media ini didirikan untuk menjawab kebutuhan informasi melalui dunia cyber. Klikwarta.com dinaungi oleh PT. Wahana Bintang Media (Terverifikasi Faktual Dewan Pers), Nomor : 363/DP-Verifikasi/K/X/2025.
Melalui berbagai rubrik/konten yang ditampilkan, Klikwarta.com terus melakukan pembenahan untuk memenuhi kebutuhan pembaca sesuai kekiniannya.
Klikwarta.com dalam penyajiannya mengemban fungsi informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Situs berita www.klikwarta.com terikat oleh undang-undang dan kode etik dalam menjalankan tugas jurnalistik sehari-hari.
Selain itu, undang-undang dan kode etik itu juga menjadi panduan kerja redaksi dalam hal memproduksi berita agar sesuai dengan kaidah jurnalistik, mencerdaskan dan profesional.
Kami, para pengelola Klikwarta.com, mengharapkan dukungan maupun kritik para pembaca agar layanan kami semakin baik dan diperlukan.