Sebuah Realita kehidupan Gadis Kecil

Senin, 10/06/2024 - 03:18
Ilustrasi

Ilustrasi

Oleh: Giesla Azhar Dzahabiyyah, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta

“Plak!” Suara tamparan itu sungguh keras. Anak perempuan yang masih berusia 10 tahun itu meringis “Sakit pah…” Chia berkata dengan suaranya yang bergetar karena tangis yang sudah sejak tadi ia tahan.

Cerita kali ini mungkin akan mudah tergambar bagi beberapa orang diluar sana yang telah merasakan hal yang sama. Tetapi saya yakin anda telah melaluinya, walaupun penuh dengan air mata dan pengorbanan yang juga berat. Entah bagaimana keadaan bisa sebegitu kejam kepada seseorang, tidak pernah ada yang tahu hingga mereka bisa melalui semua dan menemukan apa arti dibalik segala hal yang terjadi.

Chia, seorang anak perempuan yang terlahir dengan sifat ceria dan hati lugunya telah hancur oleh orang yang seharusnya menjadi penyemangat dan dukungan terbesar untuknya. Memiliki orang tua yang keduanya sibuk bekerja membuat Chia lebih dekat dengan om dan tantenya. Sangat jarang sekali Chia bisa menghabiskan waktu dengan orang tuanya, karena orang tuanya pergi bekerja saat pagi sekali dan kembali ke rumah larut malam.

Terkadang terlintas di benak Chia, mengapa orangtuanya tidak bisa memiliki waktu lebih lama untuk bermain dan berbicara dengannya. “aku hanya ingin ditanya, bagaimana harinya nak? Boleh kakak cerita ke mama dan papa?” hanya sebatas itu yang diharapkan oleh Chia, tetapi apa daya semua itu tidak pernah terjadi dalam hidup Chia.

Hati yang telah tergores itu tidak pernah memikirkan bagaimana sakitnya jika harus tergores lagi. Begitulah keadaan Chia saat memutuskan untuk menggunakan lebih banyak cara dalam mendekati orang tuanya dan mendapatkan hal yang selama ini ia inginkan, yaitu perhatian. Chia akhirnya menjadi anak yang suka berinisiatif membuat karya agar ia bisa memiliki topik pembicaraan dengan orang tuanya.

Tetapi kenyataan kembali menggores hati kecilnya. “ya” “oke” “bagus” “good” hanya kata kata seperti itu yang diterima oleh Chia saat dirinya menunjukkan hasil karya yang dengan susah payah ia buat siang tadi. Bahkan orang tuanya menjawab dengan tidak melihat pasti apa yang telah Chia kerjakan. Banyak sekali hal yang dilakukan oleh Chia untuk orang tuanya, tetapi haya penolakan yang Chia terima.

Dengan keadaan yang tidak berpihak kepada Chia, hati kecil anak perempuan itu pun kembali tergores, atau bahkan bisa dibilang retak. Kembali lagi Chia berusaha, namun kali ini Chia mencoba untuk mengikuti apa yang orang tuanya mau. Jika saya berbicara seperti ini, mungkin kalian semua telah mengetahui apa hal yang di maksud. Benar sekali, mendapatkan peringkat dan prestasi di sekolah adalah jalan yang kali ini Chia ambil. Chia sangat berharap orang tuanya memberikan apresiasi dengan apa yang telah Chia lakukan, namun lagi dan lagi hal ini tidak menggerakkan hati mereka untuk mengapresiasi kerja keras Chia selama ini.

Sebaliknya, jika Chia melakukan kesalahan sekali saja, Chia bisa mendapatkan tamparan keras dari papanya. Untuk kalian yang merasakan hal serupa, bagaimana cara kalian melaluinya? Bahkan Chia sendiri masih bertanya kenapa hal ini bisa terjadi di kehidupannya. Anak yang seharusnya berpikir “main apa hari ini?” “PR mata pelajaran apa yang harus diselesaikan hari ini?” harus memenuhi pikirannya dengan momen menyakitkan yang ia rasakan di usia yang masih sangat belia.

Momen menyakitkan inilah yang menjadi awal bagi Chia mulai kehilangan rasa ingin dekat dengan orang tuanya. Chia merasa bahwa semua hal yang dilakukan hanyalah sia sia. Orang tuanya hanya tahu bahwa anak perempuan pertamanya baik baik saja, ceria, memiliki teman yang banyak, pintar, dll. Sedangkan sisi lain dari Chia, tidak pernah mereka ketahui. Chia yang suka terbawa perasaan, ingin diperhatikan, dan mudah sedih ini sama sekali tidak mereka ketahui.

Banyak sekali pertanyaan muncul di benak Chia dan tidak ada yang bisa menjawabnya, karena disaat itu Chia benar benar sendirian. Tidak ada satupun orang yang ada di samping untuk menemaninya. Chia hanya bisa bertanya “kenapa?” kenapa harus ia yang merasakan ini? Kenapa Tuhan membiarkan ujian yang begitu berat menimpa bahu seorang bocah kecil ini. Disaat itu juga lah akhirnya Chia pertama kali memiliki pemikiran yang tidak seharusnya ada pada anak sekecil itu. Bagi kalian yang pernah merasakan hal serupa, mungkin akan tahu apa yang ada dipikiran Chia. Chia ingin mengakhiri hidupnya.

“Kenapa mama dan papa tidak pernah ada waktu untuk aku?” “Kenapa mama dan papa terlihat lebih sayang kepada adik?” “Kenapa mama dan papa tidak pernah bertanya bagaimana kabarku?” “kenapa mama dan papa tidak perduli kepadaku?” dan banyak lagi pertanyaan yang muncul di benak Chia setiap malamnya, pertanyaan yang sangat menganggu ketenangan Chia. Yang Chia tahu saat itu hanya menangis dan menangis, ia bingung dan tidak tahu lagi harus berbuat apa dan kemana ia bisa melepaskan sedikit beban di bahunya.

Chia ingin marah, tetapi tidak bisa. Chia ingin menangis di depan dunia, tetapi semuanya akan berkata Chia lemah. Chia ingin kabur dari gerahnya keadaan rumah, tetapi ia tidak bisa meninggalkan adiknya. Chia ingin terbebas dari apa yang sedang ia lalui, tetapi Chia tidak tahu caranya. Hingga sekian tahun berjalan, Chia telah bertambah dewasa.

Di bangku SMP, Chia kembali dihantam dengan keadaan pahit yang membuat hatinya tambah retak hingga hampir hancur. Perempuan yang barusaja beranjak remaja itu menerima pembullyan dari teman sekelasnya. Sekolah yang biasanya menjadi tempat berlindung bagi Chia dari sesaknya rumah, sekarang menjadi tempat yang sama sesaknya. Chia tidak mengerti apa hal yang membuat ini terjadi, karena Chia merasa ia tidak melakukan hal yang menyakitkan kepada teman sekelasnya.

Mulai dari disoraki, tidak ditemani, dll. Chia mendapatkan semua hal itu sendirian. Pada saat itu, Chia benar benar merasakan kesendirian, Chia merasakan tidak ada hal di dunia ini yang berpihak kepadanya. Hingga suatu ketika, entah bagaimana Chia tidak tau, satu siswa dari kelas lain tiba tiba menghampiri Chia hanya untuk berteman dengan Chia. Dengan senyum manis yang terlukis indah di wajahnya, ia mengulurkan tangannya untuk Chia.

Perasaan senang benar benar membanjiri hati Chia, hingga tak terasa Chia telah membiarkan tangan teman sebayanya itu kosong tanpa ada yang menghampiri. Chia langsung menerima ajakan itu. “Dia terlihat seperti orang baik,” Chia bergumam dalam hatinya setelah melihat siswa itu mau berteman dengannya. Untuk pertama kalinya Chia merasa tidak sendirian. Seiring berjalannya waktu, pembullyan yang Chia terima semakin menjadi jadi dan teman Chia selalu membantunya.

Hingga Chia mencapai titik terendah yang sama sekali tidak pernah ia harapkan terjadi, yaitu keadaan dimana pikiran Chia sangat sangat tidak jernih. Chia ingin mengakhiri hidupnya lagi, namun kali ini lebih dari yang pernah ia pikirkan sebelumnya.

Berdiri tepat di balkon sekolahnya dengan menghadap langsung kebawah, pikiran Chia berkecamuk. Ingatan buruk semasa ia kecil pun kembali menghantuinya. Chia kembali mempertanyakan banyak hal yang sudah lama sekali tidak ia pikirkan. Kenapa harus dirinya yang mendapatkan pengalaman sangat buruk? Kenapa Chia tidak bisa merasakan hidup normal, seperti yang diceritakan oleh anak anak sebayanya? Orang lain bisa Bahagia dan menjalani hidupnya tanpa beban di bahunya, mengapa Chia tidak bisa?

Chia hanya ingin hidup sesuai dengan usianya. Chia hanya ingin merasakan bagaimana menghirup udara dengan tenang tanpa harus berfikir bagaimana kelanjutan hidupnya kedepan. Chia hanya ingin mengisi pikirannya dengan tugas sekolah yang tak ada habisnya. Chia hanya ingin hidup.

Dengan langit sedikit mendung dan ramainya suasana sekolah di siang hari, Chia bertekad. Tidak ada yang tahu niat Chia saat itu, bahkan orang terdekat Chia pun tidak tahu menahu soal ini. Di momen itu, yang bersama Chia hanya pikiran dan aura negatif. Hingga Chia melihat orang dengan wajah familiar berdiri tepat di depan gerbang sekolah yang bisa ia lihat dari balkon lantai empat itu.

Dia adalah Kenanro, adik laki laki yang sangat Chia sayang. Saat itulah ada satu pikiran positif muncul dalam benak Chia. “kalau aku tidak ada, bagaimana Kenan nanti? Aku tidak mau Kenan merasakan apa yang ku rasakan” Ucap Chia dalam hati sambil berlari menuruni anak tangga untuk menemui Kenan.

Setelah momen menakutkan itu berlalu, Chia menjadi punya tekad untuk belajar banyak hal baru di hidupnya. Hingga akhirnya ia merasa bahwa orang tuanya tidak selalu buruk. Mereka adalah orang tua yang baik, hanya saja apa yang mereka berikan tidak selalu tentang perhatian. Chia baru menyadari bahwa walaupun orang tuanya cuek, tetapi mereka memberikan banyak sekali fasilitas yang Chia butuhkan. Dengan kata lain, Chia tidak pernah Kekurangan.

Chia juga belajar bahwa hidup ini tidak selalu tentang dirinya, tetapi juga tentang orang lain di sekitar kita. Setiap ingin melakukan sesuatu, pastikan hal itu tidak merugikan pihak manapun, karena banyak hal yang kita lakukan bisa jadi sangat berpengaruh kepada orang disekitar. Dengan umur yang masih sangat belia, Chia sudah belajar banyak sekali hal tentang kehidupan.

Untuk Chia yang masih berproses hingga sekarang, semoga…

Tags

Berita Terkait