Anggota Komisi B DPRD Jatim, Indra Widya Pratama
klikwarta.com, Jatim - Puncak kemarau Agustus-Oktober jadi ujian serius bagi lumbung pangan Jatim. BMKG mencatat puluhan kecamatan di Tapal Kuda dan Mataraman sudah masuk kategori Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut. Debit irigasi anjlok, ancaman puso atau gagal panen di depan mata.
Pemprov Jatim bersama DPRD Jatim langsung merapatkan barisan. Strateginya holistik, dari hulu sampai hilir.
Anggota Komisi B DPRD Jatim, Indra Widya Pratama, mengatakan keluhan paling keras saat reses di Dapil Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Magetan adalah air.
"Saat reses, aspirasi paling mendesak yang diajukan para petani adalah pengadaan titik-titik sumber air atau sumur di area persawahan. Model pengadaan sumber air persawahan seperti yang sudah diterapkan di Magetan ini terbukti efektif," kata Indra, Senin (21/9/2026).
Ia mendorong model sumur sawah Magetan itu direplikasi ke seluruh wilayah selatan yang langganan kekeringan. Sambil itu, Bulog harus siap intervensi pasar.
"Optimalisasi penyerapan dan pelepasan stok pangan cadangan dari Bulog harus segera difungsikan," ujarnya.
Saat ini stok Beras Cadangan Pemerintah di Jatim masih aman di atas 200 ribu ton.
Sementara Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, memastikan pemetaan daerah rawan sudah dilakukan bersama Kementan.
"Bantuan pompa air sebagian besar sudah terdistribusi sebelum kemarau, dan untuk wilayah selatan yang rentan kekeringan, kita juga intensifkan Operasi Modifikasi Cuaca agar memicu hujan," terang Emil.
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan menyemai garam NaCl di awan potensial digeber di Malang Raya, Blitar, Tulungagung, hingga Trenggalek. Tujuannya memicu hujan buatan untuk mengisi waduk dan saluran irigasi.
Bagi yang terlanjur puso, Pemprov menyiapkan jaring pengaman lewat dana Belanja Tidak Terduga (BTT).
"Bagi petani yang mengalami gagal panen, Pemprov Jatim menyiapkan intervensi melalui dana BTT. Bantuan minimal yang disalurkan adalah pasokan bibit tanaman baru agar petani memiliki modal untuk kembali menanam," pungkas Emil.
Dengan skenario ini, Pemprov optimistis target produksi padi Jatim di atas 9,5 juta ton GKG tetap aman sebagai penopang lumbung pangan nasional.








