Visiting Professor di Bulan Merdeka, Sekolah Pascasarjana UNJ Siapkan Pemimpin Masa Depan

Selasa, 11/08/2026 - 18:12
Visiting Professor di Bulan Merdeka, Sekolah Pascasarjana UNJ Siapkan Pemimpin Masa Depan

Visiting Professor di Bulan Merdeka, Sekolah Pascasarjana UNJ Siapkan Pemimpin Masa Depan

Klikwarta.com, Jakarta - Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memperkuat perannya dalam menyiapkan pemimpin masa depan melalui penguatan wawasan global, karakter akademik, serta kemampuan merespons perubahan teknologi dan persoalan lingkungan. Langkah tersebut diwujudkan melalui berbagai forum akademik nasional dan internasional, termasuk program Visiting Professor yang menghadirkan akademisi dari perguruan tinggi luar negeri.

Memasuki bulan kemerdekaan, Kampus Hijau UNJ di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Komarudin menghadirkan hajatan akademik berwawasan global. Melalui Program Studi Doktor (S3) Linguistik Terapan, Sekolah Pascasarjana UNJ menggelar Visiting Professor bertajuk “Ecolinguistics in the Age of AI: Language, Digital Ecosystems, and Sustainability”, Senin (10/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Bung Hatta, Sekolah Pascasarjana UNJ, tersebut menghadirkan Associate Professor Dr. Ju Seong Lee dari The Education University of Hong Kong.

Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, Prof. Dedi Purwana, mengapresiasi Kaprodi S3 Linguistik Terapan UNJ, Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd., beserta tim yang mengangkat tema ekolinguistik di era AI. Menurutnya, kajian tersebut memiliki relevansi kuat dengan perubahan kehidupan masyarakat.

UNJ, kata dia, memiliki perhatian besar terhadap isu future leader. Perkembangan teknologi berdampak pada cara manusia berkomunikasi, berpikir, dan berinteraksi, sementara persoalan lingkungan membutuhkan perhatian yang semakin serius.

“Pemimpin masa depan juga harus memahami isu ekolinguistik. Sejalan dengan perkembangan AI yang mengubah cara berbicara, menulis, berpikir, dan berinteraksi, pemimpin masa depan harus mampu memahami keterkaitan antara bahasa, teknologi, dan lingkungan,” ujar Prof. Dedi.

Menurutnya, Sekolah Pascasarjana UNJ juga mengembangkan International Visiting Scholar Program untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik internasional. Pada 2026, program tersebut menghadirkan 16 visiting scholars dari sejumlah negara, termasuk Jepang, Tiongkok, dan Australia.

Kehadiran Ju Seong Lee diharapkan membuka perspektif baru bagi sivitas akademika mengenai hubungan bahasa, lingkungan, serta perkembangan teknologi digital. Kajian tersebut sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan penelitian yang memiliki relevansi dengan persoalan masyarakat.

Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ, Prof. Ifan Iskandar, menekankan pentingnya memasukkan isu keberlanjutan dalam proses pembelajaran dan penelitian. Menurutnya, ekolinguistik dapat menjadi ruang kajian yang menghubungkan bahasa dengan persoalan lingkungan dan berbagai tantangan global.

“Isu keberlanjutan, khususnya lingkungan, perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran dan penelitian. Ekolinguistik membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan penelitian yang menghubungkan bahasa dengan berbagai persoalan lingkungan dan tantangan global,” kata Prof. Ifan.

Dalam paparannya, Prof. Ifan menjelaskan bahwa ekolinguistik tidak sekadar mengkaji bahasa sebagai alat komunikasi. Bidang tersebut juga melihat hubungan antara bahasa, manusia, dan lingkungan, termasuk bagaimana pola pikir antroposentris dan konsumtif tercermin dalam penggunaan bahasa.

Sementara itu, Ju Seong Lee memperkenalkan pendekatan transdisipliner yang mendorong peneliti menghubungkan kajian akademik dengan persoalan nyata di masyarakat. Menurutnya, penelitian tidak semestinya berhenti pada publikasi, tetapi harus diarahkan untuk menghasilkan dampak sosial.

“Penelitian tidak seharusnya berhenti pada publikasi akademik, tetapi perlu diterjemahkan menjadi dampak sosial yang nyata,” ujar Lee.

Lee juga membahas Informal Digital Learning of English (IDLE), yakni pembelajaran bahasa Inggris secara mandiri melalui ruang digital di luar pendidikan formal. Menonton video, mendengarkan musik, bermain gim, menggunakan media sosial, hingga berinteraksi dengan AI dapat menjadi bagian dari pembelajaran apabila dilakukan secara mandiri dan sesuai kebutuhan.

“Ruang digital membuka peluang besar untuk meningkatkan otonomi, motivasi, dan kemampuan komunikasi peserta didik. Ia mendorong penelitian lebih lanjut mengenai pembelajaran informal digital di Indonesia, termasuk pada peserta didik usia sekolah,” ucapnya.

Melalui program tersebut, Sekolah Pascasarjana UNJ menegaskan komitmennya menjadikan pendidikan tinggi bukan hanya sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai arena pembentukan pemimpin yang mampu membaca perubahan, berpikir lintas disiplin, dan menghasilkan gagasan yang berdampak bagi masyarakat. (**) 

Berita Terkait