Yusriah Rizky
Klikwarta.com, Medan, 24 Oktober 2026 – Tak semua juara memulai langkah dari rasa suka. Ronny, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara (USU), mengaku awalnya tidak suka menulis karena penyusunan karya ilmiah menuntut banyak revisi. Kini, Ia telah mengumpulkan 24 gelar juara tingkat nasional dan internasional di bidang karya tulis ilmiah.
Ketertarikan Ronny pada dunia riset muncul ketika minatnya pada debat mulai berkurang. Melihat juniornya mengikuti lomba karya tulis ilmiah, Ia pun penasaran untuk mencoba. Lomba pertamanya, Kompetisi Inovasi Sains Nasional Universitas Nusa Cendana 2024, langsung membawanya meraih juara 2 lewat gagasan sistem Internet of Things (IoT) untuk penanganan tuberkulosis (TBC) di penjara.
Kemenangan itu tidak lantas membuat jalannya mulus. Ronny mengaku pernah gagal belasan kali. Namun, kegagalan tersebut justru menjadi bahan belajar. Dosennya selalu mengingatkan bahwa hasil tidak akan diketahui sebelum dicoba.
“Harus berani mencoba, berani untuk gagal,” tutur Ronny.
Dorongan lain datang dari keinginannya menjajal bidang baru. Menurut Ronny, lomba yang khusus bertema kesehatan jumlahnya terbatas, sementara banyak kompetisi justru hadir dari bidang lain.
“Kalau cuma ikut lomba kesehatan saja, lombanya lumayan jarang. Kebanyakan lomba dari kimia, teknik, sampai energi,” ungkap Ronny.
Dari situ, Ronny melebarkan jangkauan ke kimia, biologi, teknik, kedokteran hewan, dan psikologi. Terakhir, Ia mencoba bidang ekonomi bisnis lewat lomba bertema pajak hijau di Universitas Padjadjaran. Setiap kali masuk ke bidang yang belum dikuasai, Ronny memilih sub-tema terlebih dahulu, lalu mempelajarinya lebih dalam dan memeriksa apa yang diinginkan penyelenggara lomba.
Puncaknya, Ronny meraih 1st Runner Up pada International Paper Innovation Contest The 14th Civil Engineering Innovation Contest Universitas Diponegoro 2026. Itu merupakan lomba internasional pertamanya, yang Ia ketahui dari Instagram. Bersama timnya yang lintas jurusan, termasuk mahasiswa Teknik Sipil, Ia mengusung inovasi SMART-TILT, sistem pemantauan kesehatan struktur bangunan bersejarah di wilayah rawan gempa berbasis digital twin, sensor IoT, dan machine learning.
Motivasinya bukan sekadar piala. Ronny ingin inovasinya kelak menjadi perhatian pemerintah, instansi terkait, maupun lembaga swadaya masyarakat untuk merawat bangunan bersejarah secara preventif.
“Kita sayang kalau benda bersejarah kita ujung-ujungnya diabaikan, padahal itu warisan budaya kita,” kata Ronny.
Selain di Universitas Diponegoro, Ronny juga mencatatkan juara di sejumlah kampus lain. Di antaranya Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Smart & Safety Competition (SASECOM) FKM Universitas Diponegoro 2026, Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah KIMVETNAS Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada 2025, Juara 3 Scientific Paper ENVIFAIR UI Universitas Indonesia 2025, dan Juara 2 PIMPI IPB University 2026. Secara keseluruhan, Ia meraih juara di enam perguruan tinggi negeri dan satu sekolah kedinasan.
Bagi Ronny, kemenangan di kampus-kampus besar itu datang di luar dugaan. Saat mengikuti lomba di UGM, Ia mengaku belum pernah menang di lomba besar.
“Awalnya tidak ada kepikiran bakal juara. Yang penting kita do the best, kita lakukan apa yang kita buat,” ujarnya.
Cara Ronny berlomba pun berubah. Pada 2025, Ia mengikuti lomba dengan intensitas tinggi, bahkan delapan hingga belasan lomba dalam sebulan. Kini, Ia hanya mengikuti empat hingga lima lomba per bulan dan memilih sendiri lomba yang dianggap besar.
“Pas tahun 2025 itu benar-benar ambisius. Masih banyak try and error, masih main kalah, masih main menang,” ujar Ronny.
Pengalaman itu kini ia bagikan kepada mahasiswa lain. Pada 2025, Ronny menjadi pemateri Smart Class KTI Forum Prestasi Mahasiswa FEB USU bertema “Rahasia Juara KTI: Dari Menentukan Ide hingga Strategi Kemenangan” dan menjadi mentor Klinik KTI. Di bidang akademik, Ia memegang IPK 3,87, menerima Beasiswa Prestasi USU pada 2024 dan 2025, serta meraih penghargaan Mahasiswa Berprestasi dalam USU Award 2024.
Ke depan, Ronny berencana berkarier di bidang riset dan membuka peluang melanjutkan studi S2, termasuk di luar negeri. Perjalanannya menunjukkan bahwa ketekunan dan keberanian mencoba dapat mengubah seseorang yang awalnya enggan menulis menjadi juara. (*)








