Lukisan di Atas Kanva Wajah

Senin, 11/05/2020 - 17:55
ilustrasi
ilustrasi

(oleh : Husmilia Nur’afriza)

Senior yang biasa ku sapa kak Runi itu memintaku untuk menutup mata. Ia mengoleskan pewarna mata (eyeshadow) berwarna biru dan ungu di kelopak mataku dengan halus, sampai rasanya aku mulai mengantuk. “Selesai” ucapnya, yang aku balas dengan ”Makasih ya, Kak” sambil tersenyum. Aku buru-buru melihat cermin kecil yang tergeletak di lantai untuk melihat kelopak mataku. Ah! aku rasa, aku mulai menyukai warna-warna ini.

Entah sejak kapan, aku sangat suka menatap wajahku di depan cermin sambil memolesnya dengan berbagai macam produk rias. Rasanya seperti ada ledakan dahsyat dari dadaku setelah setengah mati aku fokus ‘melukis’ di wajahku. “Wah, cantik” puji ku pada diri sendiri sambil berswafoto ria. Akupun mempostingnya pada media sosial dan teman-temanku ternyata menyukainya. Mereka juga berkomentar bahwa aku terlihat sangat cantik di foto itu.

Merasa banyak teman yang mendukung, aku pun semakin tertarik untuk melakukannya lagi. Aku mulai membaca, menonton, bahkan mempraktikan beberapa teknik merias. Aku tidak pernah menyangka, mengapa merias diri rasanya semenyenangkan ini. Walaupun terkadang aku merasa kesal karena hasilnya tidak sesuai, aku tidak bisa berhenti melakukannya dan memperbaikinya lagi. Tiga jam bahkan lima jam pun aku lalui untuk menghasilkan sesuatu yang ku sebut ‘karya’ ini.

Setelah selesai, aku tidak pernah lupa untuk mengabadikannya. Terkadang mempostingnya jika menurutku sangat cantik, atau hanya menyimpannya saja sebagai stok foto kalau-kalau aku ingin mengganti foto profil. Alasan lainnya adalah sebagai pembanding dari foto-foto riasan yang lalu, apakah kemampuan riasku bertambah atau masih di tahap yang sama.

Tidak jarang aku mendengar kata ‘menor’ yang ditujukan kepadaku. Alih-alih tersinggung, aku justru merasa senang. Karena menurutku, karya ku ini dapat dilihat dan disadari oleh orang lain. Dan kata ‘menor’ merupakan salah satu komentar orang yang telah melihat karyaku. Setiap karya yang dilihat oleh orang banyak akan selalu mendapat komentar, bukan?.

Selain ‘menor’, banyak juga yang bertanya bagaimana caraku merias alis, produk perona pipi (blush on) apa yang aku pakai, atau yang sekadar berkata bahwa hari ini aku memakai pewarna bibir (lipstick) yang sangat cocok. Jujur saja, semua komentar yang aku terima semakin membuatku menyukai riasan atau make up.

Kecintaanku terhadap riasan tidak berhenti sampai situ saja, aku pun mulai merasa penasaran dengan dunia kecantikan lainnya. Seperti perawatan kulit, cat kuku, parfum, hingga tata rambut. Rasa keingintahuanku seakan tidak pernah habis jika bersinggungan dengan hal seputar dunia kecantikan. Bahkan sekarangpun aku mulai mempelajari zat-zat apa saja yang terkandung dalam produk kosmetik atau produk perawatan kulit.

Rasa penasaranku pada dunia kecantikan ini sepertinya terus muncul, bahkan di alam bawah sadarku. Aku terus penasaran dan ingin tahu sampai aku sendiripun tidak bisa membendungnya. Nafsuku untuk terus mencoba dan mempraktikan hal-hal kecantikan seakan-akan sudah menjadi kebutuhanku sehari-hari. Bahkan membuatku menjadi seseorang yang perfeksionis dalam hal keestetisan.

Membicarakan dunia kecantikan denganku memang tidak akan ada habisnya. Entah bagaimana aku mendeskripsikannya, yang aku tahu, aku sangat mencintai dunia ini lebih dari apapun. Bagiku, merias atau make up adalah sebuah seni yang tercipta melalui imajinasi sang pemilik. Seni ini pun juga dapat menggambarkan sesosok empunya. Layaknya seni melukis, make up bekerja dengan cara menorehkan produk rias (foundation, eyeshadow, blush on, dan sebagainya) pada wajah sebagai kain kanvanya. Akan sangat menarik dan menantang. Jika biasanya kita melukis di atas kain kanva yang datar, maka kali ini kita melukis di atas wajah seseorang yang memiliki berbagai lekukan.

k

Dunia kecantikan membawaku pada sebuah kesadaran bahwa seni memang bukanlah hal yang mutlak. Tidak ada yang benar ataupun salah, dan tidak ada yang lebih buruk ataupun lebih baik. Mereka hanya beragam dan memiliki ciri khas tersendiri yang menggambarkan penciptanya. Banyak yang menganggap bahwa make up adalah sebuah tameng untuk menutupi ketidakpercayaan seseorang terhadap dirinya.

Bagiku, make up lebih dari sekadar itu. Ia memberikan begitu banyak inspirasi dan imajinasi yang mengalir begitu saja di pikiranku. Dengan memikirkannya saja aku merasa sangat bersemangat. Make up juga menjadi pelampiasanku ketika aku sedang sedih, marah atau senang sekalipun. Ia bagai hidup di dalam tubuhku dan akan terus tumbuh.

Dari make up jugalah aku memiliki kepercayaan diri. Aku menjadi sadar, bahwa apapun yang aku punya atau karya apapun yang aku buat, tidak akan pernah sama dengan orang lain. Dengan kata lain, aku sadar bahwa membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah hal yang salah. Karena menurutku, kita memiliki ‘warna’ dan ciri khas masing-masing yang akan terlihat bersinar dengan sendirinya. Memiliki seseorang sebagai role model untuk membuat kita lebih termotivasi tidak masalah, namun jika kita membandingkan diri dengan orang lain yang berujung insecure atau hilangnya kepercayaan diri itu sangat keliru.

Tidak hanya itu, aku juga belajar untuk tidak terlalu mendengarkan perkataan negatif orang sekitar yang menyuruhku untuk berhenti. Aku sangat menyukai hal ini, bagaimana bisa aku berhenti seperti yang orang lain minta?.

Kesimpulannya, jika kamu menyukai suatu hal dan meyakininya, kamu tidak boleh patah semangat walaupun orang-orang menyuruhmu berhenti. Selalu ada halangan yang akan dihadapi, namun halangan ini lah yang mengantarkan kita pada sebuah kekuatan. Jangan pernah menjadi orang lain, jadilah yang terbaik dari dirimu sendiri. Perasaan takut untuk mencoba juga harus mulai dihilangkan.

Jika kamu takut untuk mencoba, maka kemungkinan yang terjadi hanyalah kegagalan. Namun, jika kamu berani mencobanya, maka kamu memiliki satu kemungkinan lainnya, yaitu berhasil.

Dan aku rasa, aku tidak akan berhenti menyukai dunia make up. Aku juga tidak akan berhenti mencari tahu dan mencoba hal-hal seputar dunia kecantikan lainnya. Bagaimana denganmu?

Related News

Loading...

pers

loading...