Tari Janggitan: Bangkitnya Penjaga Sawah Lereng Lawu di Atas Panggung Kemerdekaan

Senin, 17/08/2026 - 03:31
Pementasan tari Janggitan dalam acara Malam Tirakatan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, di Gedung Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Karanganyar, Minggu (17/8/2026).

Pementasan tari Janggitan dalam acara Malam Tirakatan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, di Gedung Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Karanganyar, Minggu (17/8/2026).

Klikwarta.com, Karanganyar — Di balik hamparan hijau persawahan lereng Gunung Lawu, mitos lama tentang Janggitan, sang raksasa pelindung tanah kelahiran dari badai dan gagal panen, pernah tertidur panjang. 

Namun, pada Malam Tirakatan Peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Rapat Paripurna DPRD Karanganyar, Minggu (17/8/2026), sosok mitologi Tawangmangu tersebut bangkit menyapa publik modern lewat pementasan tari musikal bertajuk Janggitan: Jiwa Pertiwi.

Disutradarai Rindu Puspita Lokanantasari bersama penata tari Muhammad Hendrawan, S.Sn., pertunjukan dari Sanggar Tari Sekar Kencana Tawangmangu ini menyajikan koreografi segar yang mengawinkan akar tradisi dengan dinamika modernitas. 

Nyawa pementasan kian bertenaga berkat kolaborasi talenta muda lulusan ajang Karanganyar Mencari Bakat (KMB) 2026. Mulai dari lantunan vokal Juara 1 Solo Vokal, Kinaryosih Cahyaning Anganthi, hingga gestur memukau para penari Juara 1 Tari/Koreografi dari Sanggar Tari Pelangi Ngesthi Budaya seperti Syifa Permata Anggraini, Devita Maharani, Callysta Brillyan Acha Purnama, Yulia Pitri Widya Maya, Alicia Nurdya Syanum, Talita Regna Valen, Arletta Zena Giovanni, Nararya Novela Prameswari, dan Chika Ananda Krisnantasari.

"Kami mengawinkan gaya tari tradisi dan modern. Baik dari segi musik maupun vokabuler geraknya berakar kuat dari mitologi Tawangmangu," terang Hendrawan, saat ditemui di sela acara.

Dinamika pertunjukan ini kaya akan simbolisme agraris melalui gerakan tari dinamis yang menggambarkan kebersahajaan hidup masyarakat desa, diiringi iring-iringan pembawa sesaji serta harum asap dupa yang merebak.

Menariknya, karya ini menghadirkan perspektif tanpa antagonis; berbeda dari mitos raksasa pada umumnya, Janggitan tidak difigurkan sebagai monster menakutkan, melainkan personifikasi kekuatan alam yang memulihkan lahan dari rintangan dan serangan hama. 

Pertunjukan ini semakin hidup berkat aransemen musik adaptif yang dirancang fleksibel tanpa terkungkung pakem tradisi murni, namun tetap berhasil mempertahankan aura magis khas Tawangmangu. 

Puncak pementasan kemudian ditutup secara emosional lewat leburan lagu nasional Bendera, memadukan kearifan lokal Lereng Lawu dengan gelora nasionalisme. 

Aksi seniman muda Karanganyar ini membuktikan bahwa merawat ingatan tradisi adalah salah satu bentuk tertinggi dalam mencintai Indonesia.

Pewarta : Kacuk Legowo

Berita Terkait