ilustrasi (Net)
Oleh: Muhammad Bisri Mustofa
Apa yang terpikir olehmu pagi ini? Ngopi?puasa. Lalu? mengarang.
Ya, pada dasarnya mengarang adalah hal yang lumrah dilakukan manusia. Walau terkadang tanpa disadari, ketika ia berargumen tanpa faedah keilmuwan, ngetik status di media sosial, ngota, dan lain semacamnya itulah yang disebut mengarang.
Lalu bagaimana mengidealkan karangan yang bermanfaat dan layak dikonsumsi oleh publik, adalah yang ketika karangan-karangan itu memiliki nilai sosial dan kode etik bagi segala tingkatan masyarakat untuk dicerna berdasarkan kebutuhan berfikir realistis dan elastis serta mempunya rasa imajinasi yang beradab. Bisa saja ketika banyak orang mengadukan status-status galaunya pada beranda facebook, namun hal tersebut tanpa terkonsep dan menjadi nilai plus bagi dia serta orang lain, maka statusnya hanyalah karangan biasa. Namun lain cerita ketika statusnya berarah melalui kata-kata bijak atau juga menjadi sebuah bait kata yang terhimpun dalam hal ini bisa disebut puisi, maka orang tersebut layak dicap pengarang profesional.
Memang jarang orang mengategorikan pengarang dengan pengarang profesional. Pengarang semua orang bisa melakukan dari anak-anak, dewasa, dan tua sampai bodoh, berpendidikan,serta yang intelektualitas tinggi rata-rata memiliki kebiasaan mengarang dalam hidupnya. Tapi pengarang profesional adalah pengarang yang berlandaskan ilmu dan perasaan yang ia punya, apa yang ia lihat, ia pelajari, dan ia rasakan, lantas ia tuliskan menjadi sesuatu yang bermanfaat, maka orang tersebut layak menyandang gelar pengarang profesional.
Lantas, apa objek yang perlu dijadikan sebagai bahan karangan? Ya, banyak sekali yang dapat ditangkap dari sekeliling kita. Ketika kita melihat sebuah kebudayaan di daerah kita, lalu kita secara spontan menuliskannya dalam bentuk puisi, cerpen, bahkan berupa artikel, hal tersebut sudah menjadi sebuah ide mengarang. Saat kita mencerna perkataan seseorang yang sudah berbicara pada kita, lantas menuangkannya dalam bentuk kata-kata bijak atau quote, itu juga bisa disebut mengarang. Kala kita melihat sebuah fenomena khayalan, dongeng, isu, dan berita yang memiliki nilai nasehat tinggi lalu mengonsepnya menjadi sebuah cerita, itulah mengarang.
Dasar mengarang juga memiliki dua konsep berbeda, sudah terpapar pada paragraf diatas, bahwasanya mengarang dikategorikan menjadi dua genre yaitu mengarang secara fiksi dan mengarang secara ilmiah.
Mengarang fiksi adalah mengarang dengan tingkat keilmuah yang tak perlu lagi diukur namun layak diapresiasi lebih. Mengapa demikian? Sebagai seorang yang sudah pandai mengarang, tingkat tertinggi dari proses mengarang itu sendiri adalah berimajinasi. Sudah kita ketahui bahwa ada banyak pengarang yang pernah kita baca karyanya tercetak menjadi sebuah karya fiksi, pun yang secara otodidak dan spontan saja mengarang namun belum sempat membukukannya, adalah mereka yang mempunyai imajinasi melampaui batas intelektualitas manusia pada umumnya. Pengarang fiksi begitu cermat meracik kata demi kata, meramu dengan diksi bahasa yang unik, mengkolaborasikan parafrase, dan menggabungkan ketiganya menjadi sebuah karya tulis yang imajinatif. Memang semua orang bisa membuat karangan dengan bahasa yang biasa namun jarang dapat mengarang puisi, cerpen, dan novel dengan gaya bahasa yang nyentrik serta khas untuk dikonsumsi.
Lain lagi ketika seorang pengarang terjun bebas kedalam lingkup ilmiah. Saat kita berniat akan membuat karya tulis ilmiah, secara dipaksa kita harus memiliki wawasan dan sumber referensi yang memenuhi kriteria sesuai dengan tema dan tujuannya menulis. Perpaduan bahasa pengarang harus disinkron lagi dengan kebutuhan ilmu sosial yang masyarakat butuhkan.
Jadi, mulailah mengarang yang terkonsep untuk bisa menjadi penulis hebat dan diakui. Penulis adalah Pengarang. Namun pengarang bukanlah penulis jika imajinasinya tidak dimediakan menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Hal ini berdasarkan quote Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Lalu, kapan kamu akan mulai menulis?
Bengkulu, 26 mei 2018








