Komitmen Kemendikdasmen Perkukuh Fondasi Empat Pilar Infrastruktur Pendidikan

Kamis, 29/10/2026 - 18:04
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti

Klikwarta.com, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus menegaskan komitmennya dalam mempercepat transformasi pendidikan nasional, guna mendukung pencapaian Asta Cita keempat Presiden Republik Indonesia, yaitu mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. 

Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti saat menjadi narasumber Dialog Indonesia Bicara di TVRI beberapa waktu lalu. Mendikdasmen menyampaikan bahwa komitmen tersebut diwujudkan melalui peletakan fondasi yang kukuh dalam empat pilar infrastruktur pendidikan.

“Ada empat, pertama itu infrastruktur fisik seperti revitalisasi, digitalisasi dan sarana lain untuk membangun sekolah yang aman dan nyaman, yang kedua infrastruktur pedagogis di mana meningkatkan kualifikasi guru, kompetensi guru, dan kesejahteraan guru. Kemudian yang ketiga itu saya menyebutnya infrastruktur kultural di mana kita memperkuat pendidikan karakter. Kemudian yang keempat itu manajerial infrastruktur, bagaimana kita mengembangkan satu sistem tata kelola dalam penyelenggaraan pendidikan yang mendukung terwujudnya pendidikan bermutu untuk semua,” jelas Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, Kamis (22/10).

Pada Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kemendikdasmen mencatatkan keberhasilan signifikan dalam melampaui target revitalisasi satuan pendidikan. Pada tahun 2025, program revitalisasi berhasil menyasar 16.167 satuan pendidikan, melebihi target awal sebesar 10.669 sekolah. Adapun skala prioritas revitalisasi tahun 2026 diarahkan pada empat sasaran utama, yaitu sekolah yang terdampak bencana alam di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Guna menghadapi ancaman bencana, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa Kemendikdasmen bersinergi bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menyusun Peraturan Menteri dan panduan teknis melalui unit Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Surat Edaran yang dikeluarkan memuat panduan pembelajaran daerah terdampak bencana yang menekankan tiga asas utama.

"Pertama, keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi yang pertama karena merekalah yang sesungguhnya menjadi subjek dan merekalah harapan kita di masa depan. Yang kedua, pembelajaran dilaksanakan dengan fleksibel. Kemudian yang ketiga kami berikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengambil langkah-langkah tersendiri sesuai dengan keadaan daerahnya," jelas Menteri Abdul Mu'ti.

Terkait digitalisasi pembelajaran pada tahun 2025 Papan Interaktif Digital (PID) atau _Interactive Flat Panel_ (IFP) telah didistribusikan sebanyak 288.865 unit. Program ini dirancang agar seluruh sekolah secara bertahap menerima perangkat digital, dengan target jangka panjang Presiden mencapai minimal 6 unit PID per sekolah.

Menteri Abdul Mu’ti dalam kesempatan ini juga menjelaskan hasil penelitian yang melibatkan guru dan siswa menunjukkan bahwa pemanfaatan PID secara nyata meningkatkan motivasi belajar anak, efektivitas pengajaran, serta interaksi kelas.

Pemanfaatan PID di lapangan juga menumbuhkan berbagai inovasi pembelajaran kreatif oleh para pendidik, antara lain pembuatan materi berbasis kecerdasan buatan _(Artificial Intelligence_/AI) bagi siswa tunarungu di SLB Kudus, juga penggunaan perangkat audio interaktif bagi siswa tunanetra di Jakarta Selatan.

“Saat kunjungan Pak Presiden beberapa waktu yang lalu di Bekasi, mereka sudah bisa membuat semacam _virtual lab_, sehingga ketika Pak Presiden masuk ditampilkan reaksi asam basa, yang dahulu kita harus ke Lab kemudian pakai tabung, sekarang cukup dengan layar itu digeser saja,” ujar Abdul Mu’ti.

Agar perangkat PID dapat dimanfaatkan secara optimal, Menteri Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa ada lima komponen di dalam ekosistem PID yang terintegrasi secara utuh, yang pertama adalah PID, kemudian pelatihan untuk Guru, lalu laptop, selanjutnya Internet dan terakhir Listrik.

“Kita bekerja sama dengan PLN untuk penyambungan jaringan baru dan memang ada yang sempat bertanya kalau nanti PID-nya bertambah, kan biaya listriknya menjadi mahal, tapi itu sudah ada di dalam pedoman penggunaan dana BOS, dana BOS itu bisa digunakan untuk mendukung operasional termasuk pembiayaan listrik,” terang Abdul Mu’ti.

Sinergi empat pilar infrastruktur, revitalisasi berbasis swakelola, respons cepat bencana melalui SPAB, dan penguatan ekosistem digitalisasi ini diharapkan mampu mewujudkan transformasi pendidikan bermutu dan merata bagi seluruh generasi penerus bangsa. (**) 

Berita Terkait