Masyarakat Ikut Berperan Jaga Rupiah Tetap Kuat

Kamis, 27/09/2018 - 11:01
Ilustrasi (net)

Ilustrasi (net)

Klikwarta.com - Meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini terus fluktuatif, namun perekonomian Indonesia tidak akan mengalami krisis seperti tahun 1996 lalu.

Penilaian itu disampaikan oleh Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Dr. Agus Eko Nugroho di Jakarta, Rabu (26/9/2018) dalam diskusi bertema "Menjaga Rupiah Memperkuat NKRI".

Menurut Agus Eko, masalah fluktuasi rupiah ini lebih disebabkan masalah eksternal. Indonesia terkena imbas perang dagang Amerika Serikat dengan China.

"Saya kira, aset kita, baik dari aset finansial kita, lembaga keuangan kita, masih cukup kuat. Tidak usah ragu-ragu aset rupiah kita akan tergerus dengan fenomena ini," kata Agus Eko dalam diskusi yang diselenggarakan Komite Mahasiswa dan Pemuda Reformasi (KMP Reformasi.

Menurt dia, masyarakat harus tetap percaya diri. Melakukan kegiatan ekonomi yang normal saja. Baik itu untuk keperluan sekolah anak, belanja, biasa saja. Mau nabung, mau investasi juga silahkan.

Hanya untuk sementara, kalau tidak perlu, ia berpendapat masyarakat tidak perlu bepergian ke luar negeri.

i
Peserta diskusi dengan tema

Yang penting  masyarakat tidak melakukan rush money atau menarik uang dalam jumlah besar dari bank.

"Juga tidak memborong yang tidak jelas. Misalnya biasanya beli susu satu atau dua botol, lalu tiba-tiba beli sepuluh botol. Atau beli beras, biasanya beli satu atau dua kg, sekarang tiba-tiba beli dua karung," katanya.

Dan pemerintah perlu memberikan suplai barang dan jasa itu secara baik.

"Confident itu tetap harus dijaga. Dari situlah muaranya. Pemerintah harus confident, dipercaya rakyat," katanya.

Jadi beda dengan krisis moneter tahun 1998 lalu. Saat itu masyarakat memborong kebutuhan barang mereka.

"Kita punya pengalaman sejarah. Kondisi banking sektor kita saat ini fit. Itu yang terpenting. Aset kita dimiliki perbankan sekitar 68 persen. Bank kita sehat dan digaransi. Kalau ada masalah, akan di back up oleh LPS. Yang mungkin terjadi masalah di non banking sektor yakni pasar modal. Tapi total aset kita di pasar modal tidak banyak. Bank kita tidak memainkan uangnya di pasar uang global Jadi kira relatif aman selama confident masyarakat terjaga," katanya.

Terkait kampanye pemilu 2019, menurut Eko kegiatan politik ini bisa saja berdampak terhadap rupiah.

"Tapi buat saya, jadi Rp15.000 atau Rp16.000 tidak masalah. Selama masyarakat tetap confident," katanya.

Sementara itu Sekjen Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Riyan Hidayat S. Sos mengatakan, dirinya kurang sepakat dengan kata rupiah melemah. Dolar  AS-lah yang menguat, beda ketika di tahun 1996 naiknya dolar terhadap rupiah.

"Kita harus jernih melihat  keadaan bangsa kita.. Jangan sampai kita sebagai mahasiswa malah memperburuk keadaan," kata mantan Presiden Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah itu.

Oleh karenanya kita harus mencarikan solusi. Ekonomi kita sudah berjalan dengan baik namun negara AS sendiri lebih cepat dalam perekonomiannya.

Dari tahun ke tahun sejak tahun 2014, perekonomian Indonesia berjalan dengan baik. Guncangan ekonomi global dirasakan seluruh dunia, namun negara kita masih tetap kokoh berdiri.

Banyaknya investasi di Indonesia karena negara luar percaya akan negara Indonesia.

Yang penting saat ini adalah persoalan regulasi masalah perekonomian kita harus diperbaiki. Misal sistem pajak sampai saat ini masih belum maksimal. Ini adalah tugas DPR untuk mengesahkan UU Pajak.

"Saat ini pada proses politik menuju Pemilu 2019,  kita semua berharap adanya perbaikan bangsa dari diri kita sendiri," katanya.

Di akhir acara diskusi, peserta melakukan deklarasi mendukung program ekonomi Pemerintah Jokowi. (Sumber: (Suarakarya.id)

Berita Terkait