Purnomo-Teguh Tak Dapat Rekomendasi Partai, Relawan Garuda Terus Lakukan Konsolidasi

Selasa, 21/07/2020 - 02:06
Inisiator Relawan Gerakan Rakyat Untuk Daerah Surakarta (Garuda) BRM Kusumo Putro.

Inisiator Relawan Gerakan Rakyat Untuk Daerah Surakarta (Garuda) BRM Kusumo Putro.

Klikwarta.com, Solo - Kendati telah melewati proses dan dinamika panjang untuk maju ke kontestasi Pilkada Solo 2020, namun pasangan Calon Walikota (Cawali) dan Calon Wakil Walikota (Cawawali) Solo hasil penjaringan DPC PDIP Kota Solo, Achmad Purnomo-Teguh Prakosa (Puguh) akhirnya pun gagal mendapat rekomendasi setelah DPP PDIP secara resmi memutuskan memberikan rekomendasi tersebut kepada Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa.

Terkait hal itu, inisiator Relawan Gerakan Rakyat Untuk Daerah Surakarta (Garuda) BRM Kusumo Putro menyampaikan, keputusan itu sesuai dengan prediksi berbagai pihak. Terlepas dari penilaian kemampuan kepemimpinan figur calon,  bahwa sebagai anak Presiden, tidaklah mengejutkan jika Gibran dengan mudah mendapat rekomendasi sebagai calon walikota.

Namun demikian, ditegaskan Kusumo, sebagai kumpulan elemen relawan pendukung Purnomo-Teguh (Puguh), pihaknya tetap berkomitmen untuk memberi dukungan sesuai tujuan awal.

"Kami atas nama Garuda tetap berkomitmen dengan tujuan awal, yakni mencari figur pemimpin yang bisa menjadi pengayom masyarakat Solo. Dimana figur itu sebelumnya telah disepakati bersama dengan kebulatan tekad melalui deklarasi dukungan kepada Puguh," jelas BRM Kusumo Putro dalam katerangannya kepada Klikwarta.com, pada Senin (20/07/2020).

Lebih lanjut, meski pasangan Purnomo-Teguh tak mendapatkan rekomendasi, Kusumo menegaskan bahwa Relawan Garuda tak lantas bubar apalagi beralih dukungan.

"Komunikasi dan konsolidasi untuk menentukan sikap selanjutnya terus dilakukan antar elemen. Saat ini, meski calon wakil Gibran adalah Teguh yang semula merupakan bakal calon wakil Purnomo, namun itu bukan berarti menjadikan Garuda otomatis berlabuh mendukung Gibran -Teguh," tandas tokoh pemuda Kota Solo itu.

Kusumo kembali menegaskan, Garuda bukanlah kumpulan elemen masyarakat yang berafiliasi kepada parpol tertentu, melainkan kumpulan elemen yang memiliki kerinduan yang sama, aspirasi yang sama terkait Kota Solo agar dipimpin oleh seorang figur yang bisa mengayomi seluruh lapisan masyarakat.

"Solo butuh figur seorang bapak yang bisa memberi kesejukan dan menentramkan warganya, figur yang kuat dan mandiri bukan besar karena polesan fasilitas. Dengan melihat kondisi saat ini, kami minta maaf kepada masyarakat, khususnya yang tergabung dalam Garuda karena belum bisa memenuhi harapan untuk mendapatkan pemimpin seperti yang kita harapkan," ungkapnya.

Dikatakan Kusumo, bahwa dalam catatannya, saat ini gencar dihembuskan oleh aktivis di media sosial mengkampanyekan kotak kosong. Pembicaraan itu dari mulut ke mulut terus dibisikkan, bahkan meneriakkan untuk memenangkan kotak kosong.

Hal itu, menurut dia, menggambarkan militansi perlawanan yang luar biasa terhadap dominasi parpol dan keangkuhan penguasa.

"Sejumlah pihak memprediksi kotak kosong punya peluang mempecundangi Gibran, meskipun banyak suara pesimistik. Alasannya beragam, karakter warga Solo beda dengan Makasar, Solo basis PDIP. Oligarki sudah menguat, nepotisme menebal juga faktor KPU dan pemihakan aparatur," urai Kusumo.

Untuk itu, lanjut Kusumo, pihaknya mengingatkan kepada masyarakat Solo agar cerdas dalam mensikapi dinamika politik saat ini dan berharap masyarakat pun tidak kehilangan akal sehat.

"Mungkin Garuda bukan pendukung militan Puguh. Meski saat ini tak ada gejolak yang nampak diumbar.  Namun pelan - pelan akumulasi kekecewaan masyarakat ini bisa menjadi energi dahsyat dalam perlawanan diam-diam. Jangan remehkan Ahmad Purnomo, Dia politisi senior PDIP Solo yang punya basis akar rumput. Sebuah survey dari salah satu media online membuktikan elektabilitas Purnomo jauh di atas putra Presiden Jokowi. Purnomo lebih 40 persen. Gibran tak sampai 20 persen," tandasnya.

Gagalnya Purnomo menjadi calon walikota, menurut Kusumo, bisa saja dilihat sebagai sebuah bentuk pendzaliman.

"Dan itu dapat menarik simpati publik. Kotak kosong menjadi representasi Purnomo. Kotak kosong menjadi simbol perjuangan. Kalau segenap kekuatan bisa disatukan dan menyatu, maka tidak mustahil Pilkada Solo akan dimenangkan kotak kosong," paparnya.

BRM Kusumo Putro pun menyatakan, Garuda siap mengawal Pilkada Solo yang menurutnya dibayang-bayangi akan terjadi pasangan calon melawan kotak kosong.

"Yang jelas, kami akan terus mengawal proses Pilwalkot Kota Solo," tegas dia.

Secara pribadi, Kusumo pun menilai Pilkada Kota Solo tahun ini akan sangat berbeda dibandingkan pilkada sebelumnya. Saat ini, kekuatan PDIP kota Solo dengan perolehan 30  kursi di DPRD sudah 'mengunci' perolehan kursi. Dengan jatuhnya rekomendasi pada Gibran Rakabuming Raka yang notabene anak seorang Presiden Joko Widodo, menurut dia, membuat partai lain menjadi segan untuk berkompetisi dalam pilwalkot Solo.

Meski saat ini sudah ada calon dari jalur independent yang mendaftar dan memasuki tahap verifikasi faktual, namun syarat untuk bisa lolos dalam pilkada juga sangat berat. Karenanya, tambah Kusumo, sesuai dengan mekanisme KPU, jika dalam pilkada  hanya ada satu calon (calon tunggal) maka calon tersebut akan melawan  kotak kosong.

"Dan hal tersebut dimungkinkan saja terjadi di Kota Solo. Dikhawatirkan jika calon independen tidak lolos, dan partai koalisi tidak mengajukan calon, bisa jadi dalam Pilwalkot Solo akan melawan kotak kosong. Itu akan menjadi catatan sejarah pertama kalinya Solo pilkada melawan kotak kosong," pungkasnya. 

(Pewarta : Kacuk Legowo)

Berita Terkait