Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq
Klikwarta.com, Yogyakarta – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq, meneguhkan enam pesan Buya Ahmad Syafii Maarif kepada wisudawan Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta sebagai bekal moral menghadapi dunia yang berubah cepat akibat revolusi teknologi, banjir informasi, dan kecerdasan buatan (AI).
Pesan itu disampaikan Fajar saat memberikan pidato kebangsaan dalam Haflah Takharruj (Wisuda) Angkatan ke-100 Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta Tahun Ajaran 2025/2026 di Convention Hall Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Ahad (10/5).
Dalam kesempatan tersebut, Fajar mengulas kembali enam pesan Buya Ahmad Syafii Maarif yang pernah disampaikan kepada para siswa Mu’allimin dalam forum Darul Arqam Purna Mu’allimin Yogyakarta pada 27 Maret 2021.
“Siapkan diri, lapangkan dada, jangan mudah marah, jangan mudah putus asa. Hadapi masyarakat dengan kepala tegak, sampaikan pesan Islam itu dengan bahasa hati. Saya kira enam pesan Buya ini hari ini menjadi manifesto moral yang sangat relevan,” ujar Wamen Fajar.
Menurutnya, pesan Buya Syafii Ma’arif semakin menemukan relevansinya ketika generasi muda hidup di tengah revolusi teknologi, penetration media sosial, krisis keteladanan, dan tantangan kesehatan mental.
“Pesan Buya siapkan diri itu berarti anak-anaku semua harus menyiapkan mental. Lapangkan dada karena ketika terjun ke masyarakat, kita akan menghadapi dunia yang lebih luas, lebih beragam, bahkan lebih keras,” ungkapnya.
Fajar menilai enam pesan Buya bukan sekadar nasihat personal, melainkan panduan moral bagi kader Mu’allimin agar mampu berdiri tegak di tengah perubahan zaman.
Enam pesan tersebut menurut Fajar yang juga merupakan Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengajarkan kesiapan mental, kelapangan hati, pengendalian emosi, ketangguhan menghadapi kegagalan, keberanian terjun di tengah masyarakat majemuk, serta kemampuan menyampaikan nilai Islam dengan bahasa yang menyentuh hati.
Di sisi lain, Fajar juga menyoroti tantangan kesehatan mental yang semakin sering terjadi di kalangan generasi muda akibat tekanan media sosial, perubahan pola pergaulan, dan krisis relasi sosial.
“Anak-anakku sekalian, jangan mudah putus asa. Jadilah kader petarung. Kita harus punya resiliensi, punya kepercayaan diri, dan ketangguhan mental,” pesan alumni Lembaga Pendidikan Kader Muhammadiyah, Pesantren Hajjah Nuriyah Shabran Surakarta tersebut.
Di tengah pidatonya, Fajar menyinggung sebuah berita dari Korea Selatan tentang robot humanoid berbasis kecerdasan buatan yang ditasbihkan sebagai biksu di sebuah kuil untuk memberikan panduan moral dan melayani umat.
“Robot dibekali data, kemampuan interaksi, bahkan pelayanan moral. Kita hidup di era revolusi teknologi. Karena itu manusia harus kembali menemukan nilai keistimewaannya sebagai manusia,” ujarnya.
Menurut Fajar, perkembangan AI membuat manusia tidak cukup hanya mengejar kecerdasan teknis. Yang membedakan manusia adalah hati, nurani, dan kemampuan merawat nilai kemanusiaan.
“Kalau hanya mengejar kecerdasan teknis, robot bisa menggantikannya. Tetapi yang tidak tergantikan adalah hati manusia. Di situlah letak nilai dan keistimewaan kita,” tegasnya.
Ia menyebut para wisudawan Mu’allimin sebagai kader bangsa dan kader persyarikatan yang harus siap menghadapi dunia yang bergerak cepat. Tantangan generasi muda hari ini, kata dia, bukan lagi sekadar mencari informasi, tetapi menyaring informasi dan belajar cepat.
“Hari ini yang dibutuhkan bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi kemampuan menyaring informasi. Seberapa cepat kita belajar dan beradaptasi menjadi sangat penting,” katanya.
Ia mengingatkan kader Mu’allimin agar mampu berdiaspora ke berbagai bidang dan tempat tanpa kehilangan jati diri.
“Perluas rentang pergaulan, berdiaspora di berbagai tempat, tetapi tetap punya jati diri,” pungkasnya.
(Kontributor: Arif)








