Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha
Klikwarta.com, Garut, 8 Agustus 2026 – Media sosial yang selama ini lekat dengan hiburan di kalangan peserta didik didorong menjadi ruang baru untuk belajar dan berkarya. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Komisi X DPR RI mengembangkan Gerakan Humas Muda untuk membekali pelajar dengan kemampuan literasi digital, komunikasi publik, dan kemampuan menghasilkan karya positif.
Selain mendorong pemanfaatan ruang digital untuk belajar dan berkarya, Gerakan Humas Muda juga diarahkan untuk membangun kesadaran mengenai penggunaan media sosial yang aman dan bertanggung jawab sebagai bagian dari ekosistem pelindungan anak di ruang digital. Hal ini sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS), yang diperkuat melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026.
Melalui edukasi literasi digital, peserta didik didorong memahami risiko di ruang digital, menjaga privasi dan keamanan data pribadi, bijak dalam membagikan informasi, serta membangun kebiasaan bermedia sosial yang sehat dan bertanggung jawab.
Sebagai bentuk dukungan, Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen bekerja sama dengan Komisi X DPR RI menggelar Lokakarya “Humas Muda: Belajar Bermakna, Berkarya Bersama” di Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut, Jawa Barat, Jumat (7/8). Kegiatan yang diikuti oleh 100 peserta dari jenjang SMP, SMA, SMK, serta guru ini diharapkan dapat mendorong pelajar untuk memahami bahwa setiap informasi, komentar, maupun karya yang dipublikasikan di ruang digital memiliki dampak yang harus dipertanggungjawabkan.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan IPI Garut, Lucky Rahayu, mengapresiasi kepercayaan yang diberikan kepada IPI Garut sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. Ia menekankan pentingnya penguatan karakter dan tanggung jawab moral generasi muda dalam menggunakan media sosial.
“Di era digital saat ini, setiap orang dapat menyampaikan informasi dengan sangat mudah. Namun, tidak semua orang mampu menggunakannya dengan penuh tanggung jawab ataupun inspirasi. Perbedaannya terletak pada karakter, pengetahuan, dan tanggung jawab itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan hari ini tidak cukup hanya melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, dan menggunakan teknologi untuk menghadirkan manfaat bagi khalayak,” ujar Lucky.
Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, mendorong peserta didik menjadikan Humas Muda sebagai ruang untuk mengaktualisasikan diri dan memberikan dampak positif bagi lingkungan.
“Bekerja itu melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan, tetapi berkarya adalah mengaktualisasikan diri, mengekspresikan diri, serta menciptakan nilai dan dampak jangka panjang. Anak-anak semua harus tahu memilih dan memilah mana yang pantas dipublikasikan dan mana yang tidak. Bahasa Indonesia diutamakan, bahasa asing dikuasai,” tegas Ferdiansyah.
Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, mengatakan Gerakan Humas Muda menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran dalam membangun narasi positif tentang pendidikan.
“Jangan hanya hadir di sekolah, tetapi temukan makna dalam apa yang kita pelajari. Jadikan sekolah sebagai ruang berkarya dan berinteraksi. Jangan hanya menjadi konsumen informasi, jadilah pencipta karya. Seorang Humas Muda harus berani mencoba, tidak takut gagal, dan terus berkolaborasi untuk menciptakan dampak nyata bagi pendidikan bermutu untuk semua,” ujar Yudhistira.
Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen, Laksmi Dewi, menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan murid serta menumbuhkan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
“Pembelajaran mendalam adalah pendekatan yang memuliakan. Bagaimana guru dan murid saling menghargai, bertoleransi, dan berinteraksi secara positif. Di dalam proses ini, murid bukan sekadar objek, melainkan mitra guru dalam melaksanakan pembelajaran. Kita ingin menciptakan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan,” ujar Laksmi.
Lebih lanjut, Laksmi mengharapkan sinergi antara guru dan murid dapat menciptakan proses belajar yang membantu murid berkembang secara utuh, baik dari sisi olah pikir, olah hati, olah rasa, maupun olahraga, sehingga mereka siap menjadi generasi penerus yang tangguh dan berkarakter. (*)








