Oleh: Eris, Wartawan Klikwarta.com
Langit pagi di Kepulauan Selayar belum sepenuhnya terang ketika suara mesin perahu mulai memecah sunyi laut. Ombak kecil berkejaran di pesisir, sementara angin dari arah timur membawa aroma asin yang khas. Di atas perahu kayu yang bergerak perlahan menuju Pulau Gusung, beberapa prajurit TNI duduk berdampingan dengan warga. Di antara mereka, tersusun semen, kayu, seng, dan berbagai material bangunan lain yang akan digunakan untuk merehab rumah warga penerima bantuan RTLH dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 1415/Selayar.
Perjalanan itu bukan sekadar pengangkutan material.
Di atas laut Selayar yang terkadang tenang namun sering pula bergelora, mereka sedang membawa harapan.
Harapan milik warga yang selama bertahun-tahun hidup di rumah rapuh.
Harapan petani yang mendambakan jalan tani agar hasil kebunnya lebih mudah dipasarkan.
Harapan masyarakat desa yang selama ini hidup dengan keterbatasan air bersih.
Dan harapan tentang hadirnya negara hingga ke wilayah yang selama ini terasa jauh dari pusat pembangunan.

Program TMMD ke-128 Tahun Anggaran 2026 yang dilaksanakan Kodim 1415/Selayar memang bukan sekadar proyek pembangunan biasa. Ia hadir sebagai gerakan pengabdian yang menyatukan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam satu tujuan besar: membangun desa dan menghidupkan kembali harapan rakyat.
-
Membuka Jalan di Tanah yang Lama Terisolasi
Program TMMD resmi dibuka pada 22 April 2026 di Lapangan Kelurahan Batangmata Sapo, Kecamatan Bontomatene, Kabupaten Kepulauan Selayar. Upacara pembukaan berlangsung khidmat dan dihadiri unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, hingga warga setempat.
Namun bagi masyarakat Batangmata Sapo, makna TMMD sesungguhnya baru terasa ketika alat berat mulai bekerja di lereng-lereng bukit dan para prajurit turun langsung ke lapangan bersama warga.
Di wilayah itu, akses jalan tani selama bertahun-tahun menjadi persoalan utama masyarakat. Jalan menuju kawasan perkebunan hanya berupa jalur sempit berbatu yang sulit dilalui, terutama saat musim hujan.
Kini, melalui TMMD ke-128, jalan sepanjang 3,3 kilometer mulai dibuka dengan membelah bukit, menembus semak belukar, serta melewati tanjakan dan turunan curam.
Lumpur menempel di sepatu para prajurit.
Keringat bercampur tanah.
Tetapi tak satu pun terlihat mengeluh.

Dengan semangat gotong royong, personel Satgas TMMD bersama masyarakat bekerja dari pagi hingga sore hari demi menyelesaikan akses jalan yang selama ini hanya menjadi impian warga.
Dansatgas TMMD ke-128 Kodim 1415/Selayar, Letkol Czi Yudo Haryanto, ST., mengatakan pembangunan jalan itu menjadi salah satu prioritas utama karena menyangkut aktivitas ekonomi masyarakat.
“Jalan ini nantinya akan membuka keterisolasian desa dan memperlancar distribusi hasil pertanian masyarakat,” ujarnya.
Bagi warga, jalan itu bukan sekadar hamparan tanah yang diratakan.
Ia adalah jalan harapan.
Andi (47), warga Batangmata Sapo, mengaku jalan tersebut sudah lama diimpikan masyarakat.
“Kami sangat bersyukur. Dulu kalau hujan kami sulit lewat. Sekarang jalan sudah mulai terbuka dan masyarakat sangat terbantu,” katanya.
-
Ketika Rumah Tak Lagi Bocor Saat Hujan
Di sudut lain Selayar, tepatnya di Desa Kahu-Kahu Utara, kisah haru hadir dari rumah panggung sederhana milik Tutu (60).
Selama bertahun-tahun, nelayan tradisional itu tinggal bersama istrinya, Bau Bunga (59), dan anak mereka di rumah yang nyaris roboh. Atapnya bocor. Dindingnya lapuk. Ketika angin laut datang pada malam hari, rasa khawatir selalu lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Melalui program RTLH TMMD ke-128, rumah itu akhirnya direhabilitasi.
Namun perjuangan membangun rumah tersebut tidak mudah.

Material bangunan harus diangkut menggunakan perahu kecil menyeberangi lautan menuju Pulau Gusung. Ombak kadang tinggi, angin berubah cepat, dan perjalanan harus ditempuh dengan penuh kehati-hatian.
Tetapi semua itu tidak menyurutkan semangat Satgas TMMD dan masyarakat.
Mereka tetap berlayar.
Tetap memikul material.
Tetap bekerja.
Karena bagi mereka, pengabdian tidak boleh berhenti hanya karena medan yang sulit.
Kini rumah Tutu telah berubah.
Atap baru berdiri kokoh.
Dinding rumah tampak rapi.
Fasilitas MCK dibangun.
Bahkan penerangan tenaga surya turut dipasang.
Bau Bunga tak kuasa menyembunyikan rasa harunya.
“Kami sangat bersyukur dan bahagia. Terima kasih kepada TNI dan pemerintah daerah yang sudah membantu kami,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
-
Air Bersih yang Selama Ini Hanya Harapan
TMMD ke-128 juga menghadirkan pembangunan sumur bor di Desa Tamalanrea.
Bagi masyarakat desa itu, air bersih bukan sesuatu yang mudah didapatkan. Saat kemarau datang, warga harus berjalan cukup jauh demi memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Kini, pembangunan sumur bor mulai membawa optimisme baru.
Meski pengerjaan masih berlangsung, masyarakat sudah merasakan hadirnya harapan tentang kehidupan yang lebih baik.

Pelda Yusuf Sonda selaku Sub Koordinator kegiatan menyebut keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan program tersebut.
“Kami bekerja bersama masyarakat. Semangat gotong royong inilah yang membuat pekerjaan terus berjalan,” katanya.
TMMD di Tamalanrea bukan hanya tentang pengeboran tanah untuk mencari air.
Ia adalah upaya menggali harapan yang selama ini terpendam dalam kehidupan masyarakat desa.
-
Masjid yang Diperbaiki, Kebersamaan yang Dikuatkan
Di Kelurahan Batangmata Sapo, Satgas TMMD juga melakukan rehabilitasi masjid.
Pekerjaan meliputi pemasangan keramik, pembangunan tempat wudhu, pengecatan dinding, hingga pemasangan kubah dan plafon masjid.
Menariknya, pembangunan itu tidak hanya dikerjakan personel TNI.
Warga ikut hadir.
Anak muda ikut membantu.
Tokoh masyarakat ikut mengawasi.

Semua larut dalam semangat gotong royong yang terasa begitu hidup.
Di sela-sela pekerjaan, suara canda dan tawa warga terdengar menyatu dengan dentingan alat bangunan. Masjid itu perlahan bukan hanya berubah secara fisik, tetapi juga kembali menjadi ruang kebersamaan masyarakat.
“Kami berharap masyarakat nantinya bisa beribadah dengan lebih nyaman,” ujar salah seorang personel Satgas TMMD.
-
TMMD dan Pengabdian yang Tak Selalu Terlihat
Di balik sibuknya pembangunan jalan, rumah, dan masjid, ada pula sosok-sosok sederhana yang menjadi bagian penting keberhasilan TMMD.
Salah satunya adalah Ibu Martati (52).
Sejak pukul tiga dini hari, ia sudah berada di dapur menyiapkan makanan bagi puluhan personel Satgas TMMD.
Bersama beberapa warga lainnya, ia memasak tanpa mengenal lelah demi memastikan para prajurit bisa makan sebelum bekerja di lapangan.

Rumahnya bahkan berubah menjadi dapur umum tempat berkumpulnya TNI, Polri, dan masyarakat.
“Saya bangga rumah saya bisa menjadi tempat makan bapak-bapak TNI dan Polri yang sedang membangun desa kami,” katanya.
Di balik setiap pembangunan besar, memang selalu ada pengabdian-pengabdian kecil yang sering kali tak terlihat.
-
Lebih dari Sekadar Pembangunan
TMMD ke-128 Kodim 1415/Selayar juga menghadirkan berbagai program nonfisik.
Mulai dari penyuluhan kesehatan, Posyandu, wawasan kebangsaan, penyuluhan hukum, Kamtibmas, hingga penyuluhan pertanian kelapa.
Masyarakat terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan.

TMMD memahami bahwa membangun desa bukan hanya soal membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusianya.
Karena jalan bisa selesai dibangun dalam hitungan minggu.
Rumah bisa berdiri dalam hitungan hari.
Tetapi membangun kesadaran, pengetahuan, dan semangat masyarakat membutuhkan sentuhan yang lebih dalam.
-
Ketika Pengabdian Menjadi Jalan Harapan
Kini, di Batangmata Sapo, Tamalanrea, hingga Kahu-Kahu Utara, jejak TMMD mulai terlihat nyata.
Jalan tani mulai terbuka.
Rumah-rumah warga mulai berdiri lebih layak.
Masjid kembali nyaman digunakan.
Air bersih mulai mengalir.
Dan yang paling penting, harapan masyarakat perlahan kembali tumbuh.
TMMD ke-128 di Selayar akhirnya menjadi bukti bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan mewah.

Kadang, pengabdian hadir dalam bentuk prajurit yang rela bergelut lumpur demi membuka jalan desa.
Dalam bentuk warga yang ikut mengangkat batu di tengah hujan.
Atau dalam bentuk ibu-ibu yang bangun dini hari demi menyiapkan makanan bagi para pekerja pembangunan.
Di Selayar, pengabdian itu hidup.
Ia berjalan di jalan berlumpur.
Berlayar di atas ombak.
Dan tinggal di hati masyarakat yang kini percaya bahwa harapan mereka tidak lagi berjalan sendirian. (*)








