PETISI 26 Hadir Bawa Harapan Kesembuhan Christevan

Selasa, 27/10/2026 - 00:27
PETISI 26 mengunjungi keluarga Christevan, Senin (26/10)

PETISI 26 mengunjungi keluarga Christevan, Senin (26/10)

Klikwarta.com, Bogor -  Perjuangan seorang anak untuk sembuh tidak hanya membutuhkan penanganan medis, tetapi juga keteguhan keluarga yang setia mendampingi di setiap tahap pengobatan. Bagi keluarga Christevan Mario Sanjaya, harapan agar sang buah hati dapat tumbuh sehat terus dijaga, meski perjalanan panjang yang harus dilalui diwarnai keterbatasan ekonomi dan biaya perjalanan berobat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Bidang Sosial dan Kemanusiaan PETISI 26 (Gerakan Masyarakat Sipil Bogor Bersatu). Bersama Pembina PETISI 26, Dian Asmara, yang akrab disapa Paul, beserta jajaran, mereka mengunjungi kediaman keluarga Christevan di Lingkungan 2 Citatah Dalam No. 18, RT 001/RW 005, Kelurahan Ciriung, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (26/10/2026).

Kunjungan itu dilakukan untuk mendengarkan langsung kisah perjuangan keluarga, mengetahui kondisi kesehatan Christevan, serta mengidentifikasi kebutuhan yang masih memerlukan dukungan. Di balik kunjungan tersebut, tersimpan harapan agar keluarga Christevan tidak harus menghadapi seluruh tantangan pengobatan sendirian.

Ibu Christevan, Serlissylvana Maribunga, menuturkan bahwa kondisi yang dialami putranya telah diketahui sejak lahir pada September 2018. 

Padahal, selama masa kehamilan, ia mengaku rutin menjalani pemeriksaan medis, tetapi kondisi tersebut belum terdeteksi.
Setelah dilahirkan di Rumah Sakit Annisa, Christevan membutuhkan penanganan medis segera. Pihak rumah sakit kemudian berkoordinasi untuk merujuknya ke fasilitas kesehatan yang mampu memberikan perawatan lebih lanjut.

Keluarga sempat diarahkan ke salah satu rumah sakit di Jakarta. Namun, karena keterbatasan tempat perawatan intensif untuk bayi, mereka kemudian menuju Rumah Sakit Tarakan. Di rumah sakit tersebut, Christevan mendapatkan penanganan dokter dan menjalani operasi pertamanya ketika berusia sekitar 14 hari.

Menurut penuturan sang ibu, putranya mengalami kelainan yang menyebabkan kandung kemih berada di luar rongga tubuh sebagaimana mestinya. Kondisi itu membutuhkan penanganan khusus dan serangkaian tindakan medis.

Operasi pertama bukanlah akhir dari perjuangan. Hingga kini, Christevan disebut telah menjalani sekitar enam kali operasi. Sementara itu, kebutuhan tindakan medis berikutnya masih bergantung pada perkembangan kondisi kesehatannya.

Bagi Serlissylvana dan suaminya, setiap tahapan pengobatan menjadi perjalanan yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan. Ada kecemasan yang harus dihadapi, ada waktu yang harus dikorbankan, serta ada harapan yang terus dipelihara setiap kali sang anak menjalani perawatan. Di tengah semua itu, keluarga berusaha tetap kuat demi memberikan kesempatan terbaik bagi Christevan untuk memperoleh kesembuhan.

Perjuangan keluarga tidak berhenti pada upaya mendapatkan penanganan medis. Mereka juga harus memikirkan biaya transportasi dan kebutuhan selama perjalanan menuju tempat pengobatan di Bandung.

Serlissylvana bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta. Sementara itu, ayah Christevan, Teguh Sanjaya Putra, sebelumnya bekerja sebagai petugas keamanan. Namun, setelah mengalami kecelakaan, ia tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut. Untuk kembali memperoleh penghasilan, Teguh kini berupaya mencari nafkah dengan menjadi pengemudi ojek online. Pekerjaan itu baru dijalaninya sekitar satu minggu ketika keluarga menceritakan kondisi mereka kepada Dian Asmara.

Situasi tersebut membuat keluarga harus mengatur kemampuan ekonomi dengan cermat. Kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi, sementara perjalanan pengobatan sang anak juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Serlissylvana menjelaskan bahwa penanganan medis dan biaya operasi telah mendapatkan dukungan dari pihak lain. Meski demikian, biaya operasional perjalanan untuk pemeriksaan dan tindakan medis masih menjadi kendala.

Bagi keluarga ini, bantuan transportasi bukan sekadar persoalan ongkos perjalanan. Dukungan tersebut menjadi bagian penting agar Christevan tetap dapat menjalani pemeriksaan dan pengobatan sesuai kebutuhan medisnya. Harapan keluarga sederhana, pengobatan sang anak dapat terus berlanjut tanpa terhambat keterbatasan biaya perjalanan.

Dalam kesempatan tersebut, Serlissylvana juga menceritakan bahwa keluarganya telah berupaya menyampaikan surat permohonan kepada Pemerintah Kabupaten Bogor.

Menurut keterangannya, Teguh telah dua kali berusaha menemui Bupati Bogor Rudy Susmanto, tetapi belum berhasil bertemu secara langsung.

Surat permohonan itu disebut telah dititipkan melalui petugas di bagian depan. Namun, keluarga belum memperoleh kepastian mengenai tindak lanjut maupun status penerimaan surat tersebut.

Melalui kunjungan ini, PETISI 26 berharap aspirasi keluarga Christevan dapat disampaikan kepada pemerintah daerah agar memperoleh perhatian dan ditelaah sesuai ketentuan yang berlaku. Perhatian terutama berkaitan dengan kemungkinan bantuan biaya transportasi dan kebutuhan operasional selama menjalani pengobatan di luar daerah.

PETISI 26 juga berharap koordinasi dengan instansi terkait dapat membantu keluarga memperoleh informasi mengenai akses bantuan sosial maupun fasilitas pendukung pengobatan yang sesuai dengan persyaratan program pemerintah.

Pembina PETISI 26, Dian Asmara atau Paul, bersama jajaran Bidang Sosial dan Kemanusiaan, menaruh perhatian pada kondisi keluarga Christevan yang masih membutuhkan dukungan untuk melanjutkan perjalanan pengobatan.

Kunjungan tersebut menjadi langkah awal untuk menghimpun informasi secara langsung dan memahami kebutuhan keluarga sebelum menyampaikan persoalan itu kepada pihak-pihak terkait. Persoalan kesehatan perlu dilihat secara menyeluruh. Selain penanganan medis, kemampuan keluarga untuk mengakses layanan kesehatan dan mendampingi pasien juga menjadi hal yang patut mendapat perhatian.

Karena itu, PETISI 26 berharap Pemerintah Kabupaten Bogor dan instansi terkait dapat menelaah kemungkinan dukungan yang dapat diberikan sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.

Kisah Christevan menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai aktivitas pembangunan, masih ada keluarga yang membutuhkan perhatian dan dukungan nyata untuk melewati masa sulit. Bantuan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana dapat memiliki arti besar bagi keluarga yang sedang berjuang. Dukungan biaya perjalanan, misalnya, dapat membantu membuka jalan agar pemeriksaan dan pengobatan tetap berlangsung sesuai kebutuhan.

Harapan keluarga Christevan tidak muluk-muluk. Mereka ingin terus mendampingi sang anak menjalani pengobatan dan memberinya kesempatan untuk tumbuh dengan kondisi kesehatan yang lebih baik.

Di balik setiap perjalanan menuju rumah sakit, ada orang tua yang berusaha bertahan, ada pengorbanan yang tidak selalu terlihat, dan ada harapan yang terus dijaga.

Melalui semangat kemanusiaan dan gotong royong, PETISI 26 berharap semakin banyak pihak tergerak untuk memberikan perhatian dan dukungan sesuai kemampuan serta kebutuhan keluarga.

Sebab, kepedulian bukan semata-mata tentang besarnya bantuan yang diberikan. Kepedulian juga berarti hadir untuk mendengarkan, memahami kesulitan, dan membantu mencari jalan keluar ketika sebuah keluarga sedang menghadapi ujian berat.

Bagi Christevan dan keluarganya, setiap uluran tangan adalah harapan agar perjuangan menuju kesembuhan dapat terus berlanjut.

(Kontributor : Arif)

Berita Terkait