PWKI Surakarta Gelar Seminar Interaktif Self-Care

Sabtu, 19/09/2026 - 13:44
Foto istimewa

Foto istimewa

Klikwarta.com, Surakarta - Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Surakarta menggelar seminar interaktif bertema self-care di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Penumping Surakarta. Kegiatan itu mengajak perempuan untuk lebih peduli terhadap kondisi fisik dan mental diri sendiri, terutama mereka yang terlibat dalam pendampingan korban kekerasan. Sabtu, (19/09/26).

Seminar tersebut menghadirkan Direktur Spek-HAM Rahayu Purwa Ningsih, S.E., M.Si. dan Konsultan Inspire Anna Marsiana, S.Th., M.A. Rahayu membawakan materi tentang peta persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Surakarta, sedangkan Anna menyampaikan materi self-care bertajuk “Stay Alive, Stay Strong, and Stay Happy.”

Seksi Pendidikan PWKI Cabang Surakarta, Aniek Tri Maharani, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kondisi perempuan yang kerap lebih banyak mencurahkan perhatian kepada orang lain dibandingkan dirinya sendiri.

“Perempuan sering kali begitu peduli dengan persoalan orang lain, tetapi lupa peduli dengan dirinya sendiri. Sampai akhirnya merasa capek, lelah, bahkan kondisi mental juga terdampak,” katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut juga dapat dialami oleh orang yang mendampingi korban kekerasan. Pendamping tidak selalu berasal dari kalangan profesional, tetapi juga dapat merupakan anggota keluarga atau orang terdekat korban.

.

Kelelahan, kata Aniek, dapat muncul ketika pendamping terlalu larut dalam persoalan korban. Rasa sedih yang dialami korban terkadang ikut dirasakan oleh pendamping sehingga mempengaruhi kondisi psikologisnya.

“Diharapkan kita tidak sampai terlalu larut sehingga kondisi tersebut justru berdampak pada diri sendiri,” ujarnya.

Aniek mengatakan persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak saat ini juga semakin beragam. Selain kekerasan secara fisik maupun bentuk kekerasan lainnya, terdapat pula kekerasan berbasis gender dan kekerasan yang berlangsung melalui ruang digital.

Karena itu, kemampuan merawat diri dinilai penting bagi perempuan yang terlibat dalam pendampingan. Dengan kondisi fisik dan mental yang terjaga, pendamping diharapkan dapat tetap memiliki energi untuk membantu korban.

PWKI juga membangun jejaring dengan sejumlah lembaga yang memiliki perhatian terhadap persoalan trauma healing dan kesehatan mental. Jejaring tersebut memungkinkan anggota melakukan perjumpaan, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan. Dalam pendampingan tertentu, PWKI juga melibatkan psikolog sebagai tenaga ahli.

Aniek mengatakan kegiatan self-care tidak hanya dilakukan melalui pendekatan konseling. Aktivitas sederhana seperti memasak, menanam, membuat pupuk, berkebun, membuat puding, hingga merangkai bunga dapat menjadi kegiatan yang membantu seseorang mengelola kelelahan.

“Ketika kita merasa lelah, kita bisa melakukan kegiatan seperti memasak, menanam, membuat pupuk, berkebun, membuat puding, maupun merangkai bunga,” kata dia.

Selain kegiatan tersebut, PWKI juga mengembangkan kegiatan yang berkaitan dengan konseling pastoral dan konseling mental. Pada November mendatang, organisasi itu berencana menggelar pelatihan yang salah satunya berkaitan dengan berkebun.

Bagi PWKI, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses menghidupkan kembali organisasi di Surakarta. PWKI telah berdiri sekitar 80 tahun. Secara nasional, organisasi itu didirikan pada 28 Februari 1946 oleh sejumlah perempuan dari gereja yang memiliki perhatian terhadap persoalan perempuan. Namun PWKI sempat mengalami masa vakum. Sekitar satu tahun terakhir, organisasi tersebut kembali bergerak melalui regenerasi kepengurusan dan sejumlah kegiatan.

Sementara itu, Gembala Sidang GBI Penumping Surakarta, Pendeta Elisa, mengatakan seminar tersebut menjadi ruang bagi perempuan untuk mendapatkan penguatan dalam menjalani perannya di keluarga maupun masyarakat.

“PWKI mengadakan kegiatan seminar yang menarik dan sangat penting, yaitu tentang self-care,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu perempuan mendewasakan dan memotivasi diri sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Pendeta Elisa berharap perempuan yang mengikuti kegiatan itu tidak hanya memperoleh manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga dapat membawa dampak positif bagi keluarga dan lingkungan.

“Kiranya melalui kegiatan hari ini, banyak perempuan yang terberkati dan siap memberkati, khususnya keluarga dan lingkungan di mana perempuan tersebut berada,” katanya.

(Kontributor : Widyo)

Berita Terkait