Merawat Prasasti Peradaban, Napas Keabadian di Kasepuhan Cisungsang

Rabu, 08/07/2026 - 14:13
Henriana Hatra, Sekretaris Adat Kasepuhan Cisungsang dipandu Inge Olivia Mangkoe, seorang Wartawati Senior yang menjadi Host dalam acara podcast kolaborasi Ayo Buka Mata x Merdeka Institute

Henriana Hatra, Sekretaris Adat Kasepuhan Cisungsang dipandu Inge Olivia Mangkoe, seorang Wartawati Senior yang menjadi Host dalam acara podcast kolaborasi Ayo Buka Mata x Merdeka Institute

Klikwarta.com, Tangerang - Di tengah deru mesin digital dan gegap gempita modernitas yang sering kali menuntut segalanya bergerak serba instan, ada sebuah ruang di lereng Gunung Halimun Salak yang waktu seolah melambat untuk menghormati kehidupan. Itulah Kasepuhan Cisungsang yang berada di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Pada 21–28 September 2026 mendatang, masyarakat adat ini akan kembali menggelar kegiatan Seren Taun, sebuah puncak perayaan syukur yang telah mereka jalankan selama lebih dari 700 tahun. Bukan sekadar seremonial, ini adalah peneguhan komitmen untuk menjaga "prasasti" peradaban yang masih bernapas.

Bagi masyarakat adat Cisungsang, padi bukan sekadar komoditas atau unsur bendawi. Padi adalah sumber kehidupan.

Di sini, hasil panen adalah simbol kemakmuran yang di dalamnya melekat sosok Dewi Sri, sehingga cara memperlakukannya pun diatur oleh hukum adat yang tak tertulis namun sangat dipatuhi.

"Hasil panen di tahun sebelumnya saja masih banyak di lumbung," tutur Henriana Hatra, Sekretaris Adat Kasepuhan Cisungsang, dalam sebuah tayangan podcast kolaborasi Ayo Buka Mata x Merdeka Institute, belum lama ini.

Menurut pria yang akrab disapa Kang Noci, ini Kalimat tersebut bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata keberlimpahan yang tak pernah putus.

Masyarakat Cisungsang memegang prinsip teguh bahwa hasil panen padi tidak boleh diperjualbelikan. Mereka boleh melakukan barter dengan hasil bumi lain atau barang kebutuhan, namun menjualnya secara komersial adalah pantangan. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi agar kemakmuran tidak hilang dari lumbung mereka.


Melawan "Penjajahan Digital" dengan The Way of Life

Tahun ini, Seren Taun mengusung tema "Merawat Prasasti Peradaban Budaya untuk Masa Depan Bangsa". Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah refleksi mendalam atas ketahanan mereka di era disrupsi.

Kang Noci menjelaskan bahwa peradaban bagi masyarakat adat Cisungsang bukanlah sesuatu yang statis. "Ketika saya selami lebih dalam, kami melihat tradisi ini bukan sebuah benda artistik atau ekspresi ritual. Kami melihat ini adalah the way of life, sistem nilai yang melekat dan harus dijaga," tegasnya.

Menurut Kang Noci, jika tradisi hanya dipandang sebagai benda artistik yang bisa dipamerkan, tentunya akan sangat mudah tergilas oleh zaman. Terlebih lagi saat ini, masyarakat adat berhadapan dengan budaya modern dan digital yang begitu masif—sesuatu yang disebutnya sebagai "penjajahan digital."

Kendati demikian, kata Kang Noci, masyarakat Cisungsang tidak lantas menutup diri dari perubahan. Bahkan, Kang Noci mengatakan, pihaknya tidak saklek menolak perubahan-perubahaan tersebut.

"Wilayah adat bukan hanya hamparan tanah, tapi juga ruang dialog antara pengetahuan modern dan pengetahuan tradisi kami," ujar Kang Noci.
Strategi pertahanan budaya mereka sangat humanis: tidak menganggap teknologi sebagai ancaman, melainkan bagian dari perjalanan masyarakat adat.

"Apa yang bisa diambil manfaatnya, kami ambil; yang dilarang, ya dilarang. Dialog ini yang terus kami pertahankan," ujarnya.

Sistem Prah-prahan

Di tengah upaya menjaga akar budaya, Kasepuhan Cisungsang tetap adaptif dengan sistem manajerial yang unik. Mereka memiliki metode perhitungan yang disebut prah-prahan.

Ini bukan sekadar sensus penduduk biasa, melainkan metode untuk menghitung nilai ekonomi—seperti kepemilikan ternak (sapi, kerbau, dll) dan cadangan padi—sekaligus memvaluasi tingkat kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan hitungan prah-prahan terbaru, populasi Kasepuhan Cisungsang kini mencapai lebih dari 13.800 jiwa yang tersebar di wilayah adat seluas 6.180 hektare. Data ini menjadi cerminan bahwa tradisi tidak menghambat kemajuan, justru menjadi fondasi kokoh untuk memastikan setiap individu di dalamnya tetap berkecukupan.

Puncak Rasa Syukur

Seren Taun pada September nanti akan menjadi momentum pengingat bagi bangsa bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan identitas. Perayaan ini adalah bentuk rasa syukur tak terhingga kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah panen yang melimpah selama satu tahun penuh.

Di Cisungsang, menjaga tradisi adalah cara mereka mencintai masa depan. Mereka tidak hanya merawat tanah, tetapi juga merawat sistem nilai yang membuat manusia tetap menjadi manusia, di tengah arus zaman yang sering kali melupakan esensi dari mana mereka berasal. (**) 

Tags

Berita Terkait