Persepsi Berubah, TKA Kini Dipahami sebagai Instrumen Penguatan Pembelajaran

Senin, 13/04/2026 - 11:46
Foto istimewa

Foto istimewa

Klikwarta.com, Pekanbaru, 13 April 2026 - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP di berbagai daerah mulai menunjukkan pergeseran penting dalam cara pandang murid, guru, hingga satuan pendidikan. Dari yang semula dipersepsikan sebagai ujian yang menegangkan, TKA kini dipahami sebagai sarana untuk mengukur kemampuan diri sekaligus mendorong semangat belajar yang lebih kuat dan terarah.

Perubahan ini terlihat nyata di lapangan. Di Kabupaten Pelalawan, Riau, para murid SMP Negeri Bernas, mengaku sempat diliputi rasa cemas saat pertama kali mengikuti TKA. Namun, pengalaman langsung mengerjakan soal, justru mengubah persepsi tersebut. “Awalnya deg-degan dan takut karena belum pernah dilakukan. Tapi setelah dikerjakan, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan, ujar Fidelia Noviyanti Hutagaol, murid SMP Bernas kelas IX. 

Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa perubahan cara pandang ini merupakan esensi dari pelaksanaan TKA itu sendiri. Menurutnya, TKA tidak dimaksudkan sebagai beban, melainkan sebagai instrumen untuk membaca kondisi pembelajaran secara utuh. 

TKA itu seperti medical check-up dalam pendidikan. Kita perlu mengetahui kondisi sebenarnya. Apa saja yang perlu diperkuat dan diperbaiki. Dari situ, kebijakan bisa disusun berbasis data, bukan perkiraan”, ujar Wamen saat berdialog langsung dengan pihak SMP Bernas.

Pengalaman serupa juga dirasakan murid lainnya di SMP Negeri bernas. Mereka menilai soal TKA memiliki tingkat kesulitan menengah dan masih dapat dikerjakan dengan baik terutama setelah melakukan latihan dan pembahasan soal di sekolah.

Dari sisi satuan pendidikan, berbagai upaya dilakukan agar TKA tidak menjadi tekanan tambahan. Guru mengintegrasikan persiapan TKA ke dalam pembelajaran reguler di kelas. “Kami membahas soal soal TKA di jam pelajaran sehingga anak anak tetap belajar tanpa merasa terbebani”, ujar Savitri Oktavia, salah satu guru SMP Bernas.

Kepala SMP Negeri Bernas, Marisah, menegaskan bahwa kehadiran TKA justru membawa dampak positif terhadap perilaku belajar murid. “Anak anak menjadi lebih giat belajar. Mereka ingin menunjukkan kemampuan terbaiknya. TKA ini sangat baik karena menguji potensi murid sekaligus kemampuan sekolah”, ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa seluruh murid kelas IX di sekolah tersebut mengikuti TKA tanpa kendala berarti dengan dukungan sarana prasarana yang memadai.

Alia dan Ferdiansyah, murid kelas IX SMP Bernas, sempat berbincang-bincang  dengan Wamen Fajar melalui _video call_.  Mereka menyampaikan bahwa soal TKA terasa menarik karena disajikan dalam bentuk cerita yang variatif. “Soalnya banyak cerita, jadi lebih menarik”, ungkap Alia.

.

Di Kota Pekanbaru, pandangan serupa juga menguat. Kepala SMP Negeri 4 Pekanbaru, Rukiah, menyampaikan bahwa pelaksanaan TKA berjalan lancar dengan tingkat partisipasi 100 persen. “Anak anak merasa materi yang diujikan sesuai dengan penguatan yang sudah diberikan di sekolah, baik numerasi maupun literasi”, jelasnya. Ia menambahkan bahwa TKA menjadi instrumen penting untuk mengukur kemampuan individu murid, terutama sebagai bekal dalam jalur prestasi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Dari sisi murid, perubahan cara pandang terlihat semakin menguat. Muhammad Gafasyarianto, murid SMP Negeri 4 Pekanbaru,  mengaku sempat merasa takut saat mendengar tentang TKA. Namun proses belajar dan latihan justru mengubah rasa takut tersebut menjadi motivasi.

“Awalnya takut, tapi setelah belajar dan latihan saya jadi semangat. TKA ini penting untuk mengetahui kemampuan diri kita”, ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa soal TKA menuntut pemahaman yang mengintegrasikan literasi dan numerasi bukan hafalan saja.

Guru Bahasa Inggris sekaligus ketua panitia TKA 2026 di SMP Negeri 4 Pekanbaru, Sri Romadona, menambahkan bahwa tantangan utama pada awal pelaksanaan adalah mengelola kekhawatiran murid, guru dan orang tua.

“Karena ini pertama kali, semua sempat khawatir. Tapi setelah diberikan contoh soal dan kisi kisinya, anak anak menjadi lebih siap. Kekhawatiran itu perlahan hilang”, ujarnya.

Ia juga menilai bahwa TKA mendorong pembelajaran yang lebih terarah karena semua mata pelajaran kini memperhatikan aspek literasi dan numerasi.

Di tingkat provinsi, Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Riau, Nilam Suri, yang mewakili Wamen Fajar dalam peninjauan di daerah menegaskan bahwa kelancaran pelaksanaan TKA tidak terlepas dari kolaborasi seluruh pihak, mulai dari satuan pendidikan hingga pemerintah daerah.

“Pelaksanaan TKA di Riau sejauh ini berjalan lancar. Ini menunjukkan kesiapan satuan pendidikan sekaligus komitmen bersama untuk memastikan asesmen ini berjalan baik dan memberikan manfaat bagi peningkatan mutu pembelajaran, ujar Nilam saat berbicang-bincang dengan para guru dan kepala sekolah SMP Bernas. 

Secara umum pelaksanaan TKA tidak hanya berjalan lancar dari sisi teknis dengan dukungan infrastruktur seperti komputer, jaringan internet, dan listrik, Tetapi juga membawa perubahan mendasar dalam cara pandang terhadap asesemen itu sendiri. Dari yang semula dipersepsikan sebagai ujian yang menakutkan, TKA kini mulai dipahami sebagai instrumen pembelajaran yang reflektif mendorong kejujuran, kesiapan dan keberanian untuk mengukur diri. Perubahan cara pandang ini menjadi dasar dalam membangun budaya belajar yang lebih sehat dan berkelanjutan, di mana asesmen menjadi bagian dari proses tumbuh dan berkembang setiap murid.

(Kontributor : Arif)

Berita Terkait