Menjadi Anak Tengah: Menghormati Kakak, Mengalah pada Adik

Rabu, 12/06/2024 - 18:56
Sumber : Pexel.com
Sumber : Pexel.com

Oleh: Putrie Nazzia Paramitha (mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Ketika membicarakan dinamika keluarga, posisi anak tengah sering kali luput dari perhatian. Anak tengah tidak mendapatkan hak istimewa seperti anak sulung yang dianggap sebagai pewaris tanggung jawab atau anak bungsu yang sering kali dimanja. Sebagai anak tengah, saya merasakan sendiri bagaimana harus hormat pada kakak dan mengalah pada adik, serta bagaimana posisi ini membentuk karakter dan pandangan hidup saya.

Anak tengah biasanya berada di posisi "di antara". Tidak terlalu muda untuk menjadi panutan yang baik atau terlalu tua untuk menerima perhatian penuh. Anak tengah dalam banyak keluarga, termasuk keluarga saya, kerap kali harus mencari cara untuk beradaptasi dan menemukan tempatnya di tengah-tengah hiruk pikuk hubungan saudara.

Sebagai contoh nyata, mari kita lihat pada keluarga saya sendiri. Kakak saya, Novia, adalah sosok yang tegas dan cenderung dominan. Sejak kecil, saya diajarkan untuk selalu menghormatinya, mendengarkan nasihatnya, dan mengikuti arahannya. Sementara itu, adik saya, Memei, adalah anak yang ceria dan penuh semangat, sering kali mendapatkan perhatian lebih dari orang tua kami. Dalam banyak situasi, saya harus belajar mengalah, baik untuk menjaga keharmonisan keluarga maupun untuk memberi ruang bagi Memei yang lebih muda.

Rasa hormat pada kakak bukan hanya soal mematuhi, tapi juga soal mengakui kelebihan dan pengorbanan mereka. Saya ingat ketika Kak Novi harus bersusah payah menjual barang yang dimilikinya demi melanjutkan proses tugas akhir kuliahnya. Hal ini mengajarkan saya bahwa tanggung jawab adalah sesuatu yang harus dihargai. Di sisi lain, mengalah pada adik bukan berarti menyerah, tetapi memahami bahwa setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang berbeda. Ketika Memei merengek meminta mainan yang sama, saya belajar untuk berbesar hati dan memberikannya, karena melihat senyumnya adalah kebahagiaan tersendiri.

Anak tengah sering kali memiliki kelebihan dalam mediasi dan diplomasi, menurut fakta. Menurut penelitian yang dilakukan oleh psikolog evolusi Catherine Salmon, anak tengah cenderung menjadi mediator keluarga yang baik dan memiliki kemampuan sosial yang lebih baik daripada saudara-saudaranya. Hal ini tidak mengherankan karena peran anak tengah yang seringkali harus menyeimbangkan kakak dan adik.

Salah satu momen paling berharga adalah ketika kami, ketiga bersaudara, dapat bekerja sama dalam menyelesaikan masalah. Misalnya, saat orang tua kami sedang dalam kondisi kurang baik, kami bertiga bahu-membahu menjadi perantara mereka. Kakak mengambil peran utama dalam mengatur komunikasi, saya mengambil alih tugas-tugas rumah tangga, dan Memei, meski masih kecil, selalu berusaha menghibur dengan celotehan dan cerita-cerita lucunya. Inilah saat-saat di mana saya merasa bahwa meski posisi saya di tengah, kontribusi saya tetap berarti.

Menjadi anak tengah mengajarkan banyak hal tentang keseimbangan, empati, dan kesabaran. Meski tidak selalu mudah, pengalaman ini membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana. Saya belajar untuk melihat segala sesuatu dari berbagai perspektif, menghargai perbedaan, dan mencari jalan tengah dalam setiap konflik.

Pada akhirnya, menjadi anak tengah adalah sebuah perjalanan yang penuh tantangan sekaligus penuh pelajaran berharga. Menghormati kakak dan mengalah pada adik bukanlah tanda kelemahan, tetapi kekuatan dalam memahami dan menyayangi satu sama lain. Bagi mereka yang juga berada di posisi ini, ingatlah bahwa setiap peran dalam keluarga memiliki nilai dan makna tersendiri. Teruslah belajar, beradaptasi, dan temukan keindahan dalam dinamika yang unik ini.

Tags

Related News