ilustrasi.net
Oleh: Muhammad Hamidan Multazam (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)
“Dan, Nenek sakit,” adalah kata-kata yang saya dengar, yang menjadi awal saya menyadari saya menyia-nyiakan orang paling penting dalam hidup saya.
Tumbuh dalam keluarga pas-pasan selalu dipenuhi susah-sulit. Makan apa adanya, jajan jarang-jarang, kalau bisa jangan sekalian. Meskipun begitu, tumbuh dengan keluarga pas-pasan secara otomatis membuat kami dekat, dekat dengan batin dan fisik. Tidur sempit, baju bareng, mandi rebutan hari-hari jadi seperti hukum, harus terlaksana. Biar begitu, saya bersyukur dikelilingi orang yang memang mencintai saya.
Dari ayah, ibu, kakek, nenek, semua serumah, walau akhirnya berpisah juga. Kami semua serumah bertahun-tahun, akrab bukan karuan. Kenal watak, hati, tingkah luar dalam, sampai bosan melihatnya mereka-mereka juga. Lagipula, kalau menjauh rasanya selalu kangen, lewat saja sehari sudah seperti sebulan tak jumpa. Pulang malam ditanyai, “Dari mana?” dan “Ngapain aja?” itu pasti, malah aneh kalau tidak ada yang tanya. Baik ayah, ibu, sampai kakek nenek pun ingin tahu di mana kita berada dan apa yang sedang kita lakukan setiap waktu, mereka khawatir bukan kepalang.
Saya sangat senang dengan masa kecil saya, diasuh ayah, ibu, kakek, dan nenek dengan sepenuh hati. Malah bagi saya, saya merasa sangat beruntung luar biasa punya mereka. Tak adil bagi saya, mereka menuangkan cinta ini tanpa meminta apapun dari saya. Saya jadi lupa dan mengambil cinta ini dengan sepele. Saya tak pikir panjang dalam keseharian. Mau makan ada, mau jajan ada. Kalau gak dikasih ayah, sama nenek bisa minta. Ibu sampai bilang, “Jangan dikasih mulu, hari-hari jajan bocah,” sampai hafal nenek nada dan waktu ibu mengatakan itu.
Menempuh hidup, orang yang saya cintai ini berlanjut usia. Tanpa sadar, kakek nenek sudah sampai usia 75, sudah lewat masa “expired” kalau kata orang. Kakek nenek juga sering bercanda, “Bentar lagi nih gua disini, lu cepet-cepet kaya,” candaan suka terngiang di telinga saya.
Saya sebenarnya belum paham arti mati, arti di mana kita tak lagi berada di dunia. Secara biologi, kita sudah tamat fungsi dan secara manusiawi tak lagi berbunyi. Konsep yang sangat asing bagi saya, walau pernah saya mengalami wafatnya relatif sebelumnya, biarpun terlalu muda untuk mengingat kala itu. “Kenapa mereka harus pergi?”, dan “Kemana sebenarnya mereka pergi?” menjadi pertanyaan yang selalu saya miliki, dan sebenarnya merupakan pertanyaan yang saya takuti jawabannya.
Konsep ini terlalu abstrak bagi otak kecil saya kala itu. Bukan berarti saya sekarang ini sudah berhasil memahami apa maksud dari konsep ini, namun saya dapat melihat fungsi konsep ini. Konsep yang sangat terikat dalam realita semesta ini, konsep di mana cakupannya dari hal terkecil hingga hal yang tak terbayangkan besarnya.
Hari demi hari berlalu, menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Tanpa sadar, dekade sudah lewat. Orang yang saya lihat akan selalu bersama saya mulai menunjukkan tanda awal kepergian mereka. Bukan maksudnya saya spiritual, namun kala itu, virus merajalela. Kota, provinsi, sampai negara berhenti hampir sepenuhnya. Ribuan gugur dalam genggamannya. Sayangnya, nenek dan kakek saya bagian dari ribuan itu. Bagi orang lain, mereka hanya satu dari sebagian banyak orang, namun bagi relatif mereka, merekalah yang berarti dunia.
Kami lengah. Walau pandemi, kami masih menaruh kuda-kuda rendah, percaya diri dengan sistem yang kami dalam keluarga punya, percaya diri yang ujungnya jadi hilangnya orang yang saya benar-benar sayangi.
Sewaktu nenek sakit, kami awalnya tidak terlalu khawatir. Bukan berarti kami tidak peduli, tetapi kami terbiasa dengan pemikiran bahwa sakit adalah bagian dari kehidupan yang bisa diatasi dengan perawatan dan perhatian. Namun, kali ini berbeda. Nenek tidak hanya sakit biasa. Dia semakin lemah dari hari ke hari, dan ini membuat saya sadar betapa pentingnya setiap momen bersama keluarga.
Kakek, yang selalu tampak kuat dan tangguh, juga mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Mereka berdua adalah pilar dalam keluarga kami, dan melihat mereka rapuh sangat mengguncang. Saya sering mendengar cerita dari nenek tentang masa muda mereka, bagaimana mereka membangun keluarga ini dengan penuh cinta dan pengorbanan. Kisah-kisah itu menjadi pengingat betapa besar peran mereka dalam hidup saya.
Saat pandemi berlangsung, isolasi sosial menambah beban emosional. Kami harus menjaga jarak demi keselamatan mereka, tetapi ini berarti kami tidak bisa mendampingi mereka seperti biasanya. Telepon dan video call menjadi pengganti sementara, namun tak ada yang bisa menggantikan kehadiran fisik. Setiap panggilan telepon dengan nenek dan kakek menjadi momen berharga. Saya berusaha untuk lebih sering berbicara dengan mereka, mendengar suara mereka, meski kadang hanya bisa mendengarkan mereka mengeluh tentang rasa sakit atau kelelahan.
Kehilangan nenek dan kakek dalam waktu dekat satu sama lain adalah pukulan besar bagi keluarga kami. Kehidupan terasa hampa tanpa kehadiran mereka. Kami kehilangan tidak hanya orang tua, tetapi juga teman dan pendamping hidup yang setia. Kenangan mereka tetap hidup dalam cerita dan ingatan yang kami bagi, namun tidak ada yang bisa benar-benar mengisi kekosongan yang mereka tinggalkan.
Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya menghargai setiap momen dengan orang-orang terkasih. Saya belajar bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak bisa dibeli. Kehidupan kita terlalu singkat untuk dihabiskan dengan penyesalan. Keluarga adalah segalanya, dan cinta mereka adalah fondasi yang membuat kita kuat. Saya berharap bisa terus membawa nilai-nilai yang nenek dan kakek ajarkan, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Sekarang, setiap kali saya merasa lelah atau tertekan, saya ingat kata-kata nenek, “Bentar lagi nih gua disini, lu cepet-cepet kaya.” Candaan itu mengingatkan saya untuk selalu berusaha lebih baik, untuk menghargai waktu, dan untuk menjalani hidup dengan penuh cinta dan dedikasi, seperti yang mereka tunjukkan kepada saya.








