Pulih Butuh Waktu untuk Sembuh

Senin, 10/06/2024 - 19:27
Ilustrasi menyembuhkan luka batin Photo by Greatmind

Ilustrasi menyembuhkan luka batin Photo by Greatmind

Oleh: Syaqila Nadya Salsabila (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Pulih bukan hanya tentang hilangnya rasa sakit, tetapi juga tentang kemampuan kita untuk menghadapi rasa sakit tersebut. Pulih bukan tentang berhasil melupakan orang lain, tetapi juga tentang mampu mengingat mereka dengan cara yang baik-baik saja. Aku ingin sekali melupakan kejadian buruk dalam hidupku dan segera bersenang-senang tanpa merasa terluka lagi. Namun, kabar buruknya adalah itu bukanlah pemulihan, melainkan distraksi.

Seringkali aku kira aku telah melupakan rasa sakit itu, tetapi ternyata aku hanya menyembunyikannya. Di balik rasa sakit yang kupikir akan baik-baik saja, aku hanya menyibukkan diri agar tidak larut dalam ingatan tersebut. Aku percaya bahwa distraksi ada baiknya, tetapi setelah kupikir-pikir, distraksi bukanlah solusi yang baik. Jika aku pergi ke dokter, lalu dokter bertanya "sakitnya di mana?", "apa yang dirasakan?", maka luka batin juga sama.

Bagaimana aku bisa memberitahu di mana letak lukanya jika aku justru menyembunyikannya? Berusaha untuk tidak merasakan luka itu, berusaha untuk menutupi semua rasa sakit agar aku bisa melanjutkan hidup dan kembali bersenang-senang. Aku menganggapnya wajar, tetapi sekarang aku tahu dan mencoba melihat rasa sakit itu dengan jelas. Aku tidak akan terburu-buru, cukup pelan-pelan saja.

Aku mempersilakan rasa sakit itu ada, karena segala yang datang padaku hanya ingin dipersilakan. Jika aku berusaha melupakan rasa sakit itu atau menyembunyikan betapa pedihnya hal itu, itu sama saja seperti aku mengusir rasa sakit tersebut. Aku mencoba membayangkan datang ke suatu tempat lalu aku diusir. Mungkin luka juga sama luka hanya ingin didengar, dipahami, dan diterima.

Ketika sudah waktunya, luka akan pergi dengan sendirinya. Aku memang tidak terlatih untuk menyambut luka sebaik aku menyambut kebahagiaan. Namun, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk belajar pelan-pelan bagaimana menerima luka apa adanya. Terkadang aku malu memiliki rasa sakit tertentu, tetapi aku tidak bisa memilih rasa sakit atau trauma yang pernah kualami. Hidup kadang tidak adil: "siapa yang mengakibatkan?", "siapa yang harus repot-repot menyembuhkannya?".

Namun, sekeras apa pun aku menyalahkan siapa pun, itu tidak akan membuat lukaku sembuh, justru memperpanjang umur sakit itu. Aku mencoba mencari teman-teman terbaik yang bisa menemaniku saat terluka, aku mencari orang-orang yang tepat agar lukaku bisa didengar. Aku menganggap luka seperti anak kecil, mengajaknya bermain, berbincang-bincang, dan mendengarkannya. Terkadang yang luka ingin hanyalah perhatian sederhana itu. Sama sepertiku, saat terluka aku hanya ingin didengar, dimanja, diterima, dan dilihat apa adanya.

Aku mencoba baik-baik saja dengan lukaku sendiri, meskipun aku tidak bisa memilih luka-luka itu. Karena luka-luka itu adalah bagian dari diriku, sama seperti anggota tubuhku yang lain. Aku menikmati rasa luka itu justru keinginan untuk cepat-cepat sembuh terkadang membuat luka semakin tidak betah dan makin menjadi. "Sudah tahu lumpuh, dipaksa berlari" luka tidak seperti itu, luka punya waktunya sendiri, tidak bisa terburu-buru. Sama seperti kebahagiaan datang pada waktunya, pergi juga sesuai dengan perannya.

Setelah menerima bahwa luka adalah bagian dari diriku, aku mulai melihat kehidupan dengan perspektif yang berbeda. Bukan berarti aku meromantisasi rasa sakit atau merasa bahwa penderitaan harus dirayakan, tetapi aku memahami bahwa rasa sakit adalah bagian dari perjalanan hidup yang mesti ditempuh. Setiap luka yang ada, setiap bekas yang tertinggal, membentuk siapa diriku saat ini dan membawa pelajaran berharga yang tidak bisa kudapatkan dengan cara lain.

Aku belajar untuk memberikan ruang bagi rasa sakit. Aku mencoba untuk tidak melawannya dengan berlebihan, tetapi membiarkan diriku merasakan setiap emosi yang muncul. Aku memberi diriku izin untuk menangis, marah, merasa kecewa, dan bahkan merasa tidak adil. Aku menyadari bahwa semua perasaan itu valid dan perlu diakui. Dengan menghadapi rasa sakitku secara langsung, aku bisa mulai mengurai akar dari rasa sakit itu dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku.

Aku belajar untuk berbicara kepada diriku sendiri dengan cara yang lebih lembut dan penuh kasih. Setiap kali aku merasa sakit, aku mencoba mengingatkan diriku bahwa tidak apa-apa untuk merasa seperti itu, bahwa tidak apa-apa untuk tidak selalu kuat. Aku memberi diriku waktu dan ruang untuk sembuh, tanpa menekan diri untuk segera merasa baik-baik saja.

Proses ini juga membuatku lebih terbuka terhadap dukungan dari orang lain. Aku belajar bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda keberanian. Aku mulai berbagi ceritaku dengan teman-teman terdekat dan mencari dukungan dari mereka yang kupercayai. Mereka tidak selalu memiliki solusi, tetapi hanya dengan mendengar dan memberikan dukungan emosional, mereka sudah memberikan kontribusi besar bagi proses pemulihanku.

Aku juga mulai mencari kegiatan yang bisa membantuku dalam proses pulih. Aku mencoba meditasi untuk menenangkan pikiranku, menulis diary untuk mengekspresikan perasaanku, dan berjalan-jalan di alam untuk mendapatkan kedamaian. Semua kegiatan ini membantuku untuk lebih terhubung dengan diriku sendiri dan menemukan cara-cara baru untuk menghadapi rasa sakit.

Di sisi lain, aku juga berusaha untuk memaafkan diri sendiri. Memaafkan diriku atas kesalahan masa lalu, atas pilihan-pilihan yang mungkin tidak bijak, dan atas kelemahan yang aku miliki. Memaafkan diriku berarti menerima diriku sepenuhnya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ini bukan hal yang mudah, tetapi aku tahu bahwa ini adalah langkah penting menuju untuk pulih.

Perjalanan ini mengajarkanku banyak hal. Aku belajar bahwa pulih bukanlah garis lurus menuju kebahagiaan, melainkan sebuah proses yang penuh liku dan membutuhkan banyak kesabaran. Aku belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa sakit, tetapi mampu bangkit kembali setiap kali terjatuh. Dan yang terpenting, aku belajar bahwa tidak apa-apa untuk tidak selalu baik-baik saja. Aku adalah manusia, dan bagian dari menjadi manusia adalah merasakan seluruh emosi yang ada.

Akhirnya, aku mulai menerima bahwa luka-luka ini akan selalu menjadi bagian dari diriku. Mereka mungkin tidak akan pernah sepenuhnya hilang, tetapi mereka juga tidak akan selamanya menyakitkan. Seiring berjalannya waktu, luka-luka ini akan sembuh dengan caranya sendiri, meninggalkan bekas yang mengingatkanku pada perjalanan yang telah aku lalui. Dan ketika aku melihat bekas luka itu, aku tidak akan melihatnya sebagai tanda kelemahan, tetapi sebagai bukti kekuatan dan keteguhan hatiku.

Aku terus melangkah maju, tidak dengan terburu-buru tetapi dengan langkah yang mantap dan penuh kesadaran. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk belajar, bertumbuh, dan menyembuhkan diri. Aku tahu bahwa perjalanan ini tidak mudah, tetapi aku juga tahu bahwa aku memiliki kekuatan dalam diriku untuk menghadapi apa pun yang datang. Dan di setiap langkah perjalanan ini, aku akan selalu mengingat bahwa aku tidak sendirian, bahwa ada banyak orang yang mencintaiku dan mendukungku, serta bahwa aku layak untuk sembuh dan bahagia.

Tags

Berita Terkait