Mendikdasmen Abdul Mu’ti pada pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 17 SNT di Bogor, Jawa Barat, Senin (10/8).
Klikwarta.com, Bogor, Jawa Barat, 11 Agustus 2026 – Sebanyak 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) mulai memberikan layanan pendidikan pada tahun ajaran 2026/2027. Kehadiran SNT menjadi langkah transformasi tata kelola pendidikan melalui integrasi layanan antarjenjang, pemanfaatan sarana dan prasarana, serta pembelajaran dalam satu ekosistem pendidikan yang terpadu.
Melalui pendekatan tersebut, SNT diarahkan untuk memperkuat kesinambungan layanan pendidikan, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya sekolah, serta membuka ruang yang lebih luas bagi setiap murid untuk memperoleh pendidikan bermutu dan mengembangkan potensinya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyebut beroperasinya SNT sebagai tonggak penting dalam perjalanan pendidikan nasional. “Ini adalah tonggak sejarah dalam satu sistem pendidikan nasional,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti pada pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 17 SNT di Bogor, Jawa Barat, Senin (10/8).
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menjelaskan bahwa SNT membawa transformasi tata kelola melalui pengelolaan layanan pendidikan yang semakin terpadu. Integrasi tersebut mencakup koordinasi antarjenjang, kesinambungan pembelajaran, hingga pemanfaatan fasilitas pendidikan secara bersama. “Intinya adalah satu transformasi tata kelola. Jadi mengintegrasikan kelembagaan, tadinya beberapa sekolah menjadi satu manajemen sekolah,” ujar Pratikno.
Menurut Pratikno, konsep terintegrasi juga memungkinkan fasilitas pendidikan dimanfaatkan secara lebih optimal. Lapangan olahraga, gedung olahraga, laboratorium, serta sarana pendidikan lainnya dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pembelajaran secara bersama. “Lapangan sepak bola bersama antarsekolah karena terintegrasi. GOR juga digunakan beberapa sekolah yang tadinya dua sekolah menjadi satu sekolah, satu kesatuan. Transformasi infrastruktur termasuk laboratorium dan lain-lain, sehingga ini lebih efisien,” katanya. (*)
Integrasi dalam SNT, lanjut Pratikno, tidak berhenti pada tata kelola dan infrastruktur. Transformasi juga diarahkan pada proses pembelajaran dan pengembangan potensi murid secara lebih utuh.
Ia menekankan bahwa prestasi murid tidak semata-mata diukur dari capaian akademik. Murid juga perlu memperoleh ruang yang luas untuk berkembang dan berprestasi dalam bidang seni, olahraga, maupun bidang lainnya sesuai bakat dan minat masing-masing.
“Berprestasi itu bukan hanya akademik, bukan hanya matematika nilainya 10, bukan hanya fisika nilainya 10. Berprestasi itu macam-macam, bisa akademik maupun nonakademik melalui seni atau olahraga,” ujar Pratikno.
Ia mendorong murid SNT untuk menemukan dan mengembangkan bidang yang menjadi kekuatan masing-masing, tanpa meninggalkan pembelajaran di bidang lainnya. “Jadi, Anda juga harus berprestasi di bidang masing-masing, tetapi jangan lupa untuk belajar yang lain juga,” tuturnya.
Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Dudung Abdurachman, menegaskan bahwa keberhasilan SNT tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan.
Menurut Dudung, kolaborasi tersebut penting untuk memastikan pembangunan dan penyelenggaraan SNT benar-benar memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak dalam memperoleh pendidikan berkualitas.
Ia menekankan bahwa SNT merupakan salah satu bentuk intervensi strategis negara untuk menghadirkan layanan pendidikan bermutu semakin dekat dengan masyarakat, termasuk masyarakat yang berada di berbagai daerah di Indonesia. “Sekolah Nasional Terintegrasi bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan intervensi strategis negara dalam menghadirkan pendidikan berkualitas yang dekat dengan masyarakat hingga ke seluruh pelosok negeri,” katanya.
Dukungan terhadap penyelenggaraan SNT juga disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Himmatul Aliyah. Menurutnya, angkatan pertama SNT memiliki posisi penting karena menjadi bagian dari awal perjalanan penyelenggaraan sekolah terintegrasi secara nasional.
Ia berharap kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan terutama murid angkatan pertama dapat menjadi teladan serta membuka jalan bagi pengembangan SNT pada masa mendatang. “SNT angkatan pertama ini diharapkan bisa menjadi teladan yang baik untuk angkatan-angkatan berikutnya,” ujar Himmatul.
Himmatul juga menyampaikan apresiasi kepada Mendikdasmen Abdul Mu’ti beserta jajaran Kemendikdasmen atas kerja dalam mendukung pelaksanaan program sekolah terintegrasi secara nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Melalui integrasi layanan pendidikan, pemanfaatan sarana dan prasarana secara optimal, transformasi pembelajaran, serta kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, SNT diharapkan menjadi salah satu model penyelenggaraan pendidikan yang semakin terpadu dan berorientasi pada kebutuhan murid.
Lebih dari menghadirkan fasilitas pendidikan, SNT diarahkan untuk membangun ekosistem pendidikan yang memberi ruang bagi setiap murid untuk belajar, bertumbuh, berprestasi, dan mengembangkan potensi terbaiknya melalui layanan pendidikan bermutu.








