Rumahku (Foto: Salman Zakkiy ‘Abdullah)
Oleh: Salman Zakkiy ‘Abdullah, Mahasiswa Penerbitan (Jurnalistik) Politeknik Negeri Jakarta
Saat aku merenungkan perjalanan hidupku, ada satu sosok yang selalu hadir di setiap langkah perjalanan, dalam setiap momen penting, dan bahkan dalam keheningan malam. Sosok itu adalah ibuku, wanita tangguh yang telah memberikan segalanya untukku dengan cinta dan kasi yang tak terhingga. Rasa sayang kepada ib, bagiku adalah perasaan yang begitu mendalam dan tak pernah tergantikan, sesuatu yang tumbuh seiring waktu dan pengalaman hidup.
Sejak aku masih kecil, ibuku selalu menjadi pusat dari segalanya. Setiap pagi, aku terbangun dengan aroma harum sarapan yang ia siapkan dengan penuh cinta. Senyumnya yang lembut selalu menyambutku, selalu memberi semangat untuk memulai hari. Aku ingat betapa hangatnya pelukan ibu ketika aku merasa takut atau sedih, betapa tenangnya suara saat ia mendongeng sebelum diriku tidur, dan betapa besar pengorbanannya untuk memastikan aku selalu bahagia.
Ibuku adalah wanita yang penuh kesabaran. Aku ingat saat-saat di mana aku melakukan kesalahan, ia tak pernah marah atau menghakimi tetapi ia memberikan nasihat yang membuatku merasa tidak terpojok. Ia selalu memberikan nasihat dengan lembut, mengajarkan aku untuk belajar dari kesalahan tersebut. Ada banyak malam di mana aku terjaga hingga larut karena tugas atau sekadar memikirkan berbagai hal, dan ibuku selalu ada
di sampingku, memberikan dukungan dan dorongan. Ia adalah sosok yang selalu percaya kepadaku, bahkan ketika aku meragukan diriku sendiri.
Saat aku beranjak dewasa, aku mulai menyadari betapa besar pengorbanan yang telah ibu lakukan. Ia selalu menempatkan kebutuhan keluarganya di atas kebutuhannya sendiri. Ada begitu banyak kesempatan yang ia lewatkan, begitu banyak mimpi yang mungkin ia tunda, hanya untuk memastikan keluarga kecilnya mendapatkan yang terbaik. Ketika aku masuk politeknik, ia bekerja lebih keras, mengurangi waktu istirahatnya, agar aku bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Di balik senyumnya yang selalu tampak bahagia, tersimpan cerita perjuangan yang luar biasa.
Aku juga menyadari bahwa ibuku adalah seorang individu dengan keinginan dan kebutuhan pribadinya. Namun, jarang sekali aku melihat ia mengutamakan dirinya sendiri. Bahkan ketika ia merasa lelah, ia tetap menyempatkan diri untuk mendengarkan ceritaku, memberikan nasihat, atau sekadar menemaniku duduk di sofa ruang tamu. Ada sebuah ketulusan dalam setiap tindakan dan perkataannya, yang membuatku merasa begitu beruntung memiliki ibu sepertinya.
Hubungan kami tidak selalu mulus. Ada saat-saat di mana kami berbeda pendapat dan ada kesalahpahaman. Namun, di balik itu semua, aku tahu bahwa cinta ibu padaku tidak pernah berkurang. Setiap kali kami berbaikan, aku selalu merasa bahwa hubungan kami semakin kuat. Ibu mengajarkanku tentang pentingnya memaafkan dan memahami, bagaimana sebuah keluarga harus selalu mendukung satu sama lain, meski dalam situasi yang sulit sekalipun.
Rasa sayang kepada ibu, bagiku, adalah perasaan yang terus berkembang seiring waktu. Setiap kali aku pulang ke rumah, aku melihat betapa banyak yang telah berubah, namun cinta dan perhatian ibu tetap sama.
Ia selalu menyambutku dengan senyuman hangat dan pelukan yang membuat semua kekhawatiran hilang. Ada sebuah kenyamanan yang tidak bisa aku temukan di tempat lain selain di pelukan ibu. Di sana, aku merasa aman, dicintai, dan diterima apa adanya.
Kini, sebagai seseorang yang sudah cukup dewasa, aku berusaha untuk membalas semua cinta dan pengorbanan ibu. Aku tahu bahwa tidak ada yang bisa sepenuhnya membalas apa yang telah ia lakukan, namun aku ingin menunjukkan betapa aku menghargai dan mencintai dirinya. Aku mulai lebih sering menghabiskan waktu bersamanya, mendengarkan ceritanya, dan berbagi cerita. Aku ingin membuatnya bangga, menunjukkan bahwa semua usaha dan pengorbanannya tidak sia-sia.
Aku ingat satu momen yang sangat berkesan bagiku. Suatu malam, ketika kami duduk bersama di ruang tamu, ibu bercerita tentang masa mudanya, tentang mimpi-mimpi dan harapannya yang besar. Mendengarkan cerita itu, aku merasa begitu terharu dan bersyukur. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menghargai setiap momen yang aku habiskan bersama ibu, untuk selalu menunjukkan rasa sayang dan terima kasih kepada ibu.
Ada begitu banyak cara untuk menunjukkan rasa sayang kepada ibu. Hal-hal sederhana seperti membantu pekerjaan rumah, memberinya waktu istirahat, atau sekadar mengucapkan terima kasih bisa membuatnya bahagia. Aku juga belajar bahwa mendengarkan adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling tulus. Mendengarkan dengan penuh perhatian ketika
ibu bercerita, menunjukkan bahwa aku peduli dan menghargai setiap kata yang ia ucapkan.
Aku tahu bahwa kebahagiaan ibu tidak hanya terletak pada keberhasilan anak-anaknya, tetapi juga pada pencapaian pribadi yang ia impikan. Dengan mendukungnya untuk mengejar hobi atau keinginannya yang tertunda, aku berharap bisa membuat ibu merasa bahwa ia juga berhak bahagia dan menikmati hidup.
Ketika aku melihat kembali perjalanan hidupku, aku menyadari bahwa ibuku adalah pahlawan tanpa tanda jasa dalam hidupku. Ia adalah sumber kekuatan dan inspirasiku, seseorang yang selalu ada di saat-saat terberat dan terindah dalam hidupku. Rasa sayang kepada ibu adalah sesuatu yang harus selalu aku jaga, karena ibu adalah sosok yang tak akan pernah tergantikan.
Dalam setiap langkah, aku selalu mengingat ibu, berusaha untuk menjadi pribadi yang baik dan kuat seperti dirinya. Terima kasih ibu, untuk segala cinta dan pengorbananmu. Aku akan selalu mencintaimu dengan tuus dan segenap hatiku.








