Wanita yang Berhasil Menguatkan Diriku

Sabtu, 09/05/2020 - 19:59
Foto: pinterest.com
Foto: pinterest.com

Setiap orang pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Entah masalah asmara, pekerjaan, ekonomi, dan lain-lain. Masalah yang dialami tidak semuanya bisa disanggah sendiri.  Beberapa diantaranya akan membagikan masalahnya lewat keluh kesah dengan orang terdekatnya. Didengarkan keluh kesah dan diberi solusi membuat orang bangkit dari masalahnya.    
Sosok yang aku jadikan tempat untuk berbagi masalah adalah ibu. Banyak dari kalian juga yang merasa seperti ku, bukan?  Ibu selalu menunjukkan solusi terbaik dari masalah ku. Tidak hanya solusi, ibu juga menguatkan diriku. Ibu bisa membuat ku berdiri tegak ketika lemah. Aku berada dalam rasa putus asa dan sudah tidak ada jalan dari masalah ku, ibu akan memberiku semangat.

“Masalah diberikan agar kita kuat, kamu harus ingat Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada kita yang tidak bisa kita lewati,” katanya lembut.

Aku berada dalam rasa putus asa, ketika aku lulus SMA. aku berkali-kali mengikuti tes penerimaan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Namun, aku gagal. Aku merasa diriku bodoh dan semua yang ku lakukan sia-sia. Aku iri kepada teman-temanku yang diterima di kampus impiannya.

Saat SMA, aku tidak bisa mengikuti bimbingan belajar masuk PTN seperti teman-teman ku lainnya. Aku hanya belajar sendiri. Aku tidak bisa, karena kondisi ayahku yang sudah tidak bekerja lagi. Mengikuti bimbingan belajar adalah keinginan ku sebenarnya. Melalui bimbingan belajar lebih mudah untuk mendapatkan pelajaran tambahan yang aku tidak mengerti.

“Daripada uangnya dipakai untuk bimbingan belajar yang belum terjamin kamu lolos PTN, lebih baik disimpan untuk kamu mendaftarkan kuliah nanti, kampus swasta itu tidak murah,” kata ayah ketika aku ingin mendaftarkan diri untuk mengikuti bimbingan belajar. Aku yang mendengarnya secara langsung membuat mataku tergenang air mata.

Memang benar, uang bimbingan belajar tidaklah sedikit. Berat rasanya merelakan salah satu keinginan. Bagaimana bisa, aku lolos PTN tanpa bimbingan belajar? Teman-teman ku yang ikut bimbingan belajar saja belum tentu lolos, apalagi aku.
Ibu mengatakan, “kamu harus mengerti kondisi saat ini, ibu yakin kamu bisa. Banyak jalan untuk sampai di puncak. Jadi ibu yakin kamu pasti bisa lolos PTN tanpa bimbingan belajar. Kamu bisa belajar dengan banyak buku, nanti ibu kasih uangnya untuk kamu beli buku yang banyak dan kalau kamu tidak mengerti kamu bisa nanya ke teman-teman dan sepupu mu, bukan?”.

Kata-katanya bagaikan mantra, bisa membuat tersihir kedamaian dan ketenangan hati. Aku harus membuktikan kepada ayah dan ibu, jika aku tidak akan mengecewakan mereka. Aku memutuskan untuk belajar mandiri, walaupun susah. Banyak tipe-tipe soal yang tidak aku mengerti.

Tiba saatnya tes penerimaan PTN, aku yakin aku akan lulus. Namun, ternyata tidak. Tidak hanya satu kali, tetapi lima kali aku mecoba hasilnya gagal. Saat itu, aku sudah merasa putus asa dan kecewa. Teman-teman ku yang lain sudah diterima di kampusnya masing-masing. Berbeda dengan ku yang hanya bisa diam menahan tangis ketika ditanya sudah diterima di kampus mana. Aku berpikir dugaan ayah benar, bahwa aku akan masuk kampus swasta. Bagaimana dengan ibu yang sudah meyakinkanku bahwa aku bisa diterima di kampus negeri?

Saat itu, aku sedang menunggu pengumuman penerimaan mandiri PNJ. Kesempatan ku terakhir kalinya untuk kuliah di negeri. aku yang sedang melewati kamar ibu dan ayah tidak sengaja mendengar perbincangan mereka.

Ibu mengatakan kepada ayah bahwa, ibu yakin sekali kepada aku bahwa aku akan diterima di PNJ karena ibu sudah mendoakan aku. Berbeda dengan ayah yang tidak yakin kepada ku. Ayah mengatakan bahwa, aku harus segera mendaftarkan diri ke kampus swasta. 
Dua orang yang aku sayangi berdebat tentangku. Bukan suatu hal yang mudah saat mendengarnya. Entah apa yang mereka rasakan, ketika berdebat. Aku merasa perkataan ibu berhasil membuat diriku terpatung diam.

Keesokannya, hasil tes penerimaan kuliah diumumkan. Aku dinyatakan lulus. Aku langsung mencium tangan ayah dan ibu. Aku menatap mata ibu, sorot matanya memancarkan rasa bahagia.

Ternyata benar, keyakinan dan doa dari seorang ibu akan mengalahkan segalanya. Ibu mengubah pemikiranku. Aku membuktikan bahwa yang hanya belajar sendiri saja bisa masuk kampus negeri. Tergantung caranya masing-masing.

Aku bersyukur mempunyai seorang wanita seperti ibu. Wanita yang tahu untuk apa dirinya diciptakan. Wanita yang selalu berpikir positif. Wanita yang memberi makna bagi sesama. Wanita yang mengajarkan ku dengan bersabar menghadapi masalah, lambat laun akan memiliki mental yang kuat. Tidak semua orang sanggup menghadapi hidup yang sulit, hanya yang bermental baja dan berhati teguh yang bisa tangguh menghadapinya.

(Penulis: Risma Dewi Indriani)

Related News

Loading...

pers

loading...