Webinar Literasi Digital “Literasi Digital– Waspada Rekam Jejak Digital di Internet”
Klikwarta.com, Bengkulu Selatan - Rangkaian webinar literasi digital di Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu telah bergulir pada Kamis (6/4) pukul 10.00-12.00 WIB. Kegiatan webinar yang bertajuk tema “Waspada Rekam Jejak Digital di Internet” merupakan kerjasama Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dengan SMPN 4 Bengkulu Selatan dan SMPN 13 Bengkulu Selatan dengan melibatkan para siswa sebagai audiensnya.
Kegiatan yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.
Pengguna internet di Indonesia pada awal Tahun 2022 mencapai 204,7 juta orang atau meningkat 2,1 juta dari tahun sebelumnya. Namun, penggunaan internet tersebut membawa berbagai risiko, karena itu peningkatan penggunaan teknologi internet perlu diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang baik agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan bijak dan tepat.

Survei Indeks Literasi Digital Nasional yang dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 menunjukkan skor atau tingkat literasi digital masyarakat Indonesia berada pada angka 3,49 dari 5,00.
Kemudian pada tahun 2022, hasil survei Indeks Literasi Digital Nasional mengalami kenaikan dari 3,49 poin menjadi 3,54 poin dari skala 5,00. Hasil ini dianggap menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia saat ini berada di kategori sedang dibandingkan dengan tahun lalu.
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan menilai indeks literasi digital Indonesia belum mencapai kategori baik. “Angka ini perlu terus kita tingkatkan dan menjadi tugas kita bersama untuk membekali masyarakat kita dengan kemampuan literasi digital,” katanya lewat diskusi virtual. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.
Pada webinar yang menyasar target segmen pelajar SMP ini, sukses dihadiri oleh sekitar 50 peserta daring, dan juga dihadiri beberapa narasumber yang berkompeten dalam bidangnya. Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan dari Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel Abrijani Pangerapan, dihadiri narasumber Erfan Hasmin (Kepala Unit ICT Universitas DIPA Makassar), kemudian narasumber Ani Nurhamidah, M.Pd Kepala Sekolah SMPN 13), bersama Key Opinion Leader Deola Adene (Putra Batik Nusantara), serta Siti Kusherkatun, S.Pd.I (Asih) sebagai juru bahasa isyarat dan dipandu oleh moderator Diny Brilianti. Para narasumber tersebut memperbincangkan tentang 4 pilar literasi digital, yakni Digital Culture, Digital Ethic, Digital Safety dan Digital Skill.
Pada sesi pertama, narasumber Erfan Hasmin menyampaikan mengenai pentingnya privasi data diri, keamanan digital, dan rejam jejak digital. Terdapat privasi individu yaitu hak hak individu untuk mengontrol, mengedit, mengatur, dan menghapus informasi tentang dirinya, termasuk memutuskan kapan, bagaimana, dan untuk apa informasi itu disampaikan ke pihak lain, agar dapat membatasi kekuatan di luar diri manusia untuk melakukan penekanan atau kontrol atas kehidupannya, tantangan atas privasi individu adalah semua rahasia atas dirinya bisa dikuasai pihak lain, sehingga keselamatannya terancam. Privasi data pribadi di dunia digital sangat penting karena untuk mencegah penyalahgunaan data peribadi oleh pihak yang tidak bertanggungjawab, untuk memberikan hak kendali atas data pribadi kita, serta mencegah oknum atau pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menghindari potensi pencemaran nama baik. Beberapa tips keamanan digital yaitu menggunakan antivirus di komputer dan HP, menggunakan password yang sulit (bukan tanggal lahir), menghindari sembarangan mengklik ‘setuju’ di web atau aplikasi tertentu tanpa membaca terlebih dahulu, memperbaharui software yang dipakai, menggunakan browser yang sudah diperbaharui, selalu memback up data di beberapa tempat, tidak hanya satu. Kemudian jejak digital adalah rekaman atau bukti yang ditinggalkan setelah beraktifitas di internet yang berpotensi untuk dicari, dilihat, disalin, dicuri, dan diikuti orang lain. Terdapat jejak digital yang ditinggalkan yakni dapat dilihat dari riwayat pencarian, histori chat, foto atau video yang belum atau sudah dihapus, foto yang di tag, lokasi yang diakses melalui internet, interaksi media sosial like dan komen, serta persetujuan akses cookies di browser.
“Cara merawat rekam jejak digital ada beberapa hal yang pertama kita bisa tahu rekam jejak digital kita, anda bisa seaching di google nama anda, kelihatan anda akan dikenal dunia sebagai apa, kita bisa atur privasi di perangkat dan akun media sosial, posting hal-hal yang positif, gunakan kombinasi password yang kuat, misalnya password yang kuat itu kombinasi huruf besar huruf kecil, mengandung karakter khusus, mengandung angka di dalamnya, hapus aplikasi yang tidak dipakai, jadi walaupun handphone adik-adik punya kapasitas yang besar, tetapi jika aplikasi tidak digunakan nggak usah diinstal, periksa cookies di perangkat dan jika ada situs yang tidak dikenal mengirim cookies, segera block website tersebut, gunakan akun berbeda untuk berbagai keperluan, seperti pekerjaan, belanja, pendidikan, dan selalu update system operasi dan antivirus,” ujar Erfan.
Giliran narasumber kedua, Ani Nurhamidah, M.Pd memberikan pemaparan bahwa jejak digital merupakan sesuatu yang tidak bisa dengan mudah dihilangkan dan dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab, kegiatan seperti mengirim email, mengunjungi website, hingga posting di media sosial sudah cukup untuk meninggalkan jejak digital. Jejak yang ditinggalkan di dunia maya merupakan informasi yang dapat menggambarkan kepribadian seseorang, jika tidak segera dikelola, banyak orang tidak bertanggung jawab yang bisa menyalahgunakannya. Jejak digital yang ditinggalkan yakni berupa postingan di media sosial, games online yang dimainkan, pencarian di google, aplikasi yang diunduh, musik online yang diputar, tontonan di youtube, pembelian di marketplace, situs web yang dikunjungi, jalur ojek online, dan sebagainya. Cara mengelola jejak digital yaitu menghindari menyebarkan data penting seperti alamat rumah, rekening ATM, atau nomor HP di internet, membuat password yang kuat untuk tiap akun media sosial, tidak memposting sesuatu yang bersifat personal, menggunakan layanan pelindung data pada perangkat, dan dapat mencari nama sendiri di google dan menghapus semua informasi yang sensitif yang kamu temukan.
“Kita sebagai seorang yang bekerja di dunia yang tidak lepas dari internet, nah para pencari kerja itu sangat mencari rekam jejak seseorang itu dari internet, seperti saya juga, ada guru, misalkan baru mau masuk kesini, pasti saya browsing dulu, dia karakternya seperti apa, facebooknya seperti apa, begitu juga misalnya ada pejabat baru, atau orang yang baru saya kenal, langsung saya liat di rekam jejaknya di internet, makanya image yang kita munculkan di akun media sosial kita, harus benar-benar yang positif, agar ketika orang mencari kita juga image nya menjadi positif, dan tidak merugikan kita dalam dunia pekerjaan atau karir kita di masa yang akan datang,” jelas Ani.
Selanjutnya, giliran Deola Adene selaku Key Opinion Leader yang memberikan tips dalam membuat konten yang positif di ruang digital dengan cara membuat konten yang mendidik, bermanfaat, dan branding diri dengan positif agar orang lain dapat mengenal diri kita secara positif. Diperlukan agar berhati-hati dalam dunia digital karena terdapat undang-undang yang mengatur segala perbuatan.
“Kita di ruang digital ini harus sangat berhati-hati, dikarenakan apa yang kita lakukan, apa yang kita sharing, semua itu dipertanggung jawabkan, dan sudah ada undang-undang yang mengaturnya,” kata Deola.
Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Kemudian moderator memilih tiga penanya untuk bertanya secara langsung dan berhak mendapatkan e-money.
Pertanyaan pertama dari Ajizah Emilia yang mengajukan pertanyaan terkait dengan keamanan data pribadi kita saat berbelanja online kita harus memberikan data kita supaya tidak salah alamat namun apakah data kita itu akan tetap aman dan tidak tersebar di karenakan saat ini banyak hal- hal aneh yang termasuk penyalahgunaan data pribadi kita? Apakah hal itu bisa di tangani meskipun kita saat mendaftar suatu akun pasti di minta OTP dan apakah dengan adanya otp itu sudah menjamin data kita tidak akan di bobol pak? Kemudian narasumber Erfan Hasmin menanggapi bahwa OTP itu berguna untuk memastikan kalau yang login itu kita, tetapi tidak menjamin dengan OTP tidak bisa dihack atau akun kita diambil tetapi dengan OTP kemungkinan dihack atau akun kita diambil berkurang dan jaman sekarang OTP sudah sangat safety sehingga aman.
Pertanyaan kedua dari Wilona Shafza yang mengajukan pertanyaan bagaimana menumbuhkan kesadaran pada setiap individu diruang digital dengan aspek budaya digital karena dengan adanya budaya baru diruang digital yang dikemas dengan menggunakan berbagai aplikasi sosial media justru individu menyebarkan data dirinya bahkan saling menyindir satu sama lain yang nantinya akan berdampak pada rekam jejak digital negatif? Kemudian narasumber Ani Nurhamidah, M.Pd menanggapi bahwa dalam dunia digital ini ada aturan-aturan yang harus dipelajari terlebih dahulu, dalam berinternet itu kita harus selalu berpositif, sopan, hormati orang didalam dunia digital ini, dan hindari hal-hal yang negatif seperti hate komen dan selalu lakukan yang positif.
Pertanyaan ketiga dari Heni mengajukan pertanyaan setiap pengguna internet meninggalkan jejak yang terdiri dari passive user footprint, yaitu data yang ditinggalkan secara tidak sadar. Seperti riwayat pencarian, lokasi, dan lainnya. Kemudian seperti postingan foto, video dan status. Dengan begini, risiko pencurian data pribadi dan kejahatan dapat terjadi. Nah pak bagaimana cara kita menghindari pencurian data pribadi ini pak? Kemudian narasumber Erfan Hasmin menanggapi bahwa jejak digital itu ada 2 ada yang pasif dan aktif, aktif kita perlu kesadaran dari pencurian data karena secara sadar kita menyebarkan informasi kita ke internet, agar data kita tidak tersebar kita harus memproteksi diri sendiri dan selalu jaga data kita. Selanjutnya narasumber Ani Nurhamidah, M.Pd, juga menanggapi bahwa jangan terlalu sering posting tentang diri kita sendiri pada sosial media, hapus jejak digital kita di internet, gunakan password yang kuat, dan jangan sebarkan data kita ke orang lain, selalu jaga data kita.
Sesi tanya jawab selesai, kemudian moderator mengumumkan tujuh pemenang lainnya yang bertanya di kolom chat dan berhasil mendapatkan voucher e-money sebesar Rp. 100.000. Moderator mengucapkan terima kasih kepada narasumber, Key Opinion Leader (KOL) dan seluruh peserta webinar. Pukul 12.00 WIB webinar literasi digital selesai, moderator menutup webinar dengan mengucapkan salam, terima kasih dan tagline Salam Literasi Indonesia Cakap Digital.
Kegiatan Literasi Digital Sektor Pendidikan di Provinsi Bengkulu merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga tahun 2024.
Adapun Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan info literasi digital dapat diakses melalui website: literasidigital.id (https://literasidigital.id/) dan akun media sosial Instagram: @literasidigitalkominfo (https://www.instagram.com/literasidigitalkominfo/), Facebook Page: Literasi Digital Kominfo/@literasidigitalkominfo (https://www.facebook.com/literasidigitalkominfo),
Youtube: @literasidigitalkominfo (https://www.youtube.com/@literasidigitalkominfo).








