Gunungan palawija dibawa memasuki areal Situs Giyanti saat acara Napak Tilas 271 Tahun Perjanjian Giyanti pada Jumat (13/2/2026) malam.
Klikwarta.com, Karanganyar – Suasana di Dusun Kerten, Desa Jantiharjo, Karanganyar seketika berubah meriah pada Jumat (13/2/2026) malam. Ratusan warga tumpah ruah memadati areal Situs Giyanti untuk merayakan Napak Tilas 271 Tahun Perjanjian Giyanti, sebuah peristiwa diplomatik besar yang menjadi cikal bakal berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Meskipun tampak dikemas lebih sederhana pasca-fokus agenda nasional tahun lalu, ruh budaya tetap terasa kental. Iring-iringan kirab gunungan palawija dan arum manis menjadi magnet utama, simbol rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap tanah yang menjadi saksi bisu peristiwa pembelahan kerajaan Mataram Islam yang dikenal dengan Palihan Nagari.
Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY, Ariyanti Luhur Tri Setyarini, yang hadir langsung dalam acara tersebut, memberikan analogi mendalam mengenai situs ini. Baginya, Situs Giyanti bukan sekadar monumen peninggalan masa lalu, melainkan 'akar tunggang' sejarah lahirnya Yogyakarta.
"Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 adalah titik awal lahirnya Ngayogyakarta Hadiningrat. Di sinilah Pangeran Mangkubumi mendapatkan wilayah yang kini menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta. Cikal bakalnya dari sini, maka bagi kami, ini adalah akar sejarah yang sangat kuat," ungkap Ariyanti.
Ia pun mengakui kekagumannya terhadap semangat masyarakat lokal. Meski koordinasi untuk pelaksanaan kegiatan napak tilas tahun ini tergolong singkat, atmosfer sakral dan antusiasme warga tidak luntur sedikit pun.
"Kami berharap, ke depan kolaborasi antara Pemerintah DIY dan Karanganyar bisa lebih erat untuk memperingati momentum ini secara lebih kolosal," ucapnya.
Senada dengan hal itu, Pemerintah Kabupaten Karanganyar melalui Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora), Hari Purnomo, menyampaikan apresiasi tinggi, khususnya bagi warga Kerten. Menurutnya, acara ini bukan hanya soal merawat ingatan, tapi juga memutar roda ekonomi rakyat.
"Alhamdulillah, antusiasme masyarakat besar sekali. Kita lihat UMKM berjajar sepanjang jalan, semuanya ramai. Ini membuktikan bahwa budaya bisa berdampak langsung pada kesejahteraan warga," ujar Hari.
Meski saat ini Napak Tilas Giyanti masih dalam proses kurasi untuk menembus Kalender Event Nasional (KEN), Pemkab Karanganyar tetap optimistis. Hari Purnomo menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mengemas acara ini menjadi lebih ikonik di tahun-tahun mendatang.
"Persaingan di tingkat kementerian memang ketat karena banyak daerah yang mengusulkan event unggulan. Namun, dengan potensi sejarah yang begitu besar, kami akan terus mendorong agar Napak Tilas Giyanti mendapat pengakuan nasional," tambahnya.
Perayaan ke-271 ini seolah mengirim pesan kuat bahwa identitas besar Yogyakarta dan kebanggaan Karanganyar berpijak pada satu titik diplomasi yang terjadi ratusan tahun silam di sebuah desa kecil bernama Giyanti. Persatuan dan penghormatan terhadap sejarah inilah yang menjadi modal utama dalam melangkah ke masa depan.
Pewarta : Kacuk Legowo







