Mereka Datang Menambahkan Cahaya

Rabu, 21/05/2025 - 09:15
Foto : Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

Oleh : Zihan Muhtafa

Klikwarta.com - Di sudut kampus Politeknik Negeri Jakarta, ada langkah yang pelan tapi berkesan indah. Mereka tidak mencolok, tidak lantang, tapi kehadirannya menyinari ruang interaksi dengan cara yang berbeda. Mereka adalah mahasiswa hebat yang datang dengan cahaya lain.

Tidak semua orang  memahami bagaimana rasanya duduk di kelas dengan dunia yang terdengar samar, atau menulis tulisan sambil melawan kegugupan yang tak tampak. Namun di antara kerumitan itulah tumbuh sesuatu yang langka: kemampuan membangun jembatan hati di tengah keterbatasan teknis.

Fareza Dida Vivosecarian, mahasiswa Jurusan Akuntasi, hidup dengan kepercayaan diri yang tinggi. Meski komunikasi terbatas, ia mampu menunjukkan kepekaan luar biasa terhadap lingkungan sekitarnya.

"Dia tahu serta dapat membedakan mana orang yang dapat menerima dia, dan dia akan datang. hanya untuk duduk di samping atau melaksanan tugas yaitu berjualan. Itu saja sudah cukup membuat kita merasa bangga," ujar Diky.

Apa yang dimiliki Fareza bukan sekadar ketajaman sosial biasa. Ia memiliki kecerdasan interpersonal kemampuan membaca emosi, memahami perasaan, dan menyesuaikan sikap secara naluriah. Dalam kasus, ini menjadi kunci adaptasi yang bahkan mahasiswa lain pun belum tentu bisa kuasai hal seperti ini.

Fareza dikenal gemar berjualan kue putu ayu di lingkungan kampus. Ia membawa kotak kecil berisi kue buatan ibunya, menawarkan pada teman-teman dengan senyum malu-malu namun tulus.

"Aku jual kue putu ayu, satunya lima ribu" singkat katanya. Tapi bukan cuma kue yang di tawarkan Fareza, ia menghadirkan keikhlasan, keberanian, dan kerja keras dalam bentuk paling sederhana.

Kegiatan berjualannya bukan sekadar untuk mengisi waktu atau mencari uang saku. Baginya, itu adalah cara untuk merasa terhubung. Setiap kue yang ditawarkan adalah upaya untuk menjalin komunikasi, membangun keberanian, dan merayakan kehadirannya di tengah teman-temannya.

Meski kehidupan sosialnya berbeda dari kebanyakan mahasiswa lain, Fareza tetap aktif dan punya dunia digital yang tak kalah semarak. Ia gemar bermain media sosial menonton video pendek, memberi komentar sederhana, atau sekadar membagikan aktivitas hariannya. Di sana, ia bebas menjadi dirinya sendiri tanpa harus menjelaskan siapa dirinya.

Apa yang dimiliki Fareza bukan sekadar keberanian untuk hadir. Ia punya intuisi sosial yang tak diajarkan di kelas: memahami emosi, membaca sikap, menyesuaikan diri dengan tenang. Ini adalah bentuk kecerdasan interpersonal yang seringkali luput dihargai, namun justru menjadi perekat penting dalam kehidupan sosial kampus.

Kampus sebagai institusi perlahan-lahan mulai belajar mendengar dan memberi ruang. Beberapa dosen mulai mengenali kebutuhan mahasiswa seperti Fareza. Mereka tidak menyesuaikan sistem sepenuhnya, tapi memberi fleksibilitas dalam tugas, waktu, dan pendekatan pengajaran. Sebuah langkah kecil untuk inklusi yang lebih nyata.

Tags

Berita Terkait