Semangat gotong royong masyarakat Tope Jawa bersama prajurit TNI menjadi “nafas baru” bagi desa yang dulunya dianggap tertinggal.
Oleh: Letkol Inf Faizal Amin, S.I.P (Dansatgas TMMD ke-126, Kodim 1426/Takalar)
Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas sawah yang membentang luas di Desa Tope Jawa, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Dari kejauhan, suara ayam beradu dengan deru mesin perahu nelayan yang baru pulang melaut. Hidup di desa ini seolah tak pernah kehilangan ritmenya, pelan tapi pasti, sederhana tapi penuh makna.
Namun, di balik ketenangan itu, Tope Jawa sedang berbenah. Lewat program TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa) ke-126, Kodim 1426/Takalar, geliat perubahan mulai terasa. Perintisan jalan tani sepanjang 1.465 meter dengan lebar 4 meter dibangun, disertai Pembuatan Talud sepanjang 2.930 meter, Penimbunan jalan dengan sirtu, Pembuatan gorong-gorong 5 titik dan Pembuatan Jembatan/Plat Dueckker 2 titik.

Lebih dari sekadar infrastruktur, semangat gotong royong masyarakat Tope Jawa bersama prajurit TNI menjadi “nafas baru” bagi desa yang dulunya dianggap tertinggal itu. Terlebih dalam sasaran non fisik, dengan muatan edukasi dengan pelbagai penyuluhan, mulai dari Penyuluhan Wawasan Kebangsaan, Bela Negara, Kamtibmas, Hukum, Pertanian, Peternakan, Kesehatan dan Stunting.
Dalam TMMD ini, juga dipadukan dalam Program Unggulan Kasad untuk memaksimalkan kemandirian dan ketahanan nasional, seperti program Pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Dg Sikki, Baco Dg Nyallang, Nurlina Dg Ngimi dan Syaharuddin Dg Sila. Kemudian, untuk meningkatkan sanitasi dan kesehatan lingkungan Pemuatan MCK dibangun di Dusun Tope Jawa dan Dusun Tope Jawa Lama.
Tak hanya itu, untuk manunggal air bersih, Pembuatan Sumur Bor dilakukan di 5 titik, yakni di Dusun Kajang, Dusun Tope Jawa, Dusun Lamangkia dan Dusun Tope Jawa Lama sebanyak 2 titik. Untuk tambahan juga dilakukan renovasi masjid dan peduli kesehatan anak stunting.
“Dulu, kami cuma menunggu bantuan. Sekarang, kami belajar bergerak bersama,” tutur Arman, S.I.P, Kepala Desa Tope Jawa. Mengisahkan desanya yang lama tak tersentuh pembangunan dan terisolir karena minimnya infrastruktur.
Arman mengakui bahwa perubahan ini tidak datang tiba-tiba. “Kami sadar, kemajuan tidak datang dari luar. Kuncinya adalah kemanunggalan-pemerintah, TNI, pemuda, ibu-ibu, dan tokoh masyarakat harus bersatu. Dari situ, asa baru muncul,” ujarnya.
Setiap hari, kurun waktu satu bulan, lapangan desa menjadi saksi kebersamaan warga dan satgas TMMD, senam pagi, bazar produk lokal, hingga diskusi tentang pembangunan sasaran fisik dan non fisik. Anak-anak berlarian, remaja membantu dan para bapak sibuk menuntaskan konstruksi sasaran fisik bersama satgas. Suasana hangat itu menegaskan satu hal, Tope Jawa sedang hidup kembali, dengan denyut baru yang lahir dari kemanunggalan TNI-Rakyat.
Desa ini bukan lagi sekadar titik di peta, melainkan simbol dari harapan: bahwa kemajuan bisa tumbuh dari bawah, dari tangan-tangan yang mau bergandeng erat.
Asa Desa Tope Jawa kini bukan lagi sekadar impian, tapi kenyataan yang sedang mereka bangun bersama, nafas baru di balik kemanunggalan.
Dulu Serba Terbatas
Beberapa tahun silam, Tope Jawa bukanlah desa yang ramai diperbincangkan. Infrastruktur minim, akses pendidikan terbatas, dan peluang ekonomi nyaris tak ada. Banyak jalan masih berupa tanah merah yang becek di musim hujan dan berdebu di musim kemarau. Air bersih menjadi barang langka di beberapa dusun.
“Kalau dulu mau ke lahan pertanian susah, harus jalan kaki beberapa kilometer dan jika pakai kendaraan sangat sulit jika dimusim penghujan,” kenang Ani (45 th), warga Desa Tope Jawa. Ia ingat betul bagaimana masyarakat hidup dalam keterbatasan, tetapi selalu punya semangat untuk bertahan.

Sebagian besar warga Tope Jawa berprofesi sebagai nelayan dan petani. Saat musim paceklik datang, mereka kerap bergantung pada utang untuk membeli kebutuhan pokok. Anak-anak muda banyak yang memilih merantau ke Makassar, bahkan ke Kalimantan, meninggalkan tanah kelahiran mereka karena menganggap desa ini tak lagi menjanjikan masa depan.
Awal Sebuah Gerakan
Perubahan mulai terasa ketika satgas TMMD mulai berjibaku dalam sasaran fisik dan non fisik. Satgas bekerjasama dengan kelompok pemuda, ibu-ibu PKK, dan tokoh masyarakat, mulai menggali kekuatan yang selama ini tersembunyi: kekompakan dan gotong royong.
“Sebenarnya, dari dulu masyarakat Tope Jawa itu kompak. Hanya saja belum terarah,” ujar Rahma, seorang ibu rumah tangga. “Sekarang kami diajari bagaimana mengelola hasil laut menjadi produk bernilai jual. Saya dulu cuma bantu suami menjual ikan segar, sekarang bisa bikin berbagai olahan”, urainya.
Terpisah, bagi Kepala Desa Arman, semua kemajuan itu tak akan berarti tanpa kebersamaan. Ia meyakini bahwa kunci pembangunan desa bukan sekadar dana, melainkan kemanunggalan.
“Kami tidak ingin warga jadi penonton. Semua harus terlibat, karena desa ini milik bersama,” ujarnya.
Setiap bulan, pemerintah desa menggelar Musyawarah Warga di balai desa. Di sana, warga bebas menyampaikan ide dan aspirasi. Kadang membahas pembangunan, kadang soal kegiatan sosial. Dari forum-forum kecil inilah lahir banyak gagasan besar-mulai dari pengelolaan sampah terpadu, pelatihan digital marketing, hingga rencana wisata edukasi mangrove.

Tidak hanya itu, kegiatan gotong royong kembali hidup. Setiap Jumat pagi, warga bergantian membersihkan lingkungan, menata taman desa, dan memperbaiki fasilitas umum. “Kita ingin semangat kebersamaan tetap hidup, karena dari situlah nafas Tope Jawa berasal,” tambah Arman. Dengan ucap syukur, kehadiran satgas TMMD di desanya menggeliatkan ekonomi baru, memaksimalkan kemajuan dan kemandirian desanya.
Bentuk syukur itu tidak hanya diucapkannya, teriring harapan warga, Arman mengerahkan seluruh masyarakat desa untuk manunggal bersama prajurit TNI dalam mengerjakan berbagai titik sasaran fisik dan non fisik.
Kemanunggalan yang Menghidupkan
Embun masih menitik pelan di pucuk dedaunan ketika suara ayam jantan memecah keheningan pagi. Kehidupan berdenyut dalam irama yang lembut dan bersahaja. Tidak ada yang tergesa. Tidak ada yang ingin lebih cepat dari waktu. Di sini, hidup adalah tentang kebersamaan, tentang bagaimana satu langkah kecil bisa menjadi gerak besar ketika dijalani bersama.
Di titik sasaran fisik, ratusan prajurit menata batu, meratakan jalan dengan alat ecskavator dan membentuk badan jalan sepanjang 1.465 meter dengan lebar 4 meter. Suara gerak kompak berpadu dengan tawa-ritme kehidupan yang seakan tak pernah usang. Di titik sasaran pembuatan talud dan gorong-gorong pun demikian, satgas dibantu tukang berjibaku menyusun konstruksi bangunan bergantian. Setiap ketukan palu menderap semangat, tetapi juga menumbuhkan rasa: rasa syukur, rasa persaudaraan, rasa hidup yang penuh asa menanggalkan ketertinggalan.
Kemanunggalan di desa ini bukanlah kata yang dihafal dari buku. Ia tumbuh dari tanah yang sama tempat mereka berpijak, dari air yang sama mereka minum, dari langit yang sama mereka pandangi. Ketika terik matahari menyengat ubun-ubun, beberapa warga, khususnya emak-emak datang membawa makanan dan buah. Mereka duduk bersama dalam keakraban yang penuh pengertian. Tidak ada yang merasa lebih tinggi, karena mereka tahu, hidup adalah jalinan yang hanya bermakna ketika saling terhubung.
Hari demi hari terlewati, berbagai konstruksi sasaran fisik menunjukan progres yang baik, menandakan kemajuan Desa Tope Jawa terwujud. Kemanunggalan TNI-Rakyat membuahkan hasil yang menata peradaban baru. Aku pun tergerak, mulai meninjau hasil pembangunan dibeberapa titik sasaran fisik.
Dengan semangat, aku menggerakan jariku, menunjuk ke beberapa titik sudut sisi bangunan jalan dan gorong-gorong yang perlu dilakukan pembenahan, agar konstruksi bangunannya lebih maksimal.
Merespon hal itu, sejumlah prajurit menindaklanjutinya dibantu dengan warga penuh perhatian. Hal ini diperlukan, mengingat hasil pembangunan harus berkualitas dan tahan lama untuk kepentingan masyarakat Desa Tope Jawa.

Beranjak sore, ketika matahari perlahan tenggelam di balik bukit, anak-anak tampak berlarian di pematang, menertawakan bayangan sendiri di permukaan air. Sementara para orang tua duduk di beranda, memandangi sawah yang menguning, berbagi cerita tentang masa lalu, tentang hujan, dan tentang doa.
Kemanunggalan seperti ini mungkin tampak sederhana, tapi justru di situlah kekuatannya. Ia tidak berteriak, tidak menuntut perhatian, namun menghidupkan segalanya-seperti akar yang tersembunyi di dalam tanah, memberi napas bagi pohon yang menjulang.
Di tengah dunia yang kian sibuk dan bising, mungkin kita perlu kembali belajar dari kehidupan di desa ini. Bahwa hidup bukan soal siapa yang lebih cepat, tetapi siapa yang lebih dekat dengan sesama, dengan alam, dengan hati sendiri.
Sebab pada akhirnya, kemanunggalanlah yang benar-benar menghidupkan.
Denyut Baru di Setiap Sudut
Meski banyak kemajuan, jalan Tope Jawa masih panjang. Tantangan terbesar datang dari keterbatasan sumber daya dan kesadaran masyarakat yang masih perlu dibangun. Beberapa warga masih bergantung pada bantuan luar, dan infrastruktur digital belum sepenuhnya merata.
Namun, bagi masyarakat Tope Jawa, perubahan yang mereka rasakan hari ini sudah menjadi langkah besar. “Kami sekarang tidak lagi malu disebut orang desa,” kata Nurlina Dg Ngimi dengan mata berbinar. “Karena kami tahu, dari desa juga bisa maju.”
Masyarakat kini punya harapan baru. Infrastruktur jalan yang memadai, fasilitas lainnya mendukung meningkatkan sektor perekonomian.
Kini, setiap akhir pekan, lapangan desa menjadi pusat kehidupan sosial. Ada yang berolahraga, ada yang menggelar bazar produk lokal, ada pula yang sekadar bersantai menikmati udara pantai. Musik tradisional kadang berpadu dengan lagu pop modern, simbol harmoni antara tradisi dan perubahan.
Di sudut lain, terlihat para remaja bersama satgas sibuk mengatur Pesta Rakyat TMMD ke-126 Tahun Anggaran 2025 yang mengusung tema “TNI Selalu di Hati Rakyat.” Acara itu diinisiasi oleh satgas TMMD dengan dukungan pemerintah desa dan warga.
Kades Topejawa, Arman yang akrab disapa Daeng Siantang, menyampaikan terima kasih atas kerja keras jajaran TNI melalui TMMD yang telah berlangsung sejak September hingga November 2025. “Selama ini, TNI benar-benar hadir di tengah masyarakat, membantu pembangunan dan menumbuhkan semangat gotong royong bagi warga kami,” ujarnya penuh apresiasi.
Program TMMD ke-126 di Desa Topejawa telah menghasilkan berbagai pembangunan penting, seperti pembuatan akses jalan penghubung antara Desa Topejawa dan Desa Lakatong, program bedah rumah bagi warga kurang mampu, serta pembuatan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Hasil pembangunan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Aku pun menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat selama program TMMD berlangsung. Diharapkan hasil kerja ini dapat dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. TMMD bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga mempererat tali persaudaraan antara TNI, pemerintah daerah, dan rakyat.
Tope Jawa kini bukan lagi desa yang sunyi di ujung pesisir. Ia telah menjadi simbol bahwa kemajuan bisa tumbuh dari bawah, dari tangan-tangan yang bersatu dalam visi yang sama. Bukan karena proyek besar, tapi karena semangat bersama yang menyalakan kehidupan.
Akhir yang Membuka Awal Baru
Sore tiba. Mentari mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang di atas air tambak. Seorang nelayan menepuk bahu anaknya yang baru pulang sekolah. “Nak, jangan malu tinggal di desa. Lihat, Tope Jawa kita sudah berubah,” katanya pelan, namun penuh makna.
Desa ini memang telah menemukan jati dirinya kembali. Dalam kebersamaan, mereka menemukan kekuatan. Dalam kemanunggalan, mereka menemukan arah. Dan dalam harapan, mereka menemukan nafas baru untuk terus melangkah ke depan.
Asa Desa Tope Jawa kini bukan lagi sekadar mimpi di atas kertas. Ia telah menjelma menjadi kenyataan hidup, berdenyut, dan terus tumbuh bersama orang-orang yang mencintainya.
Beberapa tahun lalu, Tope Jawa nyaris tenggelam dalam keterbatasan. Jalan rusak, listrik tak stabil, dan air bersih sulit diperoleh. Warga hidup dari laut dan tambak dengan penghasilan yang tak menentu.
Kondisi itu mulai berubah ketika tersentuh program TMMD. Perlahan, warga mulai membangun kembali keyakinan bahwa kemajuan bisa tumbuh dari desa sendiri.

Bupati Takalar Ir. H. Mohammad Firdaus Daeng Manye, M.M menyampaikan menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya dengan adanya pelaksanaan TMMD di Kabupaten Takalar tahun 2025.
“Kegiatan TMMD di Takalar diharapkan memiliki manfaat yang seluas luasnya dalam rangka percepatan pembangunan di wilayah pedesaan, khususnya dalam pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sehingga dengan program ini akan semakin memperkuat jaringan sosial, meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta Mengembangkan potensi ekonomi lokal”, ujarnya.
Sementara itu, Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko juga mengapresiasi kerja keras seluruh pihak yang terlibat, khususnya jajaran TNI dan Polri, maupun pemerintah daerah dan masyarakat setempat yang telah menunjukkan komitmen kuat dalam membantu mempercepat pembangunan di daerah.
Penekanan pentingnya sinergitas antara TNI, pemerintah, dan masyarakat dalam mewujudkan pemerataan pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan di wilayah pedesaan.
Harapannya agar fasilitas umum dan sarana prasarana yang telah dibangun melalui kegiatan TMMD ke 126 ini dapat dimanfaatkan dan dipelihara secara optimal oleh masyarakat setempat.
“Pesan kami untuk terus menjaga ketahanan wilayah, melalui penguatan persatuan dan semangat gotong royong sebagai modal utama dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa ke depan”, tegasnya.
TMMD ke-126 menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat mampu menghadirkan perubahan positif yang berdampak langsung pada kehidupan warga Desa Tope Jawa.

Terpisah, Tim Pengawas dan Evaluasi (Wasev) TMMD ke-126 Brigjen TNI Yudi Pranoto, SH., MM didampingi Kolonel Inf Ruli Eko Setiawan, S.I.P., M.Han (Kasiter Korem 141/Tp) mengatakan bahwa Pengawasan dan evaluasi TMMD ke-126 tahun 2025 yang saat ini sedang berjalan bertujuan untuk mengukur kinerja organisasi satuan tugas TMMD mulai tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan sampai dengan pengakhiran dengan harapan agar kegiatan TMMD dapat berjalan secara optimal, efektif dan efisien.
"TMMD dilaksanakan melalui kegiatan sasaran fisik maupun non fisik guna meningkatkan akselerasi kegiatan pembangunan di daerah pedesaan khususnya daerah yang terpencil, tertinggal, terisolasi, daerah perbatasan/pulau-pulau terluar dan daerah kumuh perkotaan tergolong serta daerah lain yang terkena akibat bencana," ucapnya.
Menatap Masa Depan dengan Asa
Menjelang senja, matahari memantul di air tambak, menciptakan pemandangan tenang yang khas Tope Jawa. Seorang nelayan menepuk bahu anaknya sambil berbisik, “Nak, jangan malu tinggal di desa. Lihat, Tope Jawa kita sudah berubah.”
Perubahan itu nyata. Dari gotong royong lahir kekuatan, dari persatuan lahir harapan.
Kini, Desa Tope Jawa bukan lagi sekadar titik di peta pesisir Takalar. Ia telah menjadi simbol kehidupan baru, sebuah bukti bahwa kemajuan bisa dimulai dari kemanunggalan dan cinta pada tanah kelahiran. (*)








