BRM Kusumo Putro (kiri). Foto : Istimewa
Klikwarta.com, Solo - Ketua Yayasan Forum Budaya Mataram (FBM), BRM Kusumo Putro mengungkapkan kekhawatiran serta keprihatinannya terhadap kondisi kelangsungan perkembangan seni dan budaya di Kota Solo.
Diungkapkan Kusumo, Kota Solo memiliki dua bangunan megah yang hingga saat ini masih berdiri kokoh yaitu Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Keduanya menjadi bukti nyata kemegahan fisik dari peradaban budaya di masa lampau
Namun ironisnya, menurut Kusumo, sebagai kota budaya Solo yang juga penyandang predikat sebagai Punjering Budaya Jawa (pusatnya budaya Jawa) yang notabene telah diakui oleh masyarakat Indonesia bahkan terkenal di mata dunia, hingga kini belum memiliki gedung kesenian megah dan mewah disertai sarana maupun prasarana yang memadai unruk menunjang pengembangan seni dan budaya itu sendiri.
"Oleh karena itu Kota Solo sudah seharusnya memiliki gedung kesenian yang megah dan mewah dengan sarana dan prasarana lengkap dan fasilitas yang modern dengan memadukan semua unsur seni, tradisi, dan budaya yang ada di Kota Solo, baik seni tradisi peninggalan leluhur atau seni dan tradisi kontemporer (modern)," terang Kusumo kepada Klikwarta.com, pada Minggu (27/09/2020).
Lebih lanjut, Kusumo menyampaikan, gedung kesenian tersebut harus pula mencakup ketersediaan ruang pameran hingga panggung pementasan yang dilengkapi dengan peralatan yang modern dan berkualitas.
"Ruang kantor maupun sekretariat, sanggar seni dan perlengkapan sarana prasarana penunjang lainnya juga harus modern dan berkualitas baik, serta ruang yang luas untuk berkegiatan kesenian masyarakat secara gratis," imbuhnya.
Kusumo juga berharap, jika pembangunan gedung kesenian yang megah dan mewah dengan segala sarana dan prasarana tersebut dapat terealisasi, harus pula diimbangi dengan prosedur yang mudah dan murah juga tidak perlu dipersulit, selagi gedung tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan budaya dan berkesenian.
"Bila gedung kesenian tersebut tidak segera direalisasikan atau tidak segera dibangun maka sudah bisa dipastikan masyarakat Solo pelan namun pasti akan meninggalkan budaya dan keseniannya sendiri. Apabila hal tersebut benar-benar terjadi maka akan berimbas pada kerapuhan ruh budaya warga Kota Solo, hal inilah yang paling menakutkan menurut saya," tandasnya.
Lebih dari itu, Kusumo menambahkan, jika pembangunan gedung kesenian itu tidak segera direalisasikan maka dikhawatirkan pula warga Kota Solo akan melupakan budaya dan kearifan lokal yang sudah semestinya dirawat dan dilestarikan sebagai warisan leluhur.
"Ini merupakan bencana budaya dan kearifan lokal bagi Kota Solo pada khususnya dan juga bagi negeri Indonesia pada umumnya. Bangunan gedung kesenian yg megah tersebut seharusnya dibangun di tengah Kota Solo dengan bangunan yang megah dan mewah dengan nuansa Jawa dan tempat yang luas. Dimana nantinya akan menjadi sebuah ikon baru bagi Kota Solo dan sebagai daya tarik wisata," pungkas tokoh pemuda yang juga Ketua Dewan Lembaga Pemerhati Dan Pemyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI) itu.
(Pewarta : Kacuk Legowo)








