Menteri Ekraf, Selasa, 21 Oktober 2025 di Autograph Tower, Jakarta.
Klikwarta.com, Jakarta, 21 Oktober 2025 – Penyusunan Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045 memasuki fase penting dengan melibatkan langsung para kreator IP. Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menyatakan 80% program kedepannya akan fokus pada 'scale up' pelaku yang sudah berdaya, mengatasi tantangan literasi bisnis yang selama ini menghambat potensi ekonomi kreatif Indonesia.
Hal itu disampaikan Menteri Ekraf saat menerima audiensi dengan sejumlah kreator IP yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.
“Rindekraf ini akan berakhir di 2025 dan perlu kajian menyeluruh yang melibatkan pelaku industri sebagai penggerak di grassroot untuk semakin memperkuat ekosistem industri kreatif,” ujar Menteri Ekraf, Selasa, 21 Oktober 2025 di Autograph Tower, Jakarta.
Rindekraf disusun sebagai arah kebijakan nasional untuk mengembangkan ekosistem kreatif yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing global. Menteri Ekraf menegaskan pentingnya pelibatan kreator IP dan pelaku industri dalam penguatan sinergi hexahelix dengan unsur bisnis.
Kementerian Ekraf menyambut positif inisiasi para kreator IP yang menyebut kontribusi pelaku ekraf tanah air memiliki daya kreasi yang kuat, tetapi menghadapi tantangan dalam hal literasi bisnis dan finansial.
“80 persen dari program kita menyasar para pegiat ekraf yang sudah berdaya untuk menjaga mereka jangan sampai turun kelas menjadi rintisan lagi, melainkan kita scale up dengan pendekatan bisnis supaya bisa masuk dalam kategori mandiri dan bisa kita dorong ke tingkat global,” ujar Menteri Ekraf.
“Kami percaya, keberhasilan ekonomi kreatif tidak lepas dari sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, media dan komunitas serta asosiasi kreatif. Kolaborasi ini menjadi kunci agar produk Indonesia mampu bersaing di kancah global,” tegas Menteri Ekraf.
8 kluster program Kementerian Ekraf atau Asta Ekraf menjadi acuan memperkuat inovasi, memperluas jejaring global, dan memastikan ekonomi kreatif Indonesia menjadi “the new engine of growth” atau mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah.
Gupta Sitorus selaku Founder Jakarta Dessert Week, yang tergabung dalam KADIN, menyampaikan bahwa para pelaku dapat berkolaborasi dan memberikan dukungan serta masukan kepada pemerintah.
“Kami merasa bertanggung jawab untuk bisa mendukung seluruh program pemerintah dan memberikan proksimitas atau kedekatan antara aspirasi yang ada di pelaku sektor dengan kementerian selaku penyusun kebijakan,” ujar Gupta.
Dengan 26,5 juta tenaga kerja, sekitar 9 persen kontribusi ekspor nasional dan total investasi ekraf sebesar Rp90,12 triliun, sektor ekonomi kreatif dapat terus didorong menjadi soft power diplomacy dengan memaksimalkan literasi bisnis dan finansial bagi para pegiat ekraf.
Ben Soebiakto selaku Founder Ideafest yang tergabung dalam KADIN menawarkan 3 poin kolaborasi, yaitu saran strategis, pengembangan dan pelaksanaan program, serta penguatan dan kemitraan ekosistem.
“Bicara soal IP, misalnya film animasi atau komik, ini bisa direplikasi menjadi consumer product yang masif seperti baju, mainan, merchandise bernilai ekonomi besar yang didasari dari ide kreatif ini bisa kita kolaborasikan di sini,” ujarnya.
Hadir dalam audiensi tersebut, Founder Indonesia Contemporary Art & Design (ICAD) Diana Nazir, Founder Geometry Media dan Direktur Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) Primo Rizky. Turut hadir mendampingi Menteri Ekraf, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu, Direktur Arsitektur dan Desain Sabar Norma Megawati Panjaitan. (*)








