Presiden Prancis Emmanuel Macron
Oleh : Raihan Anwar Surya Pratama
Klikwarta.com - Saat ini dunia tengah di hebohkan dengan pernyataan dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang dinilai oleh banyak negara menghina manusia yang dinggap suci oleh umat Islam, yaitu “Nabi Muhammad SAW” yang membuat negara-negara muslim besar dunia mengutuk pernyataan dari Presiden Prancis tersebut. Hal tersebut membuat dinilai memberikan kecaman yang keras dari sejumlah pihak termasuk dari negara Indonesia. Pernyataan Emmanuel Macron berawal dari soal yang dinilai menghina umat muslim seluruh dunia dengan menerbitkan tentang karikatur “Nabi Muhammad SAW”. Awal polemic tersebut muncul pada awal bulan Oktober.
Pada saat itu, Presiden Prancis mengelurkan kecaman penyampaian tentang adanya kelompok radikal muslim yang menurut Emmanuel ingin mengubah sebuah nilai-nilai liberalism dan sekulerisme di Prancis. Hal itu membuat semua pemimpin negara di seluruh dunia mengutuk dan mengecam pernyataan dari penyampaian Presiden Emmanuel Macron tersebut membuat terluka hati umat islam yang dianggap sebagai radikal.
Menurut sudut pandang Emmanuel Macron tentang muslim, menurut dia dalam ujarnya “Ada kelompok radikal islam, sebuah organisasi yang mempunyai metode untuk menentang hukum republic dan menciptakan masyarakat secara pararel untuk membangun nilai-nilai yang lain” dalam menurut ujaran Macron Emmanuel.
Kasus seorang guru di Prancis yang meminta muridnya untuk membuat gambar karikatur Nabi Muhammad SAW dan membahas tentang kartun Nabi Muhammad S.A.W dan berujung pada kasus pembunuhan di sekolahnya.
Pada tanggal 16 Oktober 2020 ada sebuah sekolah di kota “Nice” Prancis. Seorang guru sejarah yang bernama Samuel Paty yang berumur 47 tahun di bunuh oleh seorang muridnya yang bernama Abdoullah Abouyezidovitch yang berumur masih muda yaitu 18 tahun. Dia adalah seorang anak muda yang berasal dari pendatang dari luar negara Prancis yaitu berasal dari Chechnya.
Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh muridnya, yaitu karena dia merasa tidak terima yang memicu kasus pemenggalan kepala gurunya yang berawal disaat kasus tersebut berawal dari seorang gurunya yang bernama “Samuel Paty”, membahas tentang kartun Nabi Muhammad SAW di dalam sebuah kelas kemudian menuai protes dan kontroversi. Namun, sebelumnya sang guru sudah melakukan vote atau membuat kesepakatan, bagi sejumlah pelajar yang Beragama muslim untuk keluar kelas jika nanti ada yang tidak sepakat disaat film tentang Nabi Muhammad diputar dan menurut dalam ujaran gurunya pemutaran film tentang Nabi Muhammad adalah suatu bentuk materi pembahasan sekolah yang akan diajarkan kepada murid-muridnya dan suatu pembahasan materi yang akan ingin disampaikan dikelas.
Namun, disaat topik pembelajaran itu mulai di sampaikan kepada pelajar muslim, sejumlah pelajar muslim menyampaikan dan mencertikana topik yang tadi dibahas oleh gurunya kepada masing-masing orang tuanya. Hal itu menuai banyak protes dan lantas mulai ramai di beritakan ke media social. Gurunya yang melihat unggahannya tersebut dari social media yang diunggah oleh orang tua muridnya, lantas dia mendatangi kantor polisi dan membuat laporan yang menurut dia itu adalah dugaan pencemaran nama baik.
Perencanaan proses pembunuhan yang akan dilakukan oleh muridnya yang bernama “Abouyezidovitch” yang kemudian meminta bantuan kepada teman-teman SMU nya dengan imbalan Uang jika berhasil.
Pada hari itu seorang muridnya yang bernama “Abouyezidovitch” yang berasal seorang pendatang yang berasal dari luar Prancis, disaat itu Abou membuka social media nya dan disebut dia melihat unggahan yang dikirimkan dari para orang tua murid muslim, disaat itu juga Abouyezidovitch mulai merencanakan pembunuhan kepada Samuel Paty. Lantas akhirnya dia mencoba mencari info tentang gurunya lalu dia mendekati teman-teman sebayanya di SMU “du Bois d’Aulne” tempat dia belajar, tidak hanya mendekati teman-temanya.
Kemudian, Abou juga memberikan sejumlah imbalan uang yang akan diberikan kepada temannya, apabila teman-temannya berhasil membunuh memenggal kepala gurunya Samuel Paty. Abou akhirnya mencoba memberikan info kepada teman-temanya agar dia bisa mengenali incara targetnya. Setelah dia sudah memberikan ciri-ciri targetnya agar sesuai dengan incarannya dengan mengenali biodata Paty kepada teman-temannya.
Pada waktu pulang jam sekolah Abou mulai menyusun strategi yang ia buat bersama temannya disaat jam pulang sekolah tiba yang dibarengi dengan jam pulang kerja, para pemuda tersebut akhirnya mulai melakukan penyerangan disaat Paty baru saja pulang kerja dari tempat sekolah ia mengajar, kemudian kasus penyerangan tersebut langsung tercium cepat oleh kepolisian Prancis dan disaat itu juga kepolisian Prancis bergerak cepat dan kemudian teman-teman “Abou” suruhan dia di tembak mati oleh polisi setempat, hal itu menurut ujaran polisi prancis mereka semua ditembak mati oleh aparat lantaran mereka mengancam dengan membawa senjata yang padahal senjata tersebut bukanlah asli, tetapi hanya sebuah mainan tetapi polisi tersebut mengira senjata api nyata. Menurut polisi selama ini gerak-gerik pelaku tidak terendus oleh intelijen antiteroris Prancis.
Awal mula Presiden Prancis “Emmanuel Macron” membuat pernyataan menurutnya bahwa “Muslim” adalah agama yang radikal dan islam adalah agama yang mengalami krisis di seluruh dunia, dan Erdogan sebut Macron sakit jiwa Prancis Tarik dubesnya dari Turki.
Pada saat setelah kejadian tersebut terjadi bahwa berita tentang pembunuhan seorang guru sejarah “Samuel Paty” yang dilakukan oleh muridnya, berita tersebut langsung tersampaikan ke telinga Presiden Prancis “Emmanuel Macron”, dia langsung mendatangi lokasi kejadian tersebut dengan pengawalan ketat, dia menyatakan dalam ujarannya, dia memberikan pernyataannya bahwa dia menyatakan pelaku adalah seorang radikal yang berasal dari agama muslim.
Menurut pendapat Macro dia menyatakan bahwa Paty adalah sebagai martir karena dia merasa tidak salah, dia mengajarkan apa yang muridnya agar tahu dan mengajarkan tentang kebebasan berpendapat”, berikut pernyataan dari ujaran Presiden Prancis. Kemudian tidak lama berselang setelah Macron mendatangi kejadian tempat pembunuhan seorang guru sejarah, Macron mengeluarkan kritikan lagi yang lebih dahsyat dari sebelumnya, yang membuat mulai umat muslim seluruh dunia mengutuk dan mengecam kata-kata Presiden Prancis tersebut, dia menyampaikan pernyataannya pada hari Jumat (23/10), dia menyampaikan ujarannya yang mengatakan “Islam adalah agama yang mengalami krisis di seluruh dunia”.
Dia juga memerintahkan kepada aparat keamanan setempat mengawasi sejumlah organisasi masyarakat muslim, dan menutup sejumlah masjid yang diduga menyebarkan paham radikal.
Hal itu memancing reaksi kemarahan negara di timur tengah termasuk Indonesia yang merupakan muslim terbesar di dunia. Menurut “Macron” dia berencana akan membuat dan mengajukan sebuah aturan undang-undang baru yang berisi tentang rancangan undang-undang yang menurut dia yang akan mewajibkan seluruh sekolah, baik tingkat negeri, maupun swasta akan menerapkan sebuah konsep sekuler. Menurut Macron jika suatu saat pemerintah gagal dalam hal membina muda mudi muslim dalam kerangka masyarakat sekuler, maka sekelompok radikal tersebut akan mengambil alih peran itu.
Pernyataan Macron langsung ditanggapi oleh Presiden Turki yaitu “Recep Tayyip Erdogan”, menurut Presiden Turki dalam keterangannya “Macron harus di cek kesehatan jiwanya dan memeriksakannya akibat melontarkan kritikan pernyataan tersebut yang membuat warga muslim dunia mengecam dan akan memboikot barang-barang buatan Prancis.
Menurut pernyataan Presiden Turki “Erdogan” dalam keterangan pers di Turki “Apa masalah individu yang dipanggil Macron dengan islam dan dengan para muslim? “Macron butuh pengobatan mental.” Pemanggilan ini disebut sebagai respons ucapan Presiden Turki Tayyip Erdogan yang mengatakan Macron membutuhkan Bantuan mental atas sikapnya terhadap muslim. Apalagi Priseden Turki tersebut menambahkan kritikan pedasnya untuk Presiden Prancis yang mengatakan “Apa lagi yang bisa dikatakan kepada seorang kepala negara yang tidak memahami kebebasan berkeyakinan dan yang berperilaku seperti ini kepada jutaan orang yang tinggal di negaranya yang merupakan anggota dari agama yang berbeda?” Erdogan menambhakan. Presiden Turki pada 6 Oktober lalu bahwa komentar Macron tentang ancaman islam adalah “Provokasi yang jelas” dan menunjukkan “ketidaksopanan”.








