Mbah Nasrip Tokoh Masyarakat Dukuh Manglih
Klikwarta.com, Slawi - Kehidupan sehari hari masyarakat Dukuh Manglih hanya mengandalkan bercocok tanam, area yang luas, hutan yang rimbun menjadikan mereka tetap bertahan dengan lingkungan kesederhanaan adat dan budaya.
Namun kini usai hutan dikikis habis para konglomerat, kehidupan warga sekitar yang hanya berjumlah sekitar 35 kepala keluarga menjadi suram, sawah serta kebun menjadi gersang, rimbunan hutan tak lagi asri.
Dukuh Manglih wilayah sudut Desa Prupuk Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal bagian selatan, sejatinya banyak memiliki potensi alam, di bawah Bukit Linggapada dikelilingi berbagai aroma sakral saat jaman kerajaan.
Sumur Banyu Panas, sumber air terletak diatas bukit yang hingga kini mengalir, Pohon Kelapa Cabang Empat sebagai gerbang Dukuh Manglih, serta pitalasan peninggalan jaman wali konon sering terdengar suara azan dan masih banyak cerita mistis lain.
Miris, keberadaan penggalian bukit untuk konsumsi pembangunan mulai mengikis kondisi tatanan Dukuh Manglih, tangis bathin warga lirih tergerus suara bising mesin pengebor hingga truk pengangkut batu yang tak henti hingga malam hari.
Teriakan protes terus bergumam bersama harapan datangnya pihak pemerintah daerah untuk mencari solusi menahan keterpurukan warga masyarakat terutama anak anak yang harus bernapas dalam lingkaran debu para pekerja pengangkut batu.
Mbah Nasrip diusianya yang mencapai 100 tahun Tokoh masyarakat Dukuh Manglih saat berbincang dengan tim Klikwarta.com hanya mampu meneteskan air mata tanpa mampu banyak berbicara, terkadang menatap dan tertunduk seakan memberikan tanda arti Manglih.
"Sue sue manglih yen ego karo nafsu menguasai Kesabaran kari ora peduli ngejogo alam lan duniane niki puser bumi" (jika diterjemahkan Kelak akan manglih (berubah) jika ego dan ambisi terus menguasai kesabaran dan tak lagi menghargai alam sebab alam pusat bumi)

Sejatinya masyarakat bersama pemerintah daerah Kabupaten Tegal menjaga keutuhan alam dari keinginan sebagian orang mencapai harapan tanpa mengindahkan kehidupan masyarakat berkehidupan. (Cahyo/tim)








