Program khitan gratis Kemensos
Klikwarta.com, Cikarang - Kementerian Sosial melalui Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi menggelar acara khitanan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Rumah Sakit Bhakti Husada Cikarang, Kabupaten Bekasi pada Rabu (25/2/2026). Sebanyak 10 anak Penerima Manfaat (PM) mengikuti kegiatan ini.
Sejak pagi, anak-anak tampak tertib menunggu giliran khitan. Rasa tegang bercampur gembira menyelimuti suasana. Setelah dikhitan setiap anak mendapatkan bingkisan berupa makanan ringan, sejadah, sarung, peci, tas serut, obat-obatan, hingga mainan.
Program khitanan gratis merupakan bagian dari komitmen Kementerian Sosial dalam memperluas akses layanan kesehatan dasar sekaligus meringankan beban ekonomi keluarga kurang mampu. Melalui kegiatan ini, negara hadir memastikan setiap anak tetap mendapatkan haknya atas layanan kesehatan yang aman, layak, tanpa terkendala biaya.
Di balik kegiatan tersebut, terselip kisah haru dari salah satu orang tua penerima manfaat, Jihad (25) yang mendampingi putra keduanya, berinisial A (5).
Jihad menceritakan, semasa almarhum suaminya masih hidup, ia kerap mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Mulai dari bentakan, tindakan fisik, hingga perlakuan yang melukai dirinya dan anak-anaknya. Setelah sang suami meninggal, ia pun harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.
Tak hanya itu, anak pertamanya berinisial J, sejak saat usia lima tahun juga mengalami perundungan di lingkungan belajar. Ia pernah diikat oleh teman-temannya hingga mengalami luka di kepala. Trauma yang dialaminya membuat J hampir berhenti sekolah karena ketakutan.
Perundungan terhadap kedua anak Jihad tidak hanya datang dari teman sebaya, tetapi juga dari lingkungan sekitar. Mereka kerap diejek lantaran tidak memiliki ayah.
Kondisi itu, meninggalkan luka batin yang cukup dalam dan memengaruhi kondisi psikis J dan A. Akibatnya, kedua anak tersebut kini lebih memilih berdiam diri di rumah dan enggan bermain dengan teman sebaya.
“Kalau saya dimaki-maki, ya sudah saya cuma bisa sabar. Memang saya orang tidak punya, orang susah, mau bagaimana lagi,” tutur Jihad dengan tegar.
Jihad pun tetap terus berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, meski berada dalam keterbatasan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia harus berjuang dengan cara berjualan gorengan keliling.
Ketika mendapat informasi mengenai khitanan gratis ini, jihad segera mendaftarkan A. Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya program tersebut.
“Saya senang sekali, soalnya saya orang susah, makasih banyak, saya sangat bersyukur," ujarnya.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi layanan kesehatan, tetapi juga momentum refleksi bersama bahwa masih banyak keluarga yang berjuang dalam sunyi. Anak-anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan nyaman.
(Kontributor: Arif)








