Keroncongisasi Sruti Respati Pungkasi SIPA 2020

Minggu, 13/09/2020 - 18:10
Pementasan "Keroncongisasi Sruti Respati" dalam SIPA 2020.

Pementasan "Keroncongisasi Sruti Respati" dalam SIPA 2020.

Klikwarta.com, Solo - Melibatkan puluhan delegasi seniman dari dalam negeri hingga mancanegara, Solo International Performing Arts (SIPA) 2020 berhasil menyuguhkan kemeriahan acara seni pertunjukan berkualitas yang berlangsung selama tiga hari, pada Kamis hingga Sabtu (10-12/09/2020).

Setelah mampu menyedot perhatian lebih dari 44.000 penonton pada hari pelaksanaan sebelumnya, virtual festival SIPA 2020 hari ketiga kembali digelar mulai pukul 17.00 – 22.00 WIB secara live streaming di Youtube Channel : SIPA FESTIVAL.

Beragam karya seni pertunjukan dari 20 delegasi seniman Tanah Air dan sejumlah negara di pagelaran SIPA 2020 hari ketiga ini, menjadi rangkaian acara penutup pagelaran seni pertunjukan bertaraf internasional tersebut, pada Sabtu (12/09/2020).

Diawali oleh karya “Feeling The Present” oleh Cristina Duque, tampilan virtual festival hari pada kesempatan ini merepresentasikan kolaborasi Indonesia dengan mancanegara, salah satunya
yakni Ecuador. 

Tak kalah memukau, sejumlah penampil dalam negeri dari berbagai daerah juga turut membawa karya asli Indonesia untuk diperkenalkan melalui SIPA 2020. Para seniman tersebut di antaranya WaJiwa dari Bandung, Sanggar Pesona Rumpun Pesisir Bencoolen dari Bengkulu dan Tri Anggoro dari Yogyakarta. Ada pula delegasi dari Karanganyar, Enno 
Dance lewat karya berjudul “WOMB” yang diusung secara langsung di studio.

Beberapa delegasi luar negeri juga ikut serta memeriahkan hari terakhir pelaksanaan SIPA tahun ini. Negara-negara seperti Malaysia, Cina, Taiwan, Korea, hingga Ecuador turut 
menyuguhkan sajian khasnya secara virtual. 

Maskot SIPA 2010 sekaligus seniman keroncong asli Kota Solo, Sruti Respati kembali menjejaki panggung SIPA sebagai penampil pungkasan. Sruti tampil lewat sebuah karya "Kroncongisasi", secara live di studio. 

“Tahun 2020 ini saya kembali ke rumah saya, yaitu SIPA. Seperti halnya orang 
yang bekerja merantau, ketika kembali ke rumah tentu ada perasaan suka cita, perasaan bahagia,” ungkapnya. 

Sruti juga berharap, SIPA di masa depan dapat menjadi rumah dan ruang bagi seniman-seniman lain untuk menyalurkan ide kreatifnya dan menjadi alternatif suguhan dunia.

Dengan ditutupnya SIPA 2020, maka berakhir pula rangkaian acara dalam memeriahkan virtual festival ini, seperti lelang barang seni, pojok donasi, serta SIPA Mart 2020. 

Melalui tema “Recognition and Acceleration”, SIPA 2020 memberikan apresiasi kepada para seniman yang terus berupaya melestarikan seni di tengah percepatan dan kemajuan zaman.

Daftar Delegasi SIPA 2020 pada Sabtu, 12 September 2020 :

1. Cristina Duque (Kolaborasi Ecuador-Indonesia) menampilkan “Feeling The Present”, yakni sebuah tarian tentang kehidupan dan bagaimana mendapatkan cara lain untuk semangat dan merasa tenang.

2. Ensambel Stone (Sragen)
menggambarkan “Sidhem Manekung” sebagai suatu aktivitas doa dalam keheningan atas rasa syukur dan harapan manusia terhadap Tuhan.

3. WaJiwa (Bandung) melalui karya “Ibu Anak Cigantiri”, menceritakan kampung yang hilang dan berubah menjadi kota.

4. Ferry Alberto Lesar (Jakarta) menampilkan karya berjudul “Tempat yang Tenang”, terinspirasi dari Matius 7:1-2.

5. Anak Seni Asia X Supersede Entertainment (Malaysia)
menyajikan “Angin”, suatu karya musik dengan perpaduan suara biola dan selo yang berasal dari angin, memberikan energi padanya dan ruang melalui media virtual.

6. Woro Mustiko Siwi (Semarang), seniman yang menggeluti seni vokal hingga pedalangan.

7. Tri Anggoro (Yogyakarta)
menampilkan karya tari berjudul “Japa”.

8. Satwika (Surakarta)
melalui “Bumiku Telah Tersenyum”, menyampaikan perasaan pilu dan keluh kesah atas lumpuhnya peradaban manusia dengan adanya pandemi.

9. Burki&Com (Czech Republic)
menampilkan karya berjudul “Pink Samurai, The Story of Ferocious Wind” dan “The Wild: The Vanity of Plumage”.

10. Gao Ping (Republic of China) menggubah “Ode to Lotus Blossoms” untuk suara wanita, xiao (seruling bambu vertikal Cina), dan qin (sitar meja Cina).

11. Irfan Setiawan/Ali Dance Company (Bangka Belitung) menampilkan karya berjudul “In Spirit, in Reality” yang terinspirasi dari sastra tutur 
kuno Melayu Bangka “Bedaek” yang memiliki banyak makna, wasiat, dan kritik.

12. Park Na Hoon Company (Republic of Korea) menyajikan “Scissor-tail Sergeant” untuk menyampaikan pesan sosial dari sebuah tari yang berdoa untuk hidup perdampingan, dari generasi muda hingga tua.

13. Sanggar Pesona Rumpun Pesisir Bencoolen (Bengkulu) menampilkan sebuah karya berjudul “Tabik Beredok”.

14. Retno Sulistyorini/Enno Dance (Karanganyar) menampilkan karya “WOMB”, suatu penghormatan kepada semua ibu terkhusus ibu 
pertiwi.

15. Lee-Yun Dance Group (Taiwan) mempersembahkan karya “The Twelve Grannies’ Blessings”, diadopsi dari cerita 
Parade Dua Belas Nenek oleh seni tradisi Tainan, Taiwan.

16. Jamaluddin Latif (Yogyakarta) dengan karya “Babad Dermayu” yang menceritakan asal-usul berdirinya daerah Indramayu.

17. MOU Dance Company (Bandung) mengeksplorasi estetika feminitas dan maskulinitas secara bersamaan melalui karya “W”.

18. Sanggar Binsaloart Desa Sawah (Kuansing, Teluk Kuantan) menampilkan karya teater berjudul “Surak Rang Kuantan”, terinspirasi dari kisah di Tepian Narosa sebagai tempat wisata budaya Pacu Jalur kebanggaan Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

19. Edgar Freire & Adriana Herrera (Ecuador) “Ishkay”, karya tari tentang konsep dualitas di dalam Andean Cosmovision, sebagai tanggapan dari pertanyaan identitas di waktu sulit ini.

20. Sruti Respati (Solo),
seniman keroncong asli Solo dengan "Keroncongisasi Sruti Respati".

Pewarta : Kacuk Legowo

Berita Terkait