Kemenkominfo Adakan Webinar Literasi Digital di SD dan SMP Kabupaten Ogan Ilir

Kamis, 16/03/2023 - 14:31
Webinar Literasi Digital di SD dan SMP Kabupaten Ogan Ilir

Webinar Literasi Digital di SD dan SMP Kabupaten Ogan Ilir

Klikwarta.com, Sumatera Selatan - Rangkaian Webinar Literasi Digital di Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan mulai bergulir. Pada hari Kamis, tanggal 09 Maret pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB, telah dilangsungkan webinar bertajuk tema “Mengenal Literasi Digital Sejak Dini”. Kegiatan ini merupakan kerjasama Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI dengan seluruh SD dan SMP se-Kabupaten Ogan Ilir dengan melibatkan para siswa sebagai audiensnya.

Kegiatan massif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan  kognitifnya untuk  mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

Ogan Ilir

Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah terkait literasi digital. "Hasil survei literasi digital yang kita lakukan bersama siberkreasi dan katadata pada 2020 menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital kita masih di bawah tingkatan baik," katanya lewat diskusi virtual. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI ini menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.

Pada webinar yang menyasar target segmen pelajar SD dan SMP ini, sukses dihadiri oleh sekitar 600 peserta daring, dan juga dihadiri beberapa narasumber yang berkompeten dalam bidangnya. Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan dari Dirjen Aplikasi Informatika Semuel A. Pangerapan dan narasumber yakni Arief Rama Syarif (Founder Yayasan Komunitas Open Source), Drh. Prayoga Putra Utama (Kepala Seksi Kurikulum) yang menggantikan Sayadi, S. Sos (Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Ilir) karena berhalangan hadir, kemudian Dr. Endy Agustian, S.T., M.Eng (Lecturer/Influencer/Duta Pendidikan Indonesia) bertindak sebagai Key Opinion Leader (KOL) dan Siti Kusherkatun, S.Pd.I (Asih) sebagai juru bahasa isyarat. Para narasumber tersebut memperbincangkan tentang 4 pilar literasi digital, yakni Digital Culture, Digital Ethic, Digital Safety dan Digital Skill.

V

Pada sesi pertama, narasumber Arief Rama Syarif membahas mengenai pentingnya menjaga privasi dan keamanan data pribadi dalam penggunaan teknologi digital. Arief mengatakan atribut data pribadi digital yang tidak boleh dibagikan adalah tanggal lahir, riwayat kesehatan, NIK, rekening bank yang dimiliki, dan jumlah anggota keluarga. Penyebab terjadinya kebocoran data pribadi digital adalah kesalahan manusia kurangnya kesadaran diri terhadap penyebaran data sensitif, kemudian malware yaitu program yang dirancang untuk merusak dengan menyusup ke sistem komputer ketika kita mendownload apapun sembarangan. Serta social engineering merupakan penggunaan manipulasi psikologis untuk mengumpulkan data digital pribadi melalui media elektronik dengan menyamar sebagai pihak yang dapat dipercaya. Cara mencegah kebocoran data pribadi digital yaitu waspada jika menerima email dari sumber tidak diketahui dan tidak buka lampiran email atau tautan di dalamnya, gunakan 2FA (Two Factor Authentication), hindari aplikasi ilegal/belum berizin dari Pemerintah agar tidak terjadi penyalahgunaan data, tidak sembarangan menggunggah data-data pribadi, begitupun aktivitas kita tidak boleh dibagikan di media sosial.

“Banyak bapak/ibu menerima SMS atau whatsapp penipuan, itu bukan karena dicuri datanya, tapi kita sendiri yang membagikannya, harusnya data kita aman, tapi kita bagikan ke orang lain melalui sosial media. Aktivitas juga sangat aneh dibagikan, contoh kita jalan-jalan keluar negeri kita bagikan di sosial media kita, kemudian riwayat pembelian, kita beli apa sepatu foto kemudian diupload, padahal itu rahasia lho, menurut data pribadi digital ini rahasia, tetapi kita bagikan, sehingga kejahatan bukan terjadi bukan karena adanya niat pelaku, tapi adanya kesempatan, kesempatan yang kita bagikan sendiri untuk orang lain,” ujar Arief.

Giliran narasumber kedua, Drh. Prayoga Putra Utama memberikan pemaparan bahwa literasi digital di sekolah mampu membuat siswa, guru, tenaga kependidikan dan kepala sekolah, memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami, serta menggunakan media digital, alat komunikasi dan jaringannya. Selain itu, melalui literasi digital setidaknya dunia pendidikan memiliki pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan dan memanfaatkannya secara sehat, cerdas, bijak, dan patuh hukum.

Langkah yang harus implementasikan oleh setiap pemangku kebijakan sekolah adalah melakukan pengontrolan yang ketat terhadap siswa sehingga mereka dapat memanfaatkan perangkat digital dengan bijak, kreatif, dan bertanggung jawab. Pengontrolan tidak dapat dilakukan oleh sekolah semata, tetapi harus mendapat dukungan dari setiap orang tua siswa dan masyarakat,” jelas Prayoga.

Selanjutnya, giliran Dr. Endy Agustian, S.T., M.Eng selaku Key Opinion Leader (KOL) yang memberikan pengalamannya selama bermain sosial media, menurut beliau semua orang harus beradaptasi dengan media digital, harus membuat konten dan berbagi serta menerima agar menjadi orang yang cakap digital. Wajib memiliki etika ketika berselancar di media sosial. Menjunjung tinggi nilai pancasila dan bhineka tunggal ika. Perbedaan akan selalu ditemui di sosial media, harus bisa menoleransi perbedaan tersebut. Beliau menambahkan bahwa followers di sosial media membangun kepercayaan dirinya.

“Akhirnya ada satu followers saya waktu itu, ternyata dia sangat menunggu-menunggu konten yang saya buat dalam bentuk q&a setiap weekend, nah karena mendapatkan respon yang positif saya sadar bahwa bukan seberapa banyak konten kita diberikan engagement dari follower kita, tetapi saya merubah mindset saya bahwa seberapa pengaruhnya dari konten yang kita buat itu kepada followers kita, cukup satu yang terpengaruh dari apa yang kita lakukan, daripada banyak kuantitasnya tapi dia tidak terpengaruh, itu pengalaman yang membuat saya untuk konsisten menyebarkan konten-konten di sosial media karena keberdampakan yang diberikan, kita tidak bisa memaksakan orang harus suka dengan apa yang kita buat, tapi pesan saya dari pengalaman tersebut, lakukanlah hal yang positif, lakukanlah hal yang bisa memberikan informasi yang informatif,” kata Endy.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Kemudian moderator memilih tiga penanya yang berhak mendapatkan e-money.

Pertanyaan pertama dari Een Kurnia yang mengajukan pertanyaan yaitu saya pernah menjadi korban pencurian data, media sosial saya diclone oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Menggunakan nama dan foto foto saya namun dimedia sosial tersebut membuat status status yang mengumbar kebencian ke beberapa orang yang juga saya kenal. Permasalahan dengan orang yang terkait dengan media sosial itu sudah selesai namun media sosialnya masih ada walau tidak aktif lagi. Bagaimana cara agar media sosial tersebut dapat kita hilangkan, karena jejak digital yang ditinggalkan amat buruk bagi saya. Kemudian narasumber Arief Rama Syarif menanggapi bahwa apa yang kita upload itu adalah milik mereka. Kita bisa membuat pengaduan ke facebook tapi sangat lama prosesnya. Selama memakai sosial media sangat mudah untuk diakses dengan orang yang tidak bertanggung jawab.

Pertanyaan kedua dari Fenisa agata yang mengajukan pertanyaan bagaimana cara menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain terutama orang yang ada di sekitar kita, berekspresi di sini digital di luar sama masih banyak yang menjadikan dunia digital sebagai tempat untuk menyalurkan emosi entah dalam bentuk negatif maupun positif, hal yang perlu diperhatikan ialah hal negatif seperti membuat akun Instagram berisikan luapan emosional. Bagaimana kita harus bersikap serta bertindak dan hal aman dan nyaman yang mana yang harus dilakukan, kemudian narasumber Drh. Prayoga Putra Utama menanggapi untuk cerdaslah bermedia sosial, dalam bermedia sosial kita harus mempelajari dan kita amalkan dengan baik. Cukup diri kita saja yang tahu data pribadi kita. Jika kita posting di media sosial kita harus pandai mengolah data kita.

Pertanyaan ketiga dari Amelia yang mengajukan pertanyaan bagaimana cara menghindari penipuan seperti pinjaman online, Kemudian narasumber Arief Rama Syarif dan Drh. Prayoga Putra Utama menanggapi bahwa justru orang terdekat yang punya potensi untuk menggunakan data kita dalam menggunakan data diri kita. Jangan mengonfirmasi apapun yang kita dapat dari nomor asing. Hati-hati dalam data pribadi kita. Dengan adanya webinar ini terbuka wawasannya untuk cerdas dalam bermedia sosial.

Setelah berbincang-bincang dengan para narasumber selesai, moderator memberikan kesimpulan dari pemaparan materi-materi webinar sesi pagi ini dan mengumumkan tujuh pemenang lainnya yang berhasil mendapatkan voucher e-money sebesar Rp. 100.000. Moderator mengucapkan terima kasih kepada narasumber, Key Opinion Leader (KOL) dan seluruh peserta webinar. Pukul 12.00 WIB webinar literasi digital selesai, moderator menutup webinar dengan mengucapkan salam, terima kasih dan tagline Salam Literasi Indonesia Cakap Digital.

Kegiatan Literasi Digital Sektor Pendidikan di Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga tahun 2024.

Adapun Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan info literasi digital dapat diakses melalui media sosial Instagram: @literasidigitalkominfo (https://www.instagram.com/literasidigitalkominfo/),  Facebook Page: Literasi Digital Kominfo/@literasidigitalkominfo (https://www.facebook.com/literasidigitalkominfo),Youtube: @literasidigitalkominfo (https://www.youtube.com/@literasidigitalkominfo).

Kontributor : Arif

Berita Terkait