Gelar Webinar di SMP 7 Muaro Jambi, Kemenkominfo Ajarkan Pendidikan Karakter di Era Digital

Kamis, 23/03/2023 - 21:53
Webinar Literasi Digital di SMPN 7 Muaro Jambi

Webinar Literasi Digital di SMPN 7 Muaro Jambi

Klikwarta.com, Muaro Jambi Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia berkolaborasi dengan pelajar SMP 7 Muaro Jambi melaksanakan Webinar Literasi Digital Sektor Pendidikan. Kegiatan yang mengusung tema “Pendidikan Karakter Gen-Z di Era Digital” telah dilaksanakan pada Rabu (15/3) pukul 14.00-16.00 WIB, berlokasi di SMP 7, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

Kegiatan massif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

Pengguna internet di Indonesia pada awal Tahun 2022 mencapai 204,7 juta orang atau meningkat 2,1 juta dari tahun sebelumnya. Namun, penggunaan internet tersebut membawa berbagai risiko, karena itu peningkatan penggunaan teknologi internet perlu diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang baik agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan bijak dan tepat.

Survei Indeks Literasi Digital Nasional yang dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 menunjukkan skor atau tingkat literasi digital masyarakat Indonesia berada pada angka 3,49 dari 5,00.

Kemudian pada tahun 2022, hasil survei Indeks Literasi Digital Nasional mengalami kenaikan dari 3,49 poin menjadi 3,54 poin dari skala 5,00. Hasil ini dianggap menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia saat ini berada di kategori sedang dibandingkan dengan tahun lalu.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan menilai indeks literasi digital Indonesia belum mencapai kategori baik. “Angka ini perlu terus kita tingkatkan dan menjadi tugas kita bersama untuk membekali masyarakat kita dengan kemampuan literasi digital,” katanya lewat diskusi virtual. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.

Pada webinar yang menyasar target segmen pelajar SMP ini, sukses dihadiri oleh sekitar 100 peserta daring, dan juga dihadiri beberapa narasumber yang berkompeten dalam bidangnya. Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan dari Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel Abrijani Pangerapan dan narasumber yakni Dr. Astri Dwi Andriani, M.I.Kom. (Dekan FIKOM UNPI & NXG Indonesia) namun beliau berhalangan hadir dan digantikan oleh Erfan Hasmin (Kepala Unit ICT Universitas DIPA Makassar), kemudian narasumber Drs. Joni Hasri, S.Pd., M.PD. (Kepala Sekolah), serta Vean Mardhika (Influencer) sebagai Key Opinion Leader (KOL) dan Siti Kusherkatun, S.Pd.I (Asih) sebagai juru bahasa isyarat. Para narasumber tersebut memperbincangkan tentang 4 pilar literasi digital, yakni Digital Culture, Digital Ethic, Digital Safety dan Digital Skill.

Pada sesi pembuka, ada narasumber Erfan Hasmin yang menggantikan Dr. Astri Dwi Andriani, M.I.Kom. Erfan menjelaskan generasi z atau gen z disebut sebagai generasi yang lahir setelah generasi Y, yang termasuk ke dalam generasi ini adalah mereka yang lahir di tahun 1995 sampai dengan 2010, i-Generation atau generasi internet. Ciri gen z di era digital yaitu mahir teknologi, gen z memiliki kemampuan yang baik dalam menguasai teknologi. Gen z cepat beradaptasi dengan berbagai perkembangan teknologi sehingga kemapuan IPTEK-nya dapat diandalkan. Kemudian Erfan mengajak untuk menerapkan empati di dalam media digital dengan cara meningkatkan rasa ingin tahu, membantu orang lain memahami perasaannya, menempatkan diri pada posisi seseorang, dan mengikuti organisasi sosial. Dan terdapat beberapa budaya digital yang tidak sehat yaitu body shaming, self-esteem yang rendah, budaya lemah hati atau mudah baper, dan budaya tanpa privasi.

“Cara mengatasi mengatasi body shaming adalah dengan cara personal coping seperti apapun citra tubuh kita, itu adalah urusan kita, harus dijadikan kesadaran, kemudian cara agar self esteem meningkat dengan cara mengenali diri sendiri, berhenti membandingkan diri, jalin relasi yang positif, dan terima kesadaran diri, selanjutnya cara mengatasi mudah baper adalah dengan berfikir positif terhadap perkataan orang lain, menyaring perkataan orang yang dapat membuat jatuh, mencoba introspeksi diri, mencoba berdamai dengan keadaan, menuangkan isi hati lewat tulisan, dan bercerita kepada orang yang dipercaya. Yang terakhir mengatasi budaya tanpa privasi adalah dengan mengaktifkan mode private, menyeleksi pertemanan, jangan bagikan lokasi di sosial media, dan jangan bagikan data pribadi di sosial media,” ujar Erfan memberikan tips.

Giliran narasumber kedua, Drs. Joni Hasri, S.Pd., M.PD. memberikan pemaparan bahwa karakteristik umum generasi Z adalah generasi digital karena lahir pada zaman digital, kehidupan sosialnya lebih banyak dihabiskan dengan memanfaatkan dunia maya, multitasking (melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan), ingin mendapat pengakuan, memiliki ambisi yang besar, dan menyukai kampanye yang kekinian. Gen z memiliki kelebihan yaitu intelektual yang baik, terbuka terhadap segala sesuatu, mendapatkan informasi yang lebih banyak, motivasi tinggi terhadap suatu hal, dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu, tetapi gen z juga memiliki kekurangan yaitu individualitas, tidak fokus, instan, kurang menghargai proses, dan memiliki emosi yang labil.

Terdapat bentuk penyimpangan gen z di era digital yaitu penggunaan teknologi yang berlebihan, cyber bullying, konten pornografi, informasi hoax. Untuk itu, penguatan pendidikan karakter adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati atau etik, olah rasa atau estetis, olah pikir atau literasi dan olahraga atau kinestetik. Olah pikir yaitu cerdas, kritis, dan inovatif. Olah hati yaitu jujur, amanah, beriman dan bertakwa. Olah raga yaitu bersih, sehat, tangguh, berdaya tahan, dan gigih. Olah rasa yaitu toleran, saling menghargai, peduli, toleran, dan suka menolong. 5 nilai karakter prioritas penguatan pendidikan karakter yaitu nilai religius, nilai nasionalisme, nilai integritas, nilai kemandirian, dan nilai gotong royong. Tujuan pendidikan karakter adalah mengembangkan karakter bangsa agar mampu mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila. Fungsi pendidikan karakter yaitu mengembangkan potensi dasar agar berperilaku baik, memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur (memperkuat perilaku yang sudah baik), dan meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia (Penyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila),” terang Joni.

Selanjutnya, giliran Vean Mardhika selaku Key Opinion Leader (KOL) yang menyampaikan pendapatnya bahwa dalam dunia digital terutama gen z yaitu harus mengontrol emosi dan tatakrama dalam bermedia sosial agar tetap menjadi pengguna yang baik. Kemudian terdapat hal positif dalam dunia digital yakni dapat berinteraksi dengan orang secara langsung dan mencari informasi yang luas, seiring dengan hal positif, terdapat hal negatif yaitu jika sering menggunakan media sosial maka akan mengacuhkan dunia asli.

“Harus balance dalam bermedia sosial, jangan membuat media digital menjadi hal yang negatif,” kata Vean.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Kemudian moderator memilih tiga penanya untuk bertanya secara langsung dan berhak mendapatkan e-money.

Pertanyaan pertama dari Amin yaitu dengan kemudahan teknologi semakin mudah juga masuknya berbagai dampak budaya digital. Bagaimana kita membentengi budaya luhur sesuai nilai pancasila agar tidak tergerus perkembangan teknologi yang berkembang pesat dan bagaimana menghadapi tantangan SDM yang belum mau dan mampu berdigital sehingga akan ketinggalan berbagai inovasi digital? Kemudian narsumber Erfan Hasmin menanggapi bahwa kita tidak boleh bermuka dua atau kepribadian kita berbeda dari dunia asli dengan dunia digital, sifat kita yang baik didunia asli  itu juga harus dibawa ke dunia digital, dan kita harus terus mempertahankan budaya Indonesia dengan cara mengenalkan budaya kita ke media digital dan mengurangi menggunakan budaya dari luar.

Pertanyaan kedua dari Putri Utami mengajukan pertanyaan di Era Digital saat ini kesadaran tentang moral dan etika dalam masyarakat makin menurun khususnya bagi anak-anak di usia sekolah, dan banyak sekali yang menyepelekan, apa caranya agar masyarakat khususnya anak-anak lebih memperhatikan etika dan moral dalam media sosial agar lebih baik? Narasumber Drs. Joni Hasri, S.Pd., M.PD. menanggapi bahwa dengan cara memberikan dan mengajak anak kita untuk belajar tentang moral dan etika yang baik terhadap bangsa ini dan bermedia sosial, selalu memberikan informasi yang positif dan selalu mengarahkan anak agak tidak melenceng di media digital, dan adanya kerja sama yang baik agar kita dapat mendidik anak kita menjadi gen z yang ber etika, selain itu ajak lah gen z tersebut ke arah kegiatan yang positif.

Pertanyaan ketiga dari Ainu Rahmah mengajukan pertanyaan ada beberapa orang yang mengalami perbedaan kepribadian antara dunia nyata dengan dunia Maya pak, dia di dunia nyata pendiam, kurang aktif bersosial, dan kurang peduli, namun di dunia Maya sangat aktif, melakukan berbagai aktivitas yang tidak dilakukan didunia maya, dan seakan peduli sekali. Itu bagaimana pak, apakah memang ada orang seperti itu dan harus dibiarkan atau perlu konsultasi mengenai mental dan keberaniannya mengenai didunia nyata? Narasumber Erfan Hasmin menanggapi bahwa kita sudah banyak temukan orang seperti ini, tetapi biasanya mereka dengan case seperti ini itu karena dia tidak merasa nyaman di dunia asli, maka dari itu mereka lebih nyaman dan berpercaya diri di dunia digital, mereka tidak ada masalah jika mereka selalu positif di dalam dunia digital dan tidak negatif. Sedangkan menurut narasumber Drs. Joni Hasri, S.Pd., M.PD. yaitu bahwa kenyataan hal demikian bahwa banyak sekali orang-orang seperti itu, karena disekolah kami banyak sekali seperti ini dan kami pernah mengalami kasus seperti ini sampai kita panggil orang tua nya, dan menurut saya perang orang tua sangat penting dirumah karena harus memerhatikan anaknya dan mengontrol secara efektif agar anak tidak akan seperti ini.

Sesi tanya jawab selesai. Moderator kembali memanggil Vean Mardhika Key Opinion Leader (KOL) yang menyampaikan tips dan trik untuk generasi Z dalam bermedia digital, Vean menyebut harus memiliki life balance untuk belajar dan bermain media sosial.

“Tidak terlalu lama dalam bermedia sosial dan jangan lupa untuk belajar, tidak takut gagal dalam mengembangkan potensi dan mengejar tujuan, serta dalam menyebarkan informasi harus disaring atau dicek terlebih dahulu kebenarannya sebelum disebar agar terhindar dari hoax,” ujarnya.

Setelah berbincang-bincang dengan para narasumber selesai, moderator dan Key Opinion Leader Vean Mardhika mengumumkan tujuh pemenang lainnya yang berhasil mendapatkan voucher e-money sebesar Rp. 100.000. Moderator mengucapkan terima kasih kepada narasumber, Key Opinion Leader (KOL) dan seluruh peserta webinar. Pukul 16.00 WIB webinar literasi digital selesai, moderator menutup webinar dengan mengucapkan salam, terima kasih dan tagline Salam Literasi Indonesia Cakap Digital.

Kegiatan Literasi Digital Sektor Pendidikan di Provinsi Jambi merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga tahun 2024. Adapun Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan info literasi digital dapat diakses melalui website: literasidigital.id (https://literasidigital.id/) dan media sosial Instagram: @literasidigitalkominfo (https://www.instagram.com/literasidigitalkominfo/),  Facebook Page: Literasi Digital Kominfo/@literasidigitalkominfo (https://www.facebook.com/literasidigitalkominfo), Youtube: @literasidigitalkominfo (https://www.youtube.com/@literasidigitalkominfo).

Kontributor: Arif

Berita Terkait