Lambang Ormas Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI)
Klikwarta.com, Blitar - Ketika Galileo Gallilei memperkenalkan teleskop untuk kali pertama, terlebih saat Isaac Newton menerbitkan tulisannya tentang mekanika klasik di Journal Philoshophiae Naturalis Principia Mathematica, adalah sebuah penanda terpisahnya bidang ilmu perbintangan antara astrologi dan astronomi.
Meskipun secara etimologi keduanya memiliki akar yang sama, yakni astrologia; dan sama-sama menjadikan benda-benda langit sebagai bahan kajian, perbedaannya terletak pada astronomi mempelajari posisi, gerakan dan sifat benda-benda luar angkasa sedangkan astrologi mempelajari sekaligus mempercayai bahwa posisi, gerakan, dan sifat benda-benda luar angkasa berpengaruh terhadap nasib manusia yang ada di bumi. Dengan kata lain, astronomi merupakan teori yang mengajarkan bahwa matahari merupakan pusat dari sistem tata surya atau heliosentrik sedangkan astrologi menganggap bahwa bumi dan manusia adalah pusat dari alam semesta alias antroposemntrik.
Sebelum kedua bidang ilmu tersebut benar-benar terpisah, astrologia pernah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tepatnya oleh bangsa Asiria yang terletak di Mesopotamia Utara dan Sumer yang terletak di Mesopotamia Selatan.
Kemudian, bidang keilmuan ini disempurnakan oleh bangsa Kaldea yang ada di Babilonia dengan mengorganisir dan menstrukturkannya ke dalam anatomi keilmuan yang rigid dengan nama pulluku yang di kemudian hari kata ini diserap ke dalam bahasa Arab menjadi falak yang berararti garis edar benda langit.
Astrologia menjadi sistem keilmuan yang mendunia ketika Alexander The Great, yang selama menduduki tampuk kekuasaannya, tak henti-hentinya melancarkan kampanye militerke Asia Barat dan Mesir, Asia Tengah, dan Asia Selatan yang membuat Yunani terasimilasi dengan daerah taklukannya hingga periode helinistik dan bermunculanlah berbagai macam dan bentuk astrologi di berbagai negara seperti Western Astrology, Vedic Astrology, Chinese Astrology dan tak menutup kemungkinan Nusantara.
Jika dicermati lebih lanjut, jauh sebelum terpencahnya bidang keilmuan astrologi dan astronomi, Cina sudah membedakan antara Shio dan Nung Li (kalender tani), di Arab membedakan antara nujum dan falak, dan di Jawa membedakan antara Primbon dan Pranata Mangsa. Sehingga, gelagat perbedaan antara dua bidang keilmuan tersebut sudah terjadi sejak lama.
Primbon adalah pengetahuan tentang horoskop, kepribadian manusia berdasarkan tanggal lahir, tanda lahir di tubuh manusia, makna mimpi, ramalan jodoh, dan lain sebagainya. Sedangkan Pranata Mangsa adalah penanggalan yang berkaitan dengan musim, biasanya digunakan oleh kalangan petani dan nelayan.
Sebagai contoh, yang terkait dengan Pranata Mangsa; di dalam Serat Pakuwon dijelaskan bahwa ada empat musim di Nusantara: 1) Mangsa Mareng, sebuah musim dengan intensitas hujan yang mulai jarang, yang terjadi di bulan Kayu, Koso, Karo (Mei, Juni, Juli); 2) Mangsa Ketigo, atau musim kemarau, terjadi di bulan Ketigo, Kapat, Kelimo (Agustus, September, Oktober); 3) Mangsa Labuh, adalah awal musim penghujan di mana frekuensi hujannya masih sedikit dan jarang, terjadi di bulan Kanem, Kapitu, Kawolu (November, Desember, Januari); 4) Mangsa Rendheng, adalah musim penghujan yang intensitas dan frekuensi air hujannya sangat berlimpah, terjadi di bulan Kesongo, Kesepuluh, Apit Lemah (Februari, Maret, April).
Dengan kesadaran akan empat musim tersebut, ditambah dengan ilmu titen yang mereka miliki, para nelayan menjadi tahu bahwa Mangsa Rendheng adalah waktu yang sangat berbahaya jika digunakan untuk melaut. Pun dengan mangsa-mangsa yang lain, dengan cuaca seperti itu, atau intensitas air yang seperti itu, kira-kira hasil laut apa yang akan mereka peroleh.
Demikian halnya dengan petani, mereka harus menanam apa saat berada pada sebuah musim dengan ketersediaan air-sedang, atau dengan air yang hampir tidak ada cocoknya menanam apa, air yang jarang apa, dan air yang banyak sebaiknya digunakan untuk menanam apa dengan harapan, jika kearifan lokal masih dilestarikan, pasti masyarakat memiliki kesadaran ketahanan pangan atau konsep kedaulatan pangan seperti kelompok masyarakat Cigugur yang di Kuningan, Ciptagelar di Sukabumi, Kampung Naga di Tasikmalaya, dan Baduy Dalam di Banten.
Keempat kelompok masyarakat tersebut adalah contoh masyarakat yang hingga hari ini tidak pernah tersentuh oleh gejolak harga pangan yang fluktuatif, tidak pernah memiliki kasus kelaparan, atau busung lapar, apalagi mal-nutrisi. Dan yang paling penting, sistem ketahanan pangan yang mereka miliki tidak pernah bergantung dengan curah hujan, tidak masalah dengan ganasnya hama wereng, tidak terkait dengan ampuh dan tidaknya pestisida, dan mereka tidak berpengaruh dengan lancar dan tidaknya pasokan Bulog karena kebutuhan pangan sepenuhnya dipenuhi oleh tangan dan kaki mereka sendiri.
Tentu bukan sepenuhnya salah masyarakat jika kearifan lokal terhadap tradisi agrikultur semakin memudar, karena, bagaimanapun, kolonialisme-imperialisme Belanda dan Jepang membuat ajaran leluhur terputus ke generasi berikutnya. Kelompok masyarakat Cigugur, Ciptagelar, Kampung Naga, dan Baduy Dalam menjadi sangat beruntung karena menerapkan sitem isolir dari dunia luar yang membuat ajaran nenek moyang mereka masih terpelihara hingga hari ini. Sebagai gantinya, kita musti belajar kepada mereka untuk mengembalikan keadaran kedaulatan pangan melalui kearifan lokal yang dulu pernah diajarkan oleh leluhur kita.
Penulis : Fajar SH, Ketua Bidang Komunikasi Publik PPI (Perhimpunan Pergerakan Indonesia Pimcab Kabupaten Blitar)








