Koordinator Gaprindo Kabupaten Blitar Yasin Nuryahco
Klikwarta.com, Kabupaten Blitar - Peternak di Kabupaten Blitar yang tergabung di dalam Gerakan Peternak Rakyat Indonesia (Gaprindo) mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar, Pemprov Jatim hingga pemerintah pusat agar menciptakan stok pakan (jagung) dan pengelolaan pasca panen.
Koordinator Gaprindo Kabupaten Blitar Yasin Nurcahyo menjelaskan, permintaan peternak kepada pemerintah ini untuk mengatasi kondisi harga telur di pasaran yang mengalami penurunan.
Penurunan harga telur ini juga tidak lepas dari kondisi harga pakan yang mengalami kenaikan yang ia sinyalir masih belum adanya managemen stok dan pengelolaan pasca panen Jagung sebagai bahan pakan.
"Saat ini harga pakan jadi Rp 6.500 per kilogram, sedangkan harga Jagung Rp 5.700 hingga Rp 6.000 per kilogram. Sedangkan harga telur dari peternak hanya Rp 13.500 sampai Rp 14.500 per kilogram. Naiknya harga pakan ini karena harga jagung yang naik. Padahal jagung merupakan bahan pokok yang dalam pencampuran pakan pemakaiannya sampai 50 persen. Mahalnya harga pakan sangat membebani para peternak," ungkap Yasin.
Dikatakannya, diadakannya sistem Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada masyarakat saat pandemi Covid-19 dua tahun lebih terakhir, menyebabkan banyak sektor ekonomi lain seperti restoran, hotel, usaha katering dan usaha lain yang berkaitan sudah banyak yang tidak beroperasi.
Situasi demikian menurutnya ditambah dengan mahalnya biaya produksi yang membuat para peternak ayam menggadaikan surat-surat berharga untuk menutup kerugian.
"Masalah klasik Jagung seharusnya bisa diselesaikan dengan penciptaan manajemen stok dan pengelolaan cadangan pasca panen. Sehingga ketersediaan jagung tidak bergantung musim dan tidak diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar bebas. Perlu ada peran pemerintah untuk menciptakan keseimbangan permintaan dan pasokan," jelasnya.
Yasin menyarankan pemerintah mengurangi jumlah populasi untuk peternak besar dengan penuh kesadaran diri sendiri, supaya peternak rakyat bisa hidup kembali. Sebab, di Indonesia saat ini kebetulan belum ada regulasi ketataniagaan untuk industri ini.
"Jangan yang sudah besar terus menambah populasi ratusan hingga jutaan ekor sehingga mematikan peternak kecil atau rakyat yang memiliki 2.000 hingga 5.000 ekor dan sehari-hari kehidupannya tergantung pada berternak.
Terpisah, Kepala Bidang Bahan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Satoto Berbudi mengatakan terkait produksi jagung di Jatim terus mengalami peningkatan. Namun ia menambahkan petani jagung sebenarnya tidak memiliki nilai tawar.
"Para petani ini justru mengikuti harga pasar, misalnya jika ada perusahaan yang membeli dengan harga Rp 5000 maka akan dilepas, dilebihi Rp100 juga lepas. Jadi tidak punya nilai tawar," katanya.
Sementara Plt. Kepala Dinas Peternakan Jatim Mohammad Gunawan Saleh mengatakan turunnya harga telur di pasaran ini karena tidak terserapnya pasar akibat pandemi serta PPKM. Selain itu juga mahalnya harga pakan akibat naiknya harga jagung.
"Produksi telur pada Triwulan I tahun ini sebanyak 100.148.938 kilogram. Sedangkan Triwulan II meningkat menjadi 230.337.958 kilogram," tandas Gunawan.
(Pewarta : Faisal NR)








