Menteri Kebudayaan Fadli Zon
Klikwarta.com, Bandung, 5 Juli 2026 – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, meninjau Museum Pos Indonesia yang berada di Jalan Cilaki, Kota Bandung, Jumat (3/7/2026). Turut mendampingi, Direktur Komersial PT Pos Indonesia (Persero) Fahdel Akbar, beserta jajaran manajemen PT Pos Indonesia.
Fadli Zon menilai, Museum Pos Indonesia memiliki nilai sejarah yang sangat penting karena berada di Gedung Pos yang telah berdiri lebih dari satu abad dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kota. Menurutnya, bangunan tersebut layak ditingkatkan statusnya menjadi cagar budaya nasional.
"Saya kira ini sangat pantas menjadi cagar budaya nasional. Bangunan ini usianya sudah lebih dari 100 tahun dan menjadi bagian penting dari sejarah bangsa," ujar Fadli Zon.
Selain itu, dia mendorong agar penataan Museum Pos Indonesia terus ditingkatkan sehingga koleksi-koleksi bersejarah dapat dipamerkan secara lebih representatif dan mudah dinikmati masyarakat.
Menurut Menteri, berbagai peralatan pos, prangko, surat, hingga perlengkapan pengiriman dari berbagai era merupakan bagian dari perjalanan sejarah Indonesia yang perlu dikenalkan kepada generasi muda. Dia menilai peran Pos Indonesia tidak hanya sebagai penyedia layanan komunikasi, tetapi juga menjadi saksi perjalanan bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan.
Menteri Kebudayaan juga mengajak Pos Indonesia untuk kembali membudayakan tradisi menulis surat, khususnya di kalangan pelajar. Menurutnya, menulis surat dengan tulisan tangan mampu membangun ekspresi, kreativitas, serta kedekatan emosional yang tidak tergantikan oleh teknologi digital.
Dia mencontohkan keberhasilan lomba menulis surat kepada pahlawan yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan pada tahun lalu. Dalam waktu satu bulan, kegiatan tersebut berhasil menghimpun sekitar 34.000 surat dari siswa SD, SMP, SMA hingga mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Seluruh surat ditulis di atas kertas, dimasukkan ke dalam amplop, ditempeli prangko, kemudian dikirim melalui layanan Pos Indonesia. Bahkan, jumlah surat yang diterima mencapai sekitar 20 kontainer plastik.
Dia menilai tingginya antusiasme tersebut membuktikan bahwa budaya berkirim surat masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Dia juga mengingatkan bahwa prangko dan filateli hingga kini tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya dunia yang memiliki banyak kolektor serta rutin dipamerkan dalam berbagai ajang internasional.
Sementara itu, Direktur Komersial PT Pos Indonesia (Persero), Fahdel Akbar menyambut baik perhatian Kementerian Kebudayaan terhadap Museum Pos Indonesia. Menurutnya, Pos Indonesia berkomitmen menjaga dan melestarikan warisan sejarah perusahaan sebagai bagian dari sejarah perjalanan bangsa.
"Pos Indonesia menyambut baik dukungan Kementerian Kebudayaan dalam upaya pelestarian Museum Pos Indonesia. Kami berkomitmen untuk terus merawat, mengembangkan, dan menghadirkan museum ini sebagai ruang edukasi yang menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar semakin mengenal sejarah komunikasi dan perjalanan Pos Indonesia dalam membangun negeri," ujar Fahdel Akbar.
Dia menambahkan, Pos Indonesia juga akan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan program-program edukatif yang mampu menghidupkan kembali budaya literasi, termasuk melalui aktivitas berkirim surat, filateli, serta pemanfaatan aset-aset bersejarah sebagai media pembelajaran bagi masyarakat.
Diketahui, Museum Pos Indonesia merupakan salah satu museum sejarah komunikasi tertua di Indonesia yang berada di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, berdampingan dengan Gedung Sate. Gedung Pos ini dibangun pada masa kolonial Belanda dan telah berusia lebih dari satu abad, sehingga menjadi bagian dari bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Museum ini menyimpan ribuan koleksi yang menggambarkan perjalanan layanan pos dan komunikasi di Indonesia, mulai dari masa Hindia Belanda, era perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan layanan pos di era modern. Koleksinya meliputi prangko dari berbagai periode, mesin stempel, kotak surat, timbangan pos, peralatan sortir surat, kendaraan operasional, seragam pegawai pos, dokumen bersejarah, hingga berbagai perangkat telekomunikasi yang pernah digunakan di Indonesia.
Salah satu daya tarik utama museum adalah koleksi filateli yang merekam berbagai peristiwa penting dalam sejarah bangsa melalui penerbitan prangko. Prangko-prangko tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran jasa pos, tetapi juga menjadi media dokumentasi sejarah, kebudayaan, tokoh nasional, flora dan fauna, serta berbagai pencapaian Indonesia di mata dunia.
(Kontributor : Arif)








