Diantara Kabut dan Kapur Tulis, Kisah Semangat Seorang Guru di Desa Terpencil

Minggu, 18/05/2025 - 20:30
Potret seorang guru mengajar disebuah desa terpencil

Potret seorang guru mengajar disebuah desa terpencil

Klikwarta.com - Kabut pagi yang belum sepenuhnya menghilang ketika langkah kaki menyusuri jalan setapak yang licin oleh embun. Dipunggungnya tergantung tas tua berisi buku tulis,kapur dan termos kecil berisi air hangat. Bukan menuju kota bukan pula menuju gedung sekolah megah melainkan sebuah sekolah kecil dilereng bukit tempat belasan anak menunggu dengan senyum lebar dan mata penuh harap.

Sekolah dengan dinding kayu, atapnya yang berkarat dan lantainya berupa tanah. Tidak ada papan tulis putih tang bersih melainkan selembar papan tripleks tua yang mulai terlupas. Meja dan kursi dibuat dari kayu bekas yang dipaku sendiri. Tidak ada jaringan internet, listrik kadang hidup kadang mati. Tempat itu adalah ruang paling berharga dalam hidupnya ruang untuk menyalakan api belajar.

Setiap hari, berjalan kaki sejauh empat kilometer dari rumah menuju sekolah. Menyeberangi sungai kecil tanpa akses jalan ( Jembatan ), menapaki bukit yang curam dan melintasi ladang warga. Suatu hari, hujan deras menumbangkan pohon besar ditengah jalan. tak bisa pulang terpaksa bermalam disekolah, tidur diatas tikar dari pinjaman warga. Besok paginya saat anak anak datang, ia tetap mengajar dengan tersenyum hangat. "Kalau saya tak datang, siapa yang mengajar mereka?" Begitu ucapnya suatu ketika pada warga.

Gajinya kecil, kadang terlambat datang tetapi ia tetap membeli buku pelajaran dari uang sendiri. Anak anak datang kesekolah tanpa sepatu beberapa tanpa sarapan namun mereka tetap datang. Duduk bersila dilantai, menulis dibuku bekas dan menyimak setiap penjelasan dengan mata yang berbinar.

Pernah suatu hari, seorang siswa kecil memberinya secarik kertas lusuh. Di dalamnya tertulis dengan tulis tangan yang belum rapi.

"Bu Guru, kalau besar saya mau jadi seperti ibu, biar anak lain juga sekolah"  seorang siswa yang menangis diam-diam dihari itu, dibelakang sekolah memandang hamparan kabut yang menutupi lembah. Saat itulah ia tau, lelahnya tak sia-sia.

Tak berharap banyak, tak meminta pangkat, plakat atau gelar kehormatan. Hanya ingin sekolah kecil itu tetap hidup. Ia ingin anak anak bisa membaca dunia yang lebih luas dan kalau suatu saat langkahnya tak lagi kuat, berharap akan ada guru lain yang melanjutkan.

Ketika matahari mulai mencondong ke barat, anak anak menyanyikan lagu nasional dengan suara lantang yang menggema dibukit sunyi itu. Disana, diantara kabut dan kesunyian seorang guru terus menyalakan cahaya. Satu huruf demi huruf, saru harapan demi harapan, karena baginya pendidikan bukan hanya soal pelajaran tetapi soal keyakinan bahwa harapan bisa tumbuh dari tempat yang paling jauh sekalipun.

Tags

Berita Terkait