Jalan terendam banjir, Minggu (19/4)
Klikwarta.com, Bogor - Banjir kembali merendam wilayah Cirimekar, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Minggu (19/4/2026).
Menjadi bukti nyata bahwa persoalan banjir di kawasan tersebut belum pernah ditangani secara serius dan tuntas. Setiap hujan deras turun, warga seolah dipaksa menerima kenyataan pahit. Jalan berubah menjadi sungai, rumah terancam terendam, dan aktivitas lumpuh tanpa kepastian solusi.
Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Cibinong sejak sore hingga malam hari membuat air kembali meluap di Jalan Cirimekar, tepatnya di sekitar Kantor Kecamatan Cibinong.
Ironisnya, titik banjir itu berada di pusat kawasan pemerintahan yang seharusnya menjadi contoh penataan wilayah dan respons cepat terhadap persoalan masyarakat. Namun yang terjadi justru sebaliknya, genangan air terus berulang tanpa perubahan berarti.
Air yang menggenangi jalan bukan sekadar menghambat lalu lintas, tetapi juga menjadi jebakan bagi pengendara.
Sejumlah sepeda motor dilaporkan mogok saat nekat menerobos banjir. Di beberapa titik, ketinggian air mencapai betis orang dewasa, menandakan buruknya kapasitas saluran drainase dalam menampung debit air hujan.
Bagi warga Cirimekar, banjir bukan lagi bencana musiman, melainkan rutinitas yang melelahkan. Setiap hujan turun, rasa waswas langsung muncul.
Mereka khawatir air masuk ke rumah, perabot rusak, kendaraan terendam, hingga ancaman penyakit akibat lingkungan yang kotor dan lembab.
“Kalau hujan deras, sudah pasti banjir. Airnya lama surut, kadang sampai masuk rumah. Kami capek, tapi mau bagaimana lagi,” ujar salah seorang warga dengan nada kecewa.
Keluhan warga tersebut menggambarkan akumulasi kekecewaan atas persoalan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Banyak warga menilai akar masalah terletak pada sistem drainase yang buruk, saluran air tersumbat, sedimentasi yang dibiarkan, serta minimnya penataan kawasan. Tanpa pembenahan menyeluruh, banjir hanya akan terus datang setiap musim hujan.
Yang lebih memprihatinkan, hingga kini belum terlihat langkah konkret dan berkelanjutan dari pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Penanganan yang bersifat sementara dinilai tidak cukup, karena warga membutuhkan solusi permanen, bukan sekadar respons sesaat setelah banjir datang.
Banjir Cirimekar seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Jika kawasan yang berada di sekitar pusat pemerintahan saja masih terus tenggelam saat hujan deras, maka publik patut mempertanyakan sejauh mana keseriusan penanganan banjir di wilayah lain.
Warga kini hanya berharap satu hal sederhana, hujan turun tanpa harus disertai kecemasan rumah mereka kembali kebanjiran.
(Kontributor : Arif)








